Bima Arya Optimistis Konflik GKI Yasmin Selesai di Periode Kepemimpinannya

Kompas.com - 24/12/2019, 17:10 WIB
Protes penyegelan GKI Yasmin pada Januari 2012 di depan Istana Presiden, Jakarta. dok BBC IndonesiaProtes penyegelan GKI Yasmin pada Januari 2012 di depan Istana Presiden, Jakarta.

BOGOR, KOMPAS.com - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto optimistis konflik persoalan pendirian tempat ibadah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin akan selesai di periode kedua kepemimpinannya.

Bima mengungkapkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus berupaya menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama belasan tahun itu.

Menurut dia, ada perkembangan signifikan dalam penyelesaian kasus intoleransi tersebut.


"Kita sepakat tidak lagi fokus pada perdebatan masa lalu yang akan menghambat proses penyelesaian.  Proses masa lalu diganti proses masa depan. Karena bertahun-tahun kita berdebat soal persepktif hukum masa lalu," ucap Bima, Selasa (24/12/2019).

Baca juga: Komnas HAM Sebut Dukungan Masyarakat akan Pembangunan GKI Yasmin Meluas

Saat ini, kata Bima, telah terbangun kesepahaman persepsi dari pihak-pihak yang terlibat bahwa penyelesaian masalah harus berorientasi ke depan.

Ia mengakui konflik selama 16 tahun itu menjadi batu ganjalan bagi Pemkot Bogor.

Untuk menyelesaikan masalah itu, sambung Bima, telah dibentuk tim khusus bernama Tim Tujuh.

Tim yang beranggotakan tujuh orang itu bertugas melakukan pembahasan untuk mencari penyelesaian masalah tersebut.

"Pembahasan selama setahun terakhir dilakukan oleh tim ini secara rutin. Mereka melakukan analisa terkait situasi yang sedang berkembang, untuk menemukan rekomendasi penyelesaian yang bisa diterima oleh semua pihak,” mata Bima.

Sementara itu, perwakilan dari Komnas HAM Muhammad Choerul Anam mengapresiasi dan mendukung Pemkot Bogor dalam penyelesaian masalah tersebut.

Anam mendorong, agar penyelesaian dilakukan dengan cara berdialog.

Baca juga: Menunggu Janji Bima Arya Selesaikan Polemik GKI Yasmin...

"Kita dukung Pemkot dan GKI Yasmin untuk menemukan jalan terbaik. Kasus ini sudah terjadi dan tinggal cari jalan terbaiknya, Komnas HAM memohon kepada Pemkot, GKI, MUI, masyarakat untuk mendukung semua upaya membangun harmoni di Kota Bogor," kata Anam.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

 Fraksi PKS: Nurmansjah 12 Tahun Jadi Auditor, 10 Tahun Anggota Dewan, Pas dengan Anies

Fraksi PKS: Nurmansjah 12 Tahun Jadi Auditor, 10 Tahun Anggota Dewan, Pas dengan Anies

Megapolitan
Fakta Pengungkapan Klinik Psikotropika, Pemilik Tak Punya Izin, Jutaan Butir Akan Dijual

Fakta Pengungkapan Klinik Psikotropika, Pemilik Tak Punya Izin, Jutaan Butir Akan Dijual

Megapolitan
Hujan Deras Sabtu Dini Hari, 10 RT di DKI Tergenang

Hujan Deras Sabtu Dini Hari, 10 RT di DKI Tergenang

Megapolitan
Aksi 212 Berantas Korupsi, Dijaga Ribuan Polisi dan Selesai Tepat Waktu

Aksi 212 Berantas Korupsi, Dijaga Ribuan Polisi dan Selesai Tepat Waktu

Megapolitan
Kabar Terbaru Zat Radioaktif di Tangsel, Mengontaminasi Dua Warga Batan Indah

Kabar Terbaru Zat Radioaktif di Tangsel, Mengontaminasi Dua Warga Batan Indah

Megapolitan
Robohnya Atap SMKN 24: Antara Cuaca Buruk dan Indikasi Kecurangan Saat Direhab

Robohnya Atap SMKN 24: Antara Cuaca Buruk dan Indikasi Kecurangan Saat Direhab

Megapolitan
BMKG: Jakarta Diprediksi Turun Hujan Lokal Sore Ini

BMKG: Jakarta Diprediksi Turun Hujan Lokal Sore Ini

Megapolitan
Kritik Formula E di Monas, Ikatan Arsitek: Mereka Enggak Peduli soal Kesakralan

Kritik Formula E di Monas, Ikatan Arsitek: Mereka Enggak Peduli soal Kesakralan

Megapolitan
Minta Bayaran Rp 450.000 Setelah Antar 3 Penumpang, 3 Tukang Ojek Ditangkap Polisi

Minta Bayaran Rp 450.000 Setelah Antar 3 Penumpang, 3 Tukang Ojek Ditangkap Polisi

Megapolitan
Remaja yang Diduga Diperkosa Oknum PNS Papua Minta Perlindungan LPSK

Remaja yang Diduga Diperkosa Oknum PNS Papua Minta Perlindungan LPSK

Megapolitan
50 Kg Ganja di Dalam Bus di Tangerang Milik Dua Napi

50 Kg Ganja di Dalam Bus di Tangerang Milik Dua Napi

Megapolitan
Riset Sebut Ciliwung Masuk Sungai Terkotor di Dunia, Ini Komentar Pemprov DKI

Riset Sebut Ciliwung Masuk Sungai Terkotor di Dunia, Ini Komentar Pemprov DKI

Megapolitan
Anggota Komisi E DPRD Dorong Kasus Robohnya Atap SMKN 24 Jaktim Dibawa ke Jalur Hukum

Anggota Komisi E DPRD Dorong Kasus Robohnya Atap SMKN 24 Jaktim Dibawa ke Jalur Hukum

Megapolitan
Diduga Korsleting Listrik, Rumah Dua Lantai di Duren Sawit Terbakar

Diduga Korsleting Listrik, Rumah Dua Lantai di Duren Sawit Terbakar

Megapolitan
Ini Efek jika Sembarangan Mengkonsumsi Psikotropika Trihexyphenidyl

Ini Efek jika Sembarangan Mengkonsumsi Psikotropika Trihexyphenidyl

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X