Satu Tahun Pandemi Covid-19, Duka Tukang Gali Kubur yang Harus Pulang Malam

Kompas.com - 02/03/2021, 17:59 WIB
Petugas memasang nisan di makam pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Rabu (22/4/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan dua tempat pemakaman umum (TPU) untuk memakamkan pasien terjangkit virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni di TPU Tegal Alur di Jakarta Barat dan TPU Pondok Ranggon di Jakarta Timur. Jenazah yang dapat dimakamkan di sana, yakni yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) dan berstatus positif terjangkit virus corona. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas memasang nisan di makam pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Rabu (22/4/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan dua tempat pemakaman umum (TPU) untuk memakamkan pasien terjangkit virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni di TPU Tegal Alur di Jakarta Barat dan TPU Pondok Ranggon di Jakarta Timur. Jenazah yang dapat dimakamkan di sana, yakni yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) dan berstatus positif terjangkit virus corona.

JAKARTA, KOMPAS.com - Saun (54) telah menggeluti profesi sebagai tukang gali kubur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur selama delapan tahun.

Namun, ia mengaku pengalaman terberatnya menjalani profesi ini adalah pada masa pandemi Covid-19.

"Selama delapan tahun jadi gali kubur, paling berat pas Covid-19 ini,"

Di awal masa pandemi, ia mengaku harus melakukan berbagai penyesuaian prosedur pemakaman.

"Iya kan baru, ya kaget lah, tapi ya sudah kita jalani saja apa yang disuruh. Namanya pekerjaan kita," ungkapnya.

Baca juga: Setahun Pandemi, Ketika Covid-19 Diduga Sudah Ada di Jakarta Sejak Januari

Selain balok dan tambang yang sudah biasa digunakannya, pada masa pandemi Covid-19 Saun menambah satu buah perlengkapan saat memakamkan jenazah, yakni alat pelindung diri (APD).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Nah, pakai APD itu panas banget. Apalagi kalau lagi siang gitu gerah. Mau dicopot, eh ada jenazah lagi yang datang," jelasnya.

Sehak awal bertugas di pagi hari, Saun sudah harus memakai APD lengkap.

Meski panas menerpa, APD tak boleh lepas dari tubuhnya.

Pulang larut malam

Sejak datang ke TPU Tegal Alur di pagi hari, antrean ambulans sudah didapati Saun.

"Itu ya, kita belum datang, ambulans udah bejejer," ungkap Saun.

Tak berhenti di situ, waktu pulang kerja Saun pun harus molor.

Sebelum pandemi Covid-19, Saun bisa kembali ke rumah sekitar pukul 17.30 WIB.

"Pas pandemi, sampai jam sepuluh sebelas malam masih ada jenazah, ya harus dijalani," jelasnya.

Baca juga: Kisah Zein Makamkan 456 Jenazah Covid-19, Pernah Gali Kubur Sendirian karena Rekannya Takut

Terkadang, jenazah pun tak datang tepat pada jadwal yang telah ditentukan, sehingga ia dan rekannya harus menunggu.

"Kadang kita nunggu lama, keluarganya masih pada cekcok di rumah sakit, ya itu kita nunggu sampai malem," jelasnya.

Tak sempat istirahat

Banyaknya jumlah jenazah yang harus dimakamkan juga membuatnya kehilangan waktu beristirahat.

"Sulit mau istirahat waktu kerja itu, enggak bisa ngaso, enggak bisa istirahat dulu waktu habis ngemakamin satu," ucapnya.

Padahal, terdapat delapan tim yang bekerja dalam satu harinya.

Baca juga: Wakil Ketua DPRD DKI Desak agar Dana Insentif untuk Tukang Gali Kubur Segera Dicairkan

Di mana, satu tim terdiri dari empat orang, dan bekerja secara bergantian.

"Padahal tim itu di-rolling. Tetap hampir keteter. Apalagi kalau enggak di-rolling tuh bisa ada yang pingsan," katanya.

Kini, Saun mengaku pekerjaannya tak seberat pertengahan hingga akhir 2020.

Pasalnya, sudah ada makam lain yang menampung jenazah terkait Covid-19.

Namun, masa pandemi Covid-19 tetap akan diingatnya sebagai periode terberatnya selama menjadi tukang gali kubur.

"Masyarakat ya harusnya taat sama aturannya, biar pandemi ini cepat kelar. Ya kita berharap saja ya, cepat selesai pandemi ini. Mudah-mudahan saja," tutupnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dua Buaya Peliharaan di Kemayoran Diamankan, Pemiliknya Menangis Saat Evakuasi

Dua Buaya Peliharaan di Kemayoran Diamankan, Pemiliknya Menangis Saat Evakuasi

Megapolitan
Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua di Tangsel Baru 51,3 Persen dari Target

Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua di Tangsel Baru 51,3 Persen dari Target

Megapolitan
Taman Margasatwa Ragunan Dibuka, Pengelola Terapkan Screening Berlapis Lewat Aplikasi PeduliLindungi

Taman Margasatwa Ragunan Dibuka, Pengelola Terapkan Screening Berlapis Lewat Aplikasi PeduliLindungi

Megapolitan
Hendak Selundupkan Sabu di Pesawat, Seorang Pria di Kota Tangerang Ditangkap Polisi

Hendak Selundupkan Sabu di Pesawat, Seorang Pria di Kota Tangerang Ditangkap Polisi

Megapolitan
Ajak Kerja Sama Antardaerah, Anies: Indonesia Terlalu Besar untuk Bekerja Sendiri-sendiri

Ajak Kerja Sama Antardaerah, Anies: Indonesia Terlalu Besar untuk Bekerja Sendiri-sendiri

Megapolitan
UPDATE 21 Oktober: Bertambah 7 Kasus Baru Covid-19 di Tangsel

UPDATE 21 Oktober: Bertambah 7 Kasus Baru Covid-19 di Tangsel

Megapolitan
TransJakarta Buka Kembali Empat Rute Layanan

TransJakarta Buka Kembali Empat Rute Layanan

Megapolitan
Sebelum Ditangkap, Tiga Pengedar di Bekasi Sudah Jual 60 Kilogram Ganja

Sebelum Ditangkap, Tiga Pengedar di Bekasi Sudah Jual 60 Kilogram Ganja

Megapolitan
Pemprov DKI Kirim Surat ke Kedubes RI di Turki Terkait Rencana Penamaan Jalan Ataturk

Pemprov DKI Kirim Surat ke Kedubes RI di Turki Terkait Rencana Penamaan Jalan Ataturk

Megapolitan
Memasuki Musim Hujan, PUPR Kota Tangerang Normalisasi Drainase hingga Sungai

Memasuki Musim Hujan, PUPR Kota Tangerang Normalisasi Drainase hingga Sungai

Megapolitan
Antisipasi Banjir di Kemang, Kelurahan Bangka Pastikan Pompa Air Berfungsi Baik

Antisipasi Banjir di Kemang, Kelurahan Bangka Pastikan Pompa Air Berfungsi Baik

Megapolitan
Pemprov DKI: Kita Akan Hidup Berdampingan dengan Covid-19, Bukan Berdamai

Pemprov DKI: Kita Akan Hidup Berdampingan dengan Covid-19, Bukan Berdamai

Megapolitan
Banting Mahasiswa hingga Kejang, Brigadir NP Dimutasi jadi Bintara Tanpa Jabatan

Banting Mahasiswa hingga Kejang, Brigadir NP Dimutasi jadi Bintara Tanpa Jabatan

Megapolitan
Taman Margasatwa Ragunan Kembali Dibuka, Hanya 15.000 Orang yang Bisa Masuk

Taman Margasatwa Ragunan Kembali Dibuka, Hanya 15.000 Orang yang Bisa Masuk

Megapolitan
Bocah 13 Tahun Diduga Diperkosa Berkali-kali hingga Hamil Dua Bulan

Bocah 13 Tahun Diduga Diperkosa Berkali-kali hingga Hamil Dua Bulan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.