Betulkah Ahok Menang dan Agus Kalah? - Kompas.com

Betulkah Ahok Menang dan Agus Kalah?

Heru Margianto
Kompas.com - 16/02/2017, 14:37 WIB
KOMPAS.com/ Garry Andrew Lotulung Calon gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dan calon gubernur DKI Jakarta, Agus Harimurti Yudhoyono, bersalaman di lokasi pengundian nomor urut cagub-cawagub, di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (25/10/2016).

KOMPAS.com — Hasil hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei dalam Pilkada DKI Jakarta menunjukkan bahwa pasangan nomor pemilihan 2, Ahok-Djarot, mendulang suara paling banyak, yaitu sekitar 43 persen. Sementara itu, calon nomor pemilihan 1, Agus-Sylvi, berada di urutan paling buncit, yaitu sekitar 17 persen.

Karena tidak ada yang mencapai 50 persen plus 1, Pilkada DKI kemungkinan bakal dilanjutkan dengan putaran kedua antara Ahok-Djarot dan Anies-Sandi yang berhasil mendulang suara sekitar 39 persen. Kepastiannya, tentu kita tunggu hasil akhir penghitungan suara yang dilakukan KPU DKI Jakarta.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita memaknai angka-angka itu? Apakah angka-angka itu bisa kita maknai secara sederhana sebagai Ahok menang dan Agus kalah? Tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Seorang kawan saya berseru dengan girang, "Ahok menang. Bayangkan, dihajar isu penistaan agama, menjadi terdakwa, didesak, ditahan, dan dipenjarakan, didemo '7 juta orang', dikafir-kafirkan, elektabilitasnya pernah melorot jauh di bawah Agus, tetapi bisa jadi nomor 1 di putaran pertama."

Salah? Tidak juga. Faktanya memang demikian.

Seorang kawan saya yang lain melihat dengan cara yang berbeda. Baginya, Ahok kalah telak karena tak mampu menang dalam satu putaran.

Ahok, yang dulu begitu digdaya mampu mengumpulkan 1 juta data KTP, lalu maju dalam pilkada dengan dukungan partai-partai besar dan selebritas yang berlimpah, ternyata tidak mampu meraup suara 50 persen plus 1.

Salah? Tidak. Faktanya memang begitu.

Ada juga yang memaknai angka-angka perolehan suara pada putaran pertama menunjukkan bahwa mayoritas warga Jakarta tidak menginginkan Ahok-Djarot kembali memimpin kota ini.

Perhitungannya sederhana, mereka yang tidak memilih Ahok, yaitu mereka yang memilih Agus-Sylvi dan Anies-Sandi, total suaranya mencapai sekitar 56 persen.

Salah? Tidak. Faktanya total suara yang tidak memilih Ahok-Djarot jika diakumulasikan memang lebih banyak.

Lalu, mana yang benar dari pandangan-pandangan itu? Tergantung apa isi kepala dan ego Anda memaknai angka-angka itu. Kebenaran tidak terletak pada angka-angka tersebut, tetapi pada pikiran dan preferensi ego pemaknanya.

Agus

Tentang Agus, apakah ia betul kalah pada putaran pertama? Secara faktual, Agus memang tereliminasi dan tak mampu melaju ke putaran kedua. Mereka yang jengah melihat "ke-baperan" Pepo bersorak girang.

Angka perolehan suara Agus memang bisa dimaknai sebagai kekalahan jika dibanding dengan perolehan suara Ahok-Djarot atau Anies-Sandiaga. Namun, angka itu juga bisa dimaknai sebagai kemenangan.

Bayangkan, seorang "anak bawang" yang keluar dari tentara dengan pangkat mayor mampu mendulang suara hingga 17 persen. Angka yang tidak kecil untuk ukuran bersaing dengan tokoh politik senior, seperti Ahok-Djarot, yang notabene adalah petahana dengan segala catatan keberhasilan perubahan Jakarta, serta Anies yang mantan menteri dengan catatan kiprah aktivitas sosialnya, dan Sandiaga, seorang pengusaha sukses.

Pandangan yang tidak sepakat dengan signifikansi angka 17 persen milik Agus akan mengatakan, "... tetapi kan Agus anak SBY". Suaranya terdongkrak karena pamor bapaknya yang pernah jadi presiden selama dua periode.

Betul, Agus memang anak SBY. Namun, adakah klan SBY lain akan mampu memperoleh suara sebesar itu jika maju dalam Pilkada DKI Jakarta berhadapan dengan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi?

Terdongkraknya popularitas Agus adalah kemenangan Agus, SBY, dan Partai Demokrat-nya. Agus mendapat panggung yang sempurna untuk menunjukkan dirinya. Ia terbukti mampu memesona publik dengan capaian angka 17 persen. Pilkada DKI Jakarta menggaungkan namanya secara nasional.

Partai Demokrat yang terkoyak-koyak oleh berbagai kasus korupsi yang dilakukan kader-kader utamanya, seperti Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Angelina Sondakh, dan nama-nama populer lainnya, seperti kehilangan tokoh. Tampilnya Agus menyiratkan sebuah harapan. Demokrat telah melahirkan seorang tokoh baru dalam partai mereka.

Penampilan Agus yang paling baik di depan publik bukan di panggung debat pilkada, melainkan pada pidato kekalahannya ketika ia mengaku secara kesatria dan lapang dada menerima kekalahannya.

Pidato yang amat simpatik. Secara genetis, ia punya bakat menjadi bintang. 

Dengan publikasi meriah Pilkada DKI Jakarta, bukan langkah sulit bagi Agus untuk kelak melenggang menuju kursi parlemen pada 2019 nanti dan menjadi bintang baru jagad politik Indonesia. Dalam arti ini, Agus tidak sedang kalah. Ia menang.

KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno mengikuti debat ketiga calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Provinsi DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (10/2/2017). Debat yang terdiri dari enam segmen ini meiliki subtema pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, anti-narkotika, dan kebijakan untuk disabilitas.

Anies

Bagaimana dengan Anies? Sama saja. Bagi para pendukungnya, ia adalah harapan baru akan Jakarta yang lebih baik. Kemenangannya pada putaran kedua nanti serasa di ambang pintu. Dengan lihai, Anies melakukan manuver tampilan citra dirinya menyesuaikan dengan karakteristik pemilih Agus.

Semua lembaga survei mencatat, pada masa awal kampanye, Agus mendulang suara mayoritas di angka lebih dari 30 persen. Pada Desember 2016, Litbang Kompas mencatat, elektabilitas Agus-Sylvi pada awal masa kampanye paling tinggi, yaitu 37,1 persen. Posisi itu dibayangi ketat oleh Ahok-Djarot yang mendapat 33 persen, disusul Anies-Sandi di angka 19,5 persen.

Hasil survei kedua dari Litbang Kompas pada Februari 2017 menunjukkan posisi yang berbeda. Elektabilitas Agus merosot menjadi 28,2 persen, sementara Ahok naik menjadi 36,2 persen, dan Anies melesat menyusul Agus menjadi 28,5 persen.

Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan, sekitar 25 persen responden yang sebelumnya memilih Agus-Sylvi mengalihkan dukungannya kepada Anies-Sandi. Sementara itu, hanya 9 persen pemilih Agus yang berpindah ke Ahok-Djarot.

Jadi, ada yang meyakini, mayoritas para pemilih Agus-Sylvi besar kemungkinan beralih ke Anies-Sandi.

Bagi para pendukungnya, Anies adalah antitesis perilaku Ahok yang dinilai tidak santun. Sementara itu, bagi para Ahok lovers, Anies dianggap lebih cocok menjadi seorang motivator ketimbang praktisi birokrasi yang mampu membuat perubahan di Jakarta yang penuh beragam persoalan.

Mana yang benar? Tergantung isi kepala dan jeroan hati mereka yang memaknainya. Bagi seorang haters, tidak pernah ada yang benar pada sosok yang dibencinya. Bagi seorang lovers, tidak pernah ada yang salah pada sosok yang dipujanya.

Lucunya, kedua kubu ini kemudian bertikai seolah mereka yang paling benar. 

Banyak pintu

Seorang teman saya pernah berujar bahwa  kebenaran adalah sebuah ruang yang memiliki banyak pintu. Yang kerap diklaim sebagai sebuah kebenaran adalah fakta-fakta netral sampai kita memaknainya dengan semua perangkat pikiran kita, dengan segala memori yang membentuknya.

Begitu juga kebenaran yang hakiki. Ia adalah ruang dengan banyak pintu. Ia tidak ada di luar sana. Ia bersemayam di kedalaman batin yang hening. Mereka yang pernah mencecap ruang itu tidak akan berteriak-teriak turun ke jalan atau menebar ujaran kebencian.

Pertarungan pada Pilkada DKI Jakarta masih akan berlanjut hingga pemungutan suara kedua pada 19 April nanti. Letih rasanya untuk membayangkan ruang-ruang publik kita masih akan diwarnai oleh kebencian dan caci maki. Semoga kini tidak begitu, atau setidaknya tidak sekeras kemarin.

Sesungguhnya, membenci itu adalah menorehkan luka pada kalbu batin yang diam.

Alkisah, pertapa Sidharta Gautama yang mencapai pencerahan dan disebut Buddha akhirnya sadar bahwa cara bertapa menyiksa diri adalah cara yang salah setelah ia mendengar sebuah lagu. Demikian bunyi syair lagu yang didengar Gautama di bawah pohon Bodhi:

Bila senar gitar ini dikencangkan
Suaranya akan semakin tinggi
Putuslah senar gitar ini
Dan lenyaplah suara gitar itu

Bila senar gitar ini dikendorkan
Suaranya akan semakin merendah
Kalau terlalu dikendorkan
Maka lenyaplah suara gitar itu

Karena itu wahai manusia
Mengapa belum sadar-sadar pula
Dalam segala hal janganlah keterlaluan.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorTri Wahono
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM