Polisi Tangkap Pemalsu Dokumen Negara, Beroperasi Selama 8 Tahun

Kompas.com - 19/09/2019, 16:43 WIB
Polisi menangkap seorang tersangka berinisial HMY yang biasa memalsukan dokumen negara seperti ijazah, SIM, KTP, dan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS). Foto diambil saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (19/9/2019). KOMPAS.COM/RINDI NURIS VELAROSDELAPolisi menangkap seorang tersangka berinisial HMY yang biasa memalsukan dokumen negara seperti ijazah, SIM, KTP, dan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS). Foto diambil saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (19/9/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Polisi menangkap seorang tersangka berinisial HMY yang biasa memalsukan dokumen negara seperti ijazah, SIM, KTP, dan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS).

Dir Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Suyudi Ario Seto mengatakan, HMY ditangkap di toko percetakan di kawasan Jakarta Pusat pada 28 Agustus 2019.

Pengungkapan kasus pemalsuan dokumen negara tersebut merupakan pengembangan penyidikan kasus mafia properti.

"Dokumen pemerintahan yang dipalsukan adalah sertifikat, SIM, STNK, ijazah, bahkan ada KITAS palsu, dokumen-dokumen perbankan dan surat perijinan daerah dan kota di Indonesia," kata Suyudi dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (19/9/2019).


Suyudi mengatakan, toko percetakan milik HMY digunakan untuk memproduksi dokumen palsu sejak tahun 2011.

Dalam melakukan aksinya, tersangka hanya menerima order dari pelanggannya.

Kemudian, pelanggan dan tersangka akan bertemu di suatu tempat yang telah dijanjikan.

"(Pemesan dan tersangka) melakukan transaksi di tempat yang disepakati. Ada juga kesepakatan harga untuk pembuatan sertifikat palsu. Selama 2011 sampai 2019 enggak pernah tertangkap karena dia licin dalam melakukan transaksi di tempat yang berbeda-beda," ujar Suyudi.

Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kompol M Gafur Siregar mengatakan, tersangka menjual dokumen palsu senilai Rp 10 juta- Rp 15 juta.

Tersangka mempelajari teknik pemalsuan dokumen secara otodidak.

"Kalau pendidikan secara bangku sekolah tidak ada. Kalau dibilang bisa menggunakan komputer, ya dia bisa menggunakan komputer. (Membuat dokumen palsu) secara otodidak, yang jelas dia terampil," ujar Gafur.

Saat ini, polisi tengah memburu satu orang DPO berinisial DD yang membantu pemalsuan dokumen tersebut.

Adapun, tersangka HMY dijerat Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 263 KUHP Jo Pasal 55 KUHP dan Pasal 56 KUHP. Ancaman hukumannya adalah enam tahun penjara.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PKS: Syaikhu Siap Tinggalkan DPR Setelah Ditetapkan Jadi Cawagub DKI

PKS: Syaikhu Siap Tinggalkan DPR Setelah Ditetapkan Jadi Cawagub DKI

Megapolitan
Pemasangan Foto Presiden dan Wakil Presiden di Kelurahan dan Kecamatan Jakarta Pusat Rampung Pekan Ini

Pemasangan Foto Presiden dan Wakil Presiden di Kelurahan dan Kecamatan Jakarta Pusat Rampung Pekan Ini

Megapolitan
Warga Keluhkan Suhu Udara Jakarta hingga 37 Derajat Celcius

Warga Keluhkan Suhu Udara Jakarta hingga 37 Derajat Celcius

Megapolitan
Belum Pasang Foto Jokowi-Ma'ruf, Pemkot Jakarta Timur Tunggu Instruksi Pusat

Belum Pasang Foto Jokowi-Ma'ruf, Pemkot Jakarta Timur Tunggu Instruksi Pusat

Megapolitan
Wakil Walkot Jakpus Akui Ada Kelurahan yang Belum Pasang Foto Presiden dan Wapres

Wakil Walkot Jakpus Akui Ada Kelurahan yang Belum Pasang Foto Presiden dan Wapres

Megapolitan
Setelah PDI-P dan PKB, Benyamin Davnie Juga Daftar Bakal Calon Walkot Tangsel ke PPP

Setelah PDI-P dan PKB, Benyamin Davnie Juga Daftar Bakal Calon Walkot Tangsel ke PPP

Megapolitan
Polda Metro Jaya Tegaskan Kasus Ninoy Karundeng Bukan Rekayasa

Polda Metro Jaya Tegaskan Kasus Ninoy Karundeng Bukan Rekayasa

Megapolitan
Satpol PP Razia Indekost di Kalideres

Satpol PP Razia Indekost di Kalideres

Megapolitan
Suhu Jakarta Panas, Warga Diimbau Tidak Bakar Sampah

Suhu Jakarta Panas, Warga Diimbau Tidak Bakar Sampah

Megapolitan
Tolak Prabowo Masuk Kabinet, Aktivis 98: Masih Banyak Relawan Jokowi yang Cocok Jadi Menteri

Tolak Prabowo Masuk Kabinet, Aktivis 98: Masih Banyak Relawan Jokowi yang Cocok Jadi Menteri

Megapolitan
Maju Pilkada Tangsel 2020, Siti Nur Azizah Mengaku Tak Ingin Manfaatkan Ma'ruf Amin

Maju Pilkada Tangsel 2020, Siti Nur Azizah Mengaku Tak Ingin Manfaatkan Ma'ruf Amin

Megapolitan
Gelar 7 Pertunjukan Kebudayaan, Pemprov DKI Ubah Wajah Jakarta

Gelar 7 Pertunjukan Kebudayaan, Pemprov DKI Ubah Wajah Jakarta

Megapolitan
Ceceran Semen Tumpah di Jalan Raya Gempol, Pengendara Diimbau Hati-hati

Ceceran Semen Tumpah di Jalan Raya Gempol, Pengendara Diimbau Hati-hati

Megapolitan
Sembilan Tahun Bekerja sebagai ART, ABA Kerap Disiksa Majikan dan Tak Terima Gaji

Sembilan Tahun Bekerja sebagai ART, ABA Kerap Disiksa Majikan dan Tak Terima Gaji

Megapolitan
Tiupan Angin Kencang, Atap Dapur Rumah di Mampang Roboh

Tiupan Angin Kencang, Atap Dapur Rumah di Mampang Roboh

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X