Betulkah Ahok Menang dan Agus Kalah?

Kompas.com - 16/02/2017, 14:37 WIB
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno mengikuti debat ketiga calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Provinsi DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (10/2/2017). Debat yang terdiri dari enam segmen ini meiliki subtema pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, anti-narkotika, dan kebijakan untuk disabilitas.

KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELIPasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno mengikuti debat ketiga calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Provinsi DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (10/2/2017). Debat yang terdiri dari enam segmen ini meiliki subtema pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, anti-narkotika, dan kebijakan untuk disabilitas.
EditorTri Wahono

Angka perolehan suara Agus memang bisa dimaknai sebagai kekalahan jika dibanding dengan perolehan suara Ahok-Djarot atau Anies-Sandiaga. Namun, angka itu juga bisa dimaknai sebagai kemenangan.

Bayangkan, seorang "anak bawang" yang keluar dari tentara dengan pangkat mayor mampu mendulang suara hingga 17 persen. Angka yang tidak kecil untuk ukuran bersaing dengan tokoh politik senior, seperti Ahok-Djarot, yang notabene adalah petahana dengan segala catatan keberhasilan perubahan Jakarta, serta Anies yang mantan menteri dengan catatan kiprah aktivitas sosialnya, dan Sandiaga, seorang pengusaha sukses.

Pandangan yang tidak sepakat dengan signifikansi angka 17 persen milik Agus akan mengatakan, "... tetapi kan Agus anak SBY". Suaranya terdongkrak karena pamor bapaknya yang pernah jadi presiden selama dua periode.

Betul, Agus memang anak SBY. Namun, adakah klan SBY lain akan mampu memperoleh suara sebesar itu jika maju dalam Pilkada DKI Jakarta berhadapan dengan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi?

Terdongkraknya popularitas Agus adalah kemenangan Agus, SBY, dan Partai Demokrat-nya. Agus mendapat panggung yang sempurna untuk menunjukkan dirinya. Ia terbukti mampu memesona publik dengan capaian angka 17 persen. Pilkada DKI Jakarta menggaungkan namanya secara nasional.

Partai Demokrat yang terkoyak-koyak oleh berbagai kasus korupsi yang dilakukan kader-kader utamanya, seperti Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Angelina Sondakh, dan nama-nama populer lainnya, seperti kehilangan tokoh. Tampilnya Agus menyiratkan sebuah harapan. Demokrat telah melahirkan seorang tokoh baru dalam partai mereka.

Penampilan Agus yang paling baik di depan publik bukan di panggung debat pilkada, melainkan pada pidato kekalahannya ketika ia mengaku secara kesatria dan lapang dada menerima kekalahannya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pidato yang amat simpatik. Secara genetis, ia punya bakat menjadi bintang. 

Dengan publikasi meriah Pilkada DKI Jakarta, bukan langkah sulit bagi Agus untuk kelak melenggang menuju kursi parlemen pada 2019 nanti dan menjadi bintang baru jagad politik Indonesia. Dalam arti ini, Agus tidak sedang kalah. Ia menang.

Anies

Bagaimana dengan Anies? Sama saja. Bagi para pendukungnya, ia adalah harapan baru akan Jakarta yang lebih baik. Kemenangannya pada putaran kedua nanti serasa di ambang pintu. Dengan lihai, Anies melakukan manuver tampilan citra dirinya menyesuaikan dengan karakteristik pemilih Agus.

Semua lembaga survei mencatat, pada masa awal kampanye, Agus mendulang suara mayoritas di angka lebih dari 30 persen. Pada Desember 2016, Litbang Kompas mencatat, elektabilitas Agus-Sylvi pada awal masa kampanye paling tinggi, yaitu 37,1 persen. Posisi itu dibayangi ketat oleh Ahok-Djarot yang mendapat 33 persen, disusul Anies-Sandi di angka 19,5 persen.

Hasil survei kedua dari Litbang Kompas pada Februari 2017 menunjukkan posisi yang berbeda. Elektabilitas Agus merosot menjadi 28,2 persen, sementara Ahok naik menjadi 36,2 persen, dan Anies melesat menyusul Agus menjadi 28,5 persen.

Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan, sekitar 25 persen responden yang sebelumnya memilih Agus-Sylvi mengalihkan dukungannya kepada Anies-Sandi. Sementara itu, hanya 9 persen pemilih Agus yang berpindah ke Ahok-Djarot.

Halaman:
Baca tentang


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

APLI Gelar Vaksinasi Covid-19 dan Beri Penghargaan untuk Nakes

APLI Gelar Vaksinasi Covid-19 dan Beri Penghargaan untuk Nakes

Megapolitan
5 Persen dari Kasus Aktif Covid-19 di Jakarta Bergejala Berat dan Kritis

5 Persen dari Kasus Aktif Covid-19 di Jakarta Bergejala Berat dan Kritis

Megapolitan
Anies Klaim Pengendalian Wabah Covid-19 di Jakarta Sudah Membaik

Anies Klaim Pengendalian Wabah Covid-19 di Jakarta Sudah Membaik

Megapolitan
Draf Revisi Perda Covid-19 yang Jadikan Pemindaan sebagai Penanggulangan Utama Pandemi Covid-19 Dinilai Berbahaya

Draf Revisi Perda Covid-19 yang Jadikan Pemindaan sebagai Penanggulangan Utama Pandemi Covid-19 Dinilai Berbahaya

Megapolitan
Anies Sebut Kapasitas RS yang Terlampaui Berkontribusi terhadap Kasus Pasien Covid-19 Meninggal Saat Isoman

Anies Sebut Kapasitas RS yang Terlampaui Berkontribusi terhadap Kasus Pasien Covid-19 Meninggal Saat Isoman

Megapolitan
Tren Positivity Rate Turun, Anies: Jangan Cepat Menyimpulkan Covid-19 Segera Berakhir

Tren Positivity Rate Turun, Anies: Jangan Cepat Menyimpulkan Covid-19 Segera Berakhir

Megapolitan
Jakarta PPKM Level 4, Wagub Minta Perusahaan Beri Keringanan kepada Karyawan Hamil

Jakarta PPKM Level 4, Wagub Minta Perusahaan Beri Keringanan kepada Karyawan Hamil

Megapolitan
JRMK: Isi Draf Revisi Perda Covid-19 Akan Bikin Warga Miskin Kota Tambah Sengara

JRMK: Isi Draf Revisi Perda Covid-19 Akan Bikin Warga Miskin Kota Tambah Sengara

Megapolitan
Anies Targetkan DKI Jakarta Vaksinasi 100.000 Warga dalam Sehari

Anies Targetkan DKI Jakarta Vaksinasi 100.000 Warga dalam Sehari

Megapolitan
Ombudsman Soroti Longgarnya Pengawasan Petugas Saat PPKM Level 4 di Tangsel

Ombudsman Soroti Longgarnya Pengawasan Petugas Saat PPKM Level 4 di Tangsel

Megapolitan
Satgas Covid-19 di RT/RW di Jakarta Diminta Lebih Aktif Pantau Pasien yang Jalani Isolasi Mandiri

Satgas Covid-19 di RT/RW di Jakarta Diminta Lebih Aktif Pantau Pasien yang Jalani Isolasi Mandiri

Megapolitan
LBH Jakarta Nilai Draf Revisi Perda Covid-19 DKI Jakarta Bias Kelas

LBH Jakarta Nilai Draf Revisi Perda Covid-19 DKI Jakarta Bias Kelas

Megapolitan
Krematorium di TPU Tegal Alur Beroprasi, Kapasitas 5 Jenazah per Hari

Krematorium di TPU Tegal Alur Beroprasi, Kapasitas 5 Jenazah per Hari

Megapolitan
Anies Ajak Warga yang Sudah Divaksin Covid-19 Ikut Sosialisasikan Vaksinasi

Anies Ajak Warga yang Sudah Divaksin Covid-19 Ikut Sosialisasikan Vaksinasi

Megapolitan
Buaya Sepanjang 1,7 Meter Ditemukan di Selokan di Tambora

Buaya Sepanjang 1,7 Meter Ditemukan di Selokan di Tambora

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X