Disdik Akan Usulkan Renovasi Bangunan SDN Malangnengah II Tangerang yang Roboh

Kompas.com - 13/11/2019, 09:36 WIB
Atap bangunan Sekolah Dasar Negeri Malangnengah II, Pegedangan,  Kabupaten Tangerang, roboh. Diduga robohnya bangunan tiga kelas karena intensitas hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut KOMPAS.com/Muhamad Isa BustomiAtap bangunan Sekolah Dasar Negeri Malangnengah II, Pegedangan, Kabupaten Tangerang, roboh. Diduga robohnya bangunan tiga kelas karena intensitas hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Tangerang Saifullah ambil sikap terkait robohnya atap bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Malangnengah II, Pagedangan, Kabupaten Tangerang.

Dia akan mengusulkan kepada Dinas Tata Ruang dan Bangunan untuk merenovasi sekolah yang memiliki jumlah 200 siswa tersebut.

"Insya Allah dengan melihat lahan kami akan mengusulkan kepada Dinas Tata Ruang merealisasikan dan menindaklanjuti kondisi ini dan insya Allah segera disikapi," kata Saifullah saat tinjau lokasi, Selasa (12/11/2019).


Menurut Saifullah, ia juga akan mengusulkan untuk menambah jumlah kelas dengan bangunan dua lantai karena kondisi lahan sekolah yang cukup luas dan tingginya kebutuhan masyarakat akan pendidikan.

Baca juga: Bangunan SD yang Roboh di Tangerang Pernah Dua Kali Direnovasi

"Bangunan dua lantai. Karena melihat kondisi lahan tidak mungkin satu lantai. Sementara kebutuhan masyarakat untuk pendidikan sangat besar," ucapnya.

Selain bangunan yang roboh, Saifullah juga akan mengusulkan kelas lain yang saat kondisinya saat ini memprihatinkan untuk diperbaiki.

"Sama, akan disamaratakan. Tapi tidak setahun bareng. Tadi kan saya bilang ada 759 lembaga sekolah, kalau bareng semua kan bingung, bergantian sesuai pagu (anggaran) yang ada,"katanya.

Sebelumnya, atap bangunan sekolah SDN Malangnengah II, Pagedangan, Kabupaten Tangerang yang dijadikan tiga ruang kelas, roboh.

Diduga robohnya atap karena intensitas hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut selama dua hari, pada pekan lalu. Sehingga membuat kontruksi bangunan tersebut rapuh dan mudah ambruk.

Namun, di tengah kondisi tersebut, proses belajar mengajar siswa tetap berlangsung dengan terbagi dalam dua sesi, pagi dan siang hari.

Baca juga: Putar Otak Belajar di Sekolah Beratap Roboh, Siswa Gunakan Kelas Bergantian...

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sekda DKI Pastikan Anggota TGUPP yang Rangkap Jabatan Akan Diberhentikan

Sekda DKI Pastikan Anggota TGUPP yang Rangkap Jabatan Akan Diberhentikan

Megapolitan
Kepada Polisi, Ibu di Kedoya Mengaku Tak Tahu Bayi Berusia 40 Hari Belum Bisa Mencerna Pisang

Kepada Polisi, Ibu di Kedoya Mengaku Tak Tahu Bayi Berusia 40 Hari Belum Bisa Mencerna Pisang

Megapolitan
Warga Kampung Mampangan Depok Temukan Ular Sanca 3 Meter di Bantaran Kali

Warga Kampung Mampangan Depok Temukan Ular Sanca 3 Meter di Bantaran Kali

Megapolitan
Anggaran TGUPP Dipangkas untuk 50 Orang, Fraksi PDI-P Anggap Masih Terlalu Banyak

Anggaran TGUPP Dipangkas untuk 50 Orang, Fraksi PDI-P Anggap Masih Terlalu Banyak

Megapolitan
Pemprov DKI Anggarkan Rp 170 Miliar untuk Revitalisasi Terminal Kampung Rambutan

Pemprov DKI Anggarkan Rp 170 Miliar untuk Revitalisasi Terminal Kampung Rambutan

Megapolitan
Jualan di Bahu Jalan, PKL Senen Merasa Tak Ganggu Lalu Lintas

Jualan di Bahu Jalan, PKL Senen Merasa Tak Ganggu Lalu Lintas

Megapolitan
Bayi Berusia 40 Hari di Kedoya Meninggal karena Tersedak Pisang yang Diberikan Ibunya

Bayi Berusia 40 Hari di Kedoya Meninggal karena Tersedak Pisang yang Diberikan Ibunya

Megapolitan
DPRD DKI Terbelah Soal TGUPP, PDI-P dan PSI Menolak, Gerindra dan PAN Mendukung

DPRD DKI Terbelah Soal TGUPP, PDI-P dan PSI Menolak, Gerindra dan PAN Mendukung

Megapolitan
Diusulkan untuk Gaji 67 Anggota, Anggaran TGUPP Dipangkas Hanya Buat 50 Orang

Diusulkan untuk Gaji 67 Anggota, Anggaran TGUPP Dipangkas Hanya Buat 50 Orang

Megapolitan
PKL Senen Akan Direlokasi, Pemkot Jakpus Diminta Sosialisasi ke Masyarakat

PKL Senen Akan Direlokasi, Pemkot Jakpus Diminta Sosialisasi ke Masyarakat

Megapolitan
Ada Permainan Tradisional Betawi dan Area Outbond di Taman Tomang Rawa Kepa

Ada Permainan Tradisional Betawi dan Area Outbond di Taman Tomang Rawa Kepa

Megapolitan
Perusahaan Patungan PT KAI dan PT MRT Jakarta Bertugas Kelola Kawasan Transit hingga Tiketing

Perusahaan Patungan PT KAI dan PT MRT Jakarta Bertugas Kelola Kawasan Transit hingga Tiketing

Megapolitan
Dishub Sebut Penutupan Lay Bay Stasiun Bekasi oleh PT KAI Tanpa Kajian Matang

Dishub Sebut Penutupan Lay Bay Stasiun Bekasi oleh PT KAI Tanpa Kajian Matang

Megapolitan
Sidang Eksepsi Kasus 'Ikan Asin' Akan Digelar Tahun Depan

Sidang Eksepsi Kasus "Ikan Asin" Akan Digelar Tahun Depan

Megapolitan
Lay Bay Ditutup, Angkot dan Ojol Bakal Dilarang Ngetem di Depan Stasiun Bekasi?

Lay Bay Ditutup, Angkot dan Ojol Bakal Dilarang Ngetem di Depan Stasiun Bekasi?

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X