Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejumlah Bangunan di Rawajati Dibongkar Usai Pemilik Terima Kompensasi Pembebasan Lahan

Kompas.com - 03/11/2022, 12:41 WIB
Muhammad Isa Bustomi,
Irfan Maullana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembongkaran sejumlah bangunan rumah yang berada di RT 02, 03, 04 dan 05 RW 07 Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, telah berlangsung.

Eksekusi dilakukan setelah pemilik bangunan dan tanah menerima biaya kompensasi dari pemerintah soal pembebasan lahan untuk normalisasi Kali Ciliwung.

Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, Kamis (3/11/2022), tampak dinding-dinding rumah yang telah kosong mulai dihancurkan alat berat.

Baca juga: Normalisasi Sungai Berlanjut, 50 Bidang Lahan di Rawajati Sudah Dibebaskan

Sejumlah rumah yang dihancurkan lokasinya tak jauh dengan Kali Ciliwung. Jaraknya hanya dua hingga tiga meter dari dolken kayu yang menjadi pembatas antara rumah warga dan Kali Ciliwung.

Tampak puing-puing bangunan rumah itu ada uang diangkut menggunakan truk dan juga diratakan dengan tanah.

"Rumah yang dibongkar ini rumah yang sudah terima uang atau kompensasi. Orang-orangnya sudah pada pindah," kata Astri (45), salah satu warga di lokasi.

Baca juga: Pemprov DKI Bebaskan 57 Bidang Tanah di Rawajati untuk Normalisasi Kali Ciliwung

Di sisi lain, masih terdapat beberapa rumah yang masih tegak berdiri. Bahkan rumah itu juga masih ditempati.

Berdasarkan pengakuan warga, rumah yang tidak dibongkar karena pemiliknya belum menerima uang atau kompensasi.

"Ya masih berdiri belum menerima uang. Jadi masih tinggal di sini. Katanya sih masalah surat-surat," kata Astri.

Sebelumnya, Ketua RW 07 Rawajati, Sari Budi Handayani mengatakan, ada 63 bidang tanah yang terkena pembebasan lahan dari program normalisasi Kali Ciliwung.

Baca juga: Mandek di Era Anies, Normalisasi Ciliwung Kini Jadi Prioritas Heru Budi Tahun Depan

Dari total bidang tanah itu, 40 di antaranya sudah terima pembayaran sesuai harga appraisal. Sedangkan pemilik rumah lain belum menerima pembayaran.

Warga RW 07 Rawajati yang belum menerima pembayaran atas pembebasan lahan tersebut sebelumnya menjalani musyawarah dengan Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Pada pertemuan tersebut, pemilik lahan atau bidang dijanjikan akan menerima uang ganti untung seperti hal warga yang memiliki sertifikat.

Hanya saja nominal yang dijanjikan berbeda dari orang yang memiliki surat tanda kepemilikan tanah dan bangunan.

"Mereka ikhlas menerima ada perbedaan nilai nominal dari yang sertifikat dan non-sertifikat, selisih sekitar Rp 3 jutaan. Tapi sampai saat ini belum ada kejelasannya. Mereka bilang sedang dikaji Undang-Undang soal payung hukum," kata Sari.  

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pendukung Tak Ingin Anies Duet dengan Kaesang, Pengamat: Bentuk Penegasan Mereka Anti Jokowi

Pendukung Tak Ingin Anies Duet dengan Kaesang, Pengamat: Bentuk Penegasan Mereka Anti Jokowi

Megapolitan
Sudah Bayar Rp 250.000 Per Bulan, Air Warga Perumahan Subsidi Jokowi di Cikarang Sering Kotor dan Berbau

Sudah Bayar Rp 250.000 Per Bulan, Air Warga Perumahan Subsidi Jokowi di Cikarang Sering Kotor dan Berbau

Megapolitan
Pilu Ibu di Bogor, Kini Hanya Duduk di Kursi Roda karena Kerusakan Otak Usai Operasi Caesar

Pilu Ibu di Bogor, Kini Hanya Duduk di Kursi Roda karena Kerusakan Otak Usai Operasi Caesar

Megapolitan
Seniman Minta Disediakan Taman Khusus untuk Menggambar Grafiti

Seniman Minta Disediakan Taman Khusus untuk Menggambar Grafiti

Megapolitan
Suramnya Kondisi Rumah Subsidi Jokowi di Cikarang, Terbengkalai seperti Kota Mati hingga Jadi Tempat Mesum

Suramnya Kondisi Rumah Subsidi Jokowi di Cikarang, Terbengkalai seperti Kota Mati hingga Jadi Tempat Mesum

Megapolitan
Diusung Jadi Calon Wakil Wali Kota Tangsel 2024, Marshel Widianto Otomatis Jadi Kader Gerindra

Diusung Jadi Calon Wakil Wali Kota Tangsel 2024, Marshel Widianto Otomatis Jadi Kader Gerindra

Megapolitan
Grafiti Masih Dianggap Ilegal, Seniman Sulit Mendapatkan Ruang

Grafiti Masih Dianggap Ilegal, Seniman Sulit Mendapatkan Ruang

Megapolitan
'Grafiti Sudah kayak Obat buat Saya...'

"Grafiti Sudah kayak Obat buat Saya..."

Megapolitan
Saat Grafiti Menjadi Penolong Masa Depan Fermul...

Saat Grafiti Menjadi Penolong Masa Depan Fermul...

Megapolitan
Jadwal dan Lokasi Samsat Keliling di Jakarta 21 Juni 2024

Jadwal dan Lokasi Samsat Keliling di Jakarta 21 Juni 2024

Megapolitan
Daftar Lokasi SIM Keliling di Jakarta 21 Juni 2024

Daftar Lokasi SIM Keliling di Jakarta 21 Juni 2024

Megapolitan
Kualitas Udara Jakarta pada Jumat Pagi Masih Tidak Sehat

Kualitas Udara Jakarta pada Jumat Pagi Masih Tidak Sehat

Megapolitan
Paman yang Cabuli Kakak Adik di Depok Ditetapkan sebagai Tersangka

Paman yang Cabuli Kakak Adik di Depok Ditetapkan sebagai Tersangka

Megapolitan
Gerindra Usung Marshel Widianto jadi Calon Wakil Wali Kota Pilkada Tangsel 2024

Gerindra Usung Marshel Widianto jadi Calon Wakil Wali Kota Pilkada Tangsel 2024

Megapolitan
Presiden Jokowi Ultah Ke-63, Relawan Potong Tumpeng di Tugu Kujang Bogor

Presiden Jokowi Ultah Ke-63, Relawan Potong Tumpeng di Tugu Kujang Bogor

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com