Sidang Kasus Kerusuhan 21-22 Mei, Mahasiswa Didakwa Sebar Ujaran Kebencian ke Grup Kampus

Kompas.com - 14/08/2019, 19:40 WIB
Kondisi sidang kerusuhan 21-22 Mei di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019). KOMPAS.com/CYNTHIA LOVAKondisi sidang kerusuhan 21-22 Mei di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019).
Penulis Cynthia Lova
|


JAKARTA, KOMPAS.com - Ahmad Abdul Syukur (24), satu dari 12 orang yang menjalani sidang hari ini di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, didakwa menyebar kebencian atau permusuhan karena telah mengirim pesan yang berbau sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) ke akun grup Whatsapp-nya.

Ahmad Abdul Syukur diketahui adalah mahasiswa simpatisan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang ikut dalam aksi 21-22 Mei.

"Terdakwa yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA)," ujar Jaksa Penuntut Umum, Yoklina Sitepu saat membacakan dakwaannya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019).

Jaksa Penuntut Umum Yoklina Sitepu mengatakan, ada pesan ujaran kebencian yang dikirimkan Abdul berkali-kali.


Baca juga: Sidang Kasus Kerusuhan 21-22 Mei di PN Jakpus, 12 Tersangka Akan Hadapi Dakwaan

Pesan ujaran kebencian mahasiswa dari universitas swasta di Jakarta Barat ini dikirim ke anggota grup kampusnya.

Pesan ujaran kebencian itu disampaikan Abdul pada tanggal 21 Mei 2019. Isinya adalah "buat apa bos sekolah tinggi-tinggi ketika rakyat ditindas/dizolimi kita cuma diam. Keadilan mana lagi yang kita tegakkan. Di negara, kita cuma seperti sampah yang sudah tidak ada harganya lagi mending almamater kita simpen dilemari baik-baik,".

Kemudian pada tanggal 22 Mei 2019, Abdul mengirim pesan isinya, "Mahasiswa jangan diam liat ini, ini lebih parah dari jaman Suharto,".

Selain menyebar ujaran kebencian, Abdul juga didakwa ikut melakukan kekerasan terhadap aparat (polisi) yang berjaga saat kerusuhan 21-22 Mei.

Ia juga didakwa ikut melempar batu, botol aqua yang berisi air kepada petugas kepolisian yang sedang melakukan pengamanan di depan Kantor Bawaslu.

Selain itu, Abdul juga didakwa ikut merusak fasilitas publik dengan membakar pos polisi yang ada di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, membakar pembatas jalan, dan juga membakar tong sampah di kawasan itu.

Baca juga: Cerita Teman Sekuriti Sarinah yang Ditangkap karena Dianggap Bantu Perusuh 21-22 Mei

Abdul didakwa melanggar Pasal Pasal 28 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi atas perubahan Undang-Undang No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 45 Ayat 2 Undang-undang No 19 tahun 2016 atas perubahan Undang-Undang No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 56 ayat 2 KUHP.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X