Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masjid Istiqlal, Harapan Umat Islam yang Terwujud Setelah Kemerdekaan

Kompas.com - 22/02/2021, 07:25 WIB
Singgih Wiryono,
Irfan Maullana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Masjid Istiqlal tak bisa dilepaskan dengan makna kemerdekaan. Istiqlal berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti kemerdekaan dalam bahasa Indonesia.

Dalam buku yang ditulis Solichin Salam berjudul "Masjid Istiqlal Sebuah Monumen Kemerdekaan", sebelum Indonesia merdeka, tepatnya di masa pemerintahan Kolonial Belanda, umat Islam di Jakarta memiliki harapan untuk bisa membangun sebuah masjid agung di tengah-tengah kota Batavia.

"Karena di waktu itu pada umumnya masjid-masjid hanya terdapat di kampung-kampung, dan itupun berbentuk kecil serta sangat sederhana," tulis Solichin.

Baca juga: Peringati Milad Masjid Istiqlal ke-43, Sinarmas Wakafkan 3.000 Al-Quran

Tidak ada satupun masjid yang dinilai berada di tempat strategis di tengah kota Batavia. Namun, angan-angan tersebut hanya sekadar menjadi angan-angan belaka.

Pemerintahan Hindia Belanda tidak memberikan kesempatan berdirinya sebuah sebuah masjid di tengah-tengah kota Batavia.

Beralih pada masa pemerintahan Jepang menduduki kota Batavia, beberapa tokoh umat Islam sempat berharap agar angan-angan pembangunan masjid agung bisa terwujud.

Baca juga: Tak Hanya Simbol Kerukunan, Ini Fungsi Terowongan Silaturahim Masjid Istiqlal-Gereja Katedral

"Sekitar tahun 1944, beberapa ulama dan tokoh Islam berkumpul di rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi 56 Gedung Perintis Kemerdekaan) Jakarta," tulis Solichin.

Para tokoh Islam mengajak Soekarno yang dikenal sebagai tokoh pergerakan pribumi saat itu mendirikan sebuah masjid agung yang bisa menampung banyak jamaah di tengah kota Jakarta.

Meski belum merdeka, Soekarno merasa ide tersebut perlu untuk diwujudkan. Namun, ada keinginan Soekarno yang akhirnya harus membuat rencana tersebut tertunda

Sebab, Soekarno meminta agar ide masjid besar tersebut tidak hanya didirikan menggunakan kayu dan genteng yang mudah roboh dan lapuk, tetapi dibangun dengan arsitektur megah menggunakan besi dan beton agar terlihat gagah dan tahan selama ratusan tahun.

"Ide Bung Karno ini baik sekali, akan tetapi sulit dilaksanakan, karena selain masih dalam masa penjajahan, juga kemampuan umat Islam sendiri tidak memungkinkan."

Ide pembangunan masjid agung kemudian kembali tertunda, pertemuan berakhir hanya di sebuah kertas catatan, tanpa ada rencana pembangunan masjid agung yang diinginkan umat Islam Jakarta.

Harapan setelah kemerdekaan

Berselang setahun dari perbincangan tokoh-tokoh Islam dengan Soekarno, kemerdekaan Republik Indonesia resmi diproklamasikan. Angan-angan berdirinya masjid agung di tengah kota Jakarta kembali dimunculkan.

Ide membangun masjid agung tersebut kembali dibicarakan lima tahun setelah kemerdekaan, tepatnya di tahun 1950.

Ide kembali diangkat oleh Menteri Agama saat itu KH Wahid Hasyim yang saat ini dikenal sebagai ayah dari Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Berniat Melanjutkan Studi ke Filipina, Ratusan Calon Mahasiswa S3 Malah Kena Tipu Puluhan Juta Rupiah

Berniat Melanjutkan Studi ke Filipina, Ratusan Calon Mahasiswa S3 Malah Kena Tipu Puluhan Juta Rupiah

Megapolitan
MRT Lanjut sampai Tangsel, Wali Kota Benyamin: Diharapkan Segera Terealisasi

MRT Lanjut sampai Tangsel, Wali Kota Benyamin: Diharapkan Segera Terealisasi

Megapolitan
Teka-teki Perempuan Ditemukan Tewas di Pulau Pari: Berwajah Hancur, Diduga Dibunuh

Teka-teki Perempuan Ditemukan Tewas di Pulau Pari: Berwajah Hancur, Diduga Dibunuh

Megapolitan
Tragedi Kebakaran Maut di Mampang dan Kisah Pilu Keluarga Korban Tewas...

Tragedi Kebakaran Maut di Mampang dan Kisah Pilu Keluarga Korban Tewas...

Megapolitan
Nasib Jesika Jadi Korban Kebakaran Toko di Mampang, Baru 2 Hari Injakkan Kaki di Jakarta

Nasib Jesika Jadi Korban Kebakaran Toko di Mampang, Baru 2 Hari Injakkan Kaki di Jakarta

Megapolitan
Kejati DKI Belum Terima Berkas Perkara Firli Bahuri Terkait Dugaan Pemerasan terhadap SYL

Kejati DKI Belum Terima Berkas Perkara Firli Bahuri Terkait Dugaan Pemerasan terhadap SYL

Megapolitan
Belajar dari Kasus Sopir Fortuner Arogan, Jangan Takut dengan Mobil Berpelat Dinas...

Belajar dari Kasus Sopir Fortuner Arogan, Jangan Takut dengan Mobil Berpelat Dinas...

Megapolitan
7 Jenazah Korban Kebakaran Toko Bingkai 'Saudara Frame' di Mampang Telah Dipulangkan

7 Jenazah Korban Kebakaran Toko Bingkai "Saudara Frame" di Mampang Telah Dipulangkan

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] 7 Orang Tewas Terjebak Kebakaran Toko Saudara Frame | Serba-serbi Warung Madura yang Jarang Diketahui

[POPULER JABODETABEK] 7 Orang Tewas Terjebak Kebakaran Toko Saudara Frame | Serba-serbi Warung Madura yang Jarang Diketahui

Megapolitan
3 dari 7 Korban Kebakaran Toko Bingkai 'Saudara Frame' di Mampang adalah ART

3 dari 7 Korban Kebakaran Toko Bingkai "Saudara Frame" di Mampang adalah ART

Megapolitan
Staf Khusus Bupati Kediri Ikut Daftar Bakal Calon Wali Kota Bogor Lewat PDI-P

Staf Khusus Bupati Kediri Ikut Daftar Bakal Calon Wali Kota Bogor Lewat PDI-P

Megapolitan
4 dari 7 Korban Kebakaran Toko Bingkai di Mampang adalah Satu Keluarga

4 dari 7 Korban Kebakaran Toko Bingkai di Mampang adalah Satu Keluarga

Megapolitan
Tangkap Komplotan Pencuri yang Beraksi di Pesanggrahan, Polisi Sita 9 Motor

Tangkap Komplotan Pencuri yang Beraksi di Pesanggrahan, Polisi Sita 9 Motor

Megapolitan
Alami Luka Bakar Hampir 100 Persen, 7 Jenazah Korban Kebakaran 'Saudara Frame' Bisa Diidentifikasi Lewat Gigi

Alami Luka Bakar Hampir 100 Persen, 7 Jenazah Korban Kebakaran "Saudara Frame" Bisa Diidentifikasi Lewat Gigi

Megapolitan
Melawan Saat Ditangkap, Salah Satu Komplotan Pencuri Motor di Pesanggrahan Ditembak Polisi

Melawan Saat Ditangkap, Salah Satu Komplotan Pencuri Motor di Pesanggrahan Ditembak Polisi

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com