Lonjakan Kasus Aktif Covid-19 dan Kebijakan "Jam Malam" di Depok

Kompas.com - 01/09/2020, 05:24 WIB
Grafik kasus aktif/jumlah pasien Covid-19 yang sedang ditangani di Depok selama bulan Juli dan Agustus 2020. Pada bulan Agustus, kasus aktif Covid-19 di Depok mengalami lonjakan signifikan (merah). KOMPAS.COM/VITORIO MANTALEANGrafik kasus aktif/jumlah pasien Covid-19 yang sedang ditangani di Depok selama bulan Juli dan Agustus 2020. Pada bulan Agustus, kasus aktif Covid-19 di Depok mengalami lonjakan signifikan (merah).

DEPOK, KOMPAS.com – Kota Depok hingga kini masih berstatus sebagai wilayah dengan total laporan kasus positif Covid-19 tertinggi di Jawa Barat, berdasarkan laman resmi masing-masing pemerintah kota/kabupaten maupun situs pikobar.jabarprov.go.id.

Hingga data diperbarui kemarin, Senin (31/8/2020), total ada 2.210 kasus positif Covid-19 yang sudah dilaporkan Pemerintah Kota Depok.

Sebanyak 1.539 orang di antaranya dinyatakan pulih, sedangkan 77 pasien meninggal dunia.

Saat ini ada 594 kasus aktif di Depok. Kasus aktif merupakan jumlah pasien yang sedang ditangani.

Bulan ini, jumlah kasus aktif rupanya mengalami peningkatan ketimbang bulan-bulan sebelumnya:

  • 30 Juni: 213 kasus aktif
  • 31 Juli: 202 kasus aktif
  • 31 Agustus: 594 kasus aktif

Sayangnya, tidak diketahui lonjakan ini akibat penularan yang semakin membahayakan atau deteksi yang semakin masif.

Baca juga: UPDATE 31 Agustus Depok: Tambah 58 Kasus, 594 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Sebab, Pemerintah Kota Depok tak pernah terbuka dalam mengumumkan jumlah tes PCR harian.

Berdasarkan data harian yang dilaporkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan dihimpun oleh Kompas.com, mari kita simak tren perkembangan kasus aktif Covid-19 di Depok dalam 4 periode:

1-31 Juli 2020: stabil dan angka terendah selama pandemi

Pada periode ini, grafik kasus aktif Covid-19 di Depok fluktuatif, namun cenderung stabil.

Mengawali Juli dengan 203 kasus aktif Covid-19, pada akhir bulan jumlah itu merosot menjadi 202 kasus.

Dalam perjalanannya, kasus aktif Covid-19 sempat meninggi hingga 211 pasien, namun juga pernah mencapai titik terendah, yakni 159 pasien pada 15 Juli 2020.

Jumlah 159 pasien Covid-19 menjadi angka kasus aktif terendah sejak PSBB berlaku di Depok.

1-10 Agustus 2020: pasien bertambah lebih dari separuh

Jumlah pasien Covid-19 yang ditangani per hari mulai membengkak begitu memasuki bulan Agustus.

Baca juga: Depok Berlaku Jam Malam, Bagaimana Pegawai yang Pulang Malam?

Diawali dengan jumlah 220 pasien, kasus aktif Covid-19 di Depok meningkat menjadi 334 pasien pada 10 Agustus 2020.

Itu artinya, jumlah kasus aktif Covid-19 di Depok naik 52 persen selama 10 hari. Kenaikan ini tak terlepas dari banyaknya temuan kasus baru, sedangkan pasien yang dinyatakan pulih lebih sedikit.

Selama periode ini, Pemerintah Kota Depok melaporkan 224 kasus baru, namun jumlah pasien sembuh tak sampai separuhnya, yakni 105 orang.

Selain itu, ada 5 pasien yang meninggal dunia.

11-20 Agustus 2020, lonjakan tertinggi

Periode ini merupakan kurun waktu ketika jumlah pasien Covid-19 di Depok meningkat tajam.

Pada 11 Agustus, ada 332 kasus aktif di Depok. Selama 10 hari, kasus aktif bertambah hingga 207 pasien atau 62 persen. Sehingga, pada 20 Agustus, jumlahnya menjadi 539 kasus aktif.

Itu artinya, dalam periode ini, jumlah kasus aktif di Depok sudah melampaui puncak gelombang pertama pada 26 Mei 2020. Saat itu, jumlah 383 kasus aktif sempat jadi rekor tertinggi.

Grafik kasus positif Covid-19 di Depok menunjukkan kota tersebut tengah mengalami gelombang kedua pandemi virus corona pada bulan Agustus 2020.KOMPAS.COM/VITORIO MANTALEAN Grafik kasus positif Covid-19 di Depok menunjukkan kota tersebut tengah mengalami gelombang kedua pandemi virus corona pada bulan Agustus 2020.

Tingginya kenaikan kasus aktif disumbang oleh temuan kasus baru yang mencapai 339 pasien selama periode ini.

Sementara itu, jumlah pasien yang dinyatakan pulih hanya 125 orang dan 7 pasien positif Covid-19 wafat selama kurun waktu tersebut.

21-31 Agustus 2020: mencapai puncak, kematian tinggi

Meski telah melampaui puncak gelombang pertama, jumlah kasus aktif di Depok masih terus merangkak naik.

Puncaknya terjadi pada 24 Agustus 2020, ketika pasien Covid-19 di Depok sempat mencapai 617 orang.

Baca juga: Rancunya Duduk Perkara Hajatan yang Dihadiri Banyak Orang di Depok, Pemkot Klaim Tak Beri Izin Tertulis

Pada periode ini, dua kali Kota Depok mencatat rekor temuan kasus baru terbanyak sepanjang riwayat pandemi.

Rekor pertama, yakni 53 kasus baru pada 22 Agustus, kemudian 58 kasus baru pada 31 Agustus.

Juga pada periode ini, sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Depok terkonfirmasi positif Covid-19, termasuk istri wali kota, Elly Farida.

Setelah mencapai 617 kasus, jumlah pasien di Depok cenderung merosot dan kini dalam keadaan stagnan.

Penyebabnya, tingkat kesembuhan kembali membaik. Selama rentang 11 hari, ada 305 pasien yang dinyatakan sembuh.

Akan tetapi, pada periode ini tingkat kematian memburuk karena bertambah cukup pesat.

Jika pada periode pertama kematian pasien Covid-19 maksimum 7 orang, pada periode ini ada 15 pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia.

Mengapa kenaikan kasus aktif Covid-19 merupakan alarm?

Tingginya jumlah pasien Covid-19 di suatu wilayah dikhawatirkan akan membebani kemampuan fasilitas kesehatan.

Semakin banyak pasien, maka semakin banyak sumber daya dan tenaga kesehatan yang perlu dikerahkan untuk memantau, menangani, dan merawat mereka.

Berdasarkan data Pusat Informasi Covid-19 Depok, kapasitas 24 rumah sakit yang ada guna merawat pasien Covid-19 hanya 244 tempat tidur. Data tersebut diterima Kompas.com pada pertengahan Agustus 2020.

Dibandingkan dengan jumlah 594 kasus aktif saat ini, angka tersebut terlihat mengkhawatirkan.

Akan tetapi, perlu digarisbawahi, tak seluruh pasien Covid-19 di Depok dirawat di rumah sakit. Rumah sakit diprioritaskan buat menangani pasien yang bergejala.

Sebagian pasien yang tidak bergejala melakukan isolasi mandiri di kediaman masing-masing. Apabila tidak memungkinkan, mereka kemudian dirawat di rumah sakit.

Meski demikian, hingga kini tidak diketahui seberapa penuh rumah sakit di Depok sehubungan dengan lonjakan jumlah pasien.

Pemerintah Kota Depok tidak merilis jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit maupun isolasi mandiri.

Hingga berita ini disusun, permintaan wawancara Kompas.com kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok sejak kemarin siang, tidak ditanggapi oleh juru bicara gugus tugas, Dadang Wihana.

Langkah pemerintah 

Wali Kota Depok, Mohammad Idris mengklaim, peningkatan kasus aktif Covid-19 di wilayahnya disumbang oleh kasus-kasus yang berasal dari luar Depok alias kasus impor.

Selama 2 pekan pada pertengahan Agustus 2020, kasus impor dari tempat kerja disebut menyumbang sekitar 70 persen temuan kasus baru.

Sisanya adalah penularan secara lokal, umumnya di wilayah tempat tinggal.

Kini 47 dari total 63 kelurahan di Depok masuk kategori kelurahan zona merah karena masing-masing mencatat lebih dari 5 kasus aktif Covid-19.

Menyadari kasus Covid-19 yang meninggi, Pemerintah Kota Depok mengklaim mulai menggencarkan tes swab PCR mulai pekan terakhir Agustus.

Targetnya, ada 355 spesimen per hari yang diperiksa demi mengejar standar minimal yang ditetapkan WHO (meskipun WHO menetapkan standar jumlah tes PCR dengan satuan orang, bukan spesimen karena satu orang bisa berulang kali dites).

“Tes swab massal (diprioritaskan) pada kasus kontak erat, suspek, dan sasaran prioritas lainnya yang ditetapkan,” ujar Wali Kota Depok, Mohammad Idris melalui keterangan resmi, kemarin.

Namun, karena ketiadaan transparansi data, tidak diketahui sejauh mana realisasi jumlah tes swab massal tersebut, apakah telah mencapai target atau belum.

Idris juga menerbitkan beberapa kebijakan yang harapannya dapat dipatuhi warga. Salah satunya, yakni surat edaran berupa daftar protokol yang perlu dilakukan ketika pulang ke rumah.

Ia kemudian mengaktifkan kembali Kampung Siaga Covid-19 di 925 RW dengan guyuran dana Rp 2 juta per RW.

Kampung Siaga diharapkan mampu melakukan pendataan lokasi kerja warga, mengawasi keluar-masuk tamu, dan menjadi pemantau di tingkat paling lokal.

Sementara itu, dengan harapan menekan penularan wabah di wilayah tempat tinggal, Idris mulai kemarin memberlakukan kebijakan “pembatasan aktivitas warga” yang menyerupai jam malam.

Melalui kebijakan anyar tersebut, toko, supermarket, minimarket, rumah makan, kafe, dan mal tutup pukul 18.00 WIB. Di luar itu, aktivitas warga hanya diizinkan hingga 20.00 WIB.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terus Melonjak, 1.360 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta

Terus Melonjak, 1.360 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta

Megapolitan
Untuk Pelaku UMKM, Ini Stimulus Pemprov DKI Jakarta yang Perlu Kalian Tahu

Untuk Pelaku UMKM, Ini Stimulus Pemprov DKI Jakarta yang Perlu Kalian Tahu

Megapolitan
2.407 Warga Depok Masih Positif Covid-19, Terbanyak Selama Pandemi

2.407 Warga Depok Masih Positif Covid-19, Terbanyak Selama Pandemi

Megapolitan
Daftar 18 Artis yang Terjerat Narkoba dan Psikotropika Sepanjang 2020

Daftar 18 Artis yang Terjerat Narkoba dan Psikotropika Sepanjang 2020

Megapolitan
Meski di Tengah Pandmi, KPU Tangsel Targetkan Pemilih Mencapai 77 Persen

Meski di Tengah Pandmi, KPU Tangsel Targetkan Pemilih Mencapai 77 Persen

Megapolitan
Pilkada Depok: Ini Ucapan Imam Budi yang Dianggap Afifah Alia Melecehkan

Pilkada Depok: Ini Ucapan Imam Budi yang Dianggap Afifah Alia Melecehkan

Megapolitan
Cekcok karena Perempuan, Pria di Tangerang Tewas Ditusuk

Cekcok karena Perempuan, Pria di Tangerang Tewas Ditusuk

Megapolitan
Anies Baswedan Jadi Wakil Ketua Komite Pengarah C40 Cities Bersama Gubernur Tokyo

Anies Baswedan Jadi Wakil Ketua Komite Pengarah C40 Cities Bersama Gubernur Tokyo

Megapolitan
Ketua DPRD DKI: Kenaikan Anggaran karena Tambahan Kegiatan

Ketua DPRD DKI: Kenaikan Anggaran karena Tambahan Kegiatan

Megapolitan
Ditangkap Terkait Sabu, Mantan Artis Cilik IBS Masih Syok

Ditangkap Terkait Sabu, Mantan Artis Cilik IBS Masih Syok

Megapolitan
Polisi: Mantan Artis Cilik Iyut Bing Slamet Beli Sabu dari Seseorang di Johar Baru

Polisi: Mantan Artis Cilik Iyut Bing Slamet Beli Sabu dari Seseorang di Johar Baru

Megapolitan
Ditangkap Terkait Narkoba, Mantan Artis Cilik IBS Gunakan Sabu Sejak 2004

Ditangkap Terkait Narkoba, Mantan Artis Cilik IBS Gunakan Sabu Sejak 2004

Megapolitan
Jangan Panik, Warga Diingatkan Segera Selamatkan Dokumen dan Cabut Aliran Listrik Saat Banjir

Jangan Panik, Warga Diingatkan Segera Selamatkan Dokumen dan Cabut Aliran Listrik Saat Banjir

Megapolitan
5 Gereja yang Berperan dalam Penyebaran Kristen di Batavia

5 Gereja yang Berperan dalam Penyebaran Kristen di Batavia

Megapolitan
Rizieq Shihab Diperiksa Polisi Senin Depan, FPI Ingatkan Simpatisan Tak Datangi Polda Metro

Rizieq Shihab Diperiksa Polisi Senin Depan, FPI Ingatkan Simpatisan Tak Datangi Polda Metro

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X