5 Berita Populer Kompas.com: Dari Bocoran Ketua KPK soal Kasus Besar hingga Kabar Julia Perez - Kompas.com

5 Berita Populer Kompas.com: Dari Bocoran Ketua KPK soal Kasus Besar hingga Kabar Julia Perez

Kompas.com - 16/03/2017, 06:20 WIB
KOMPAS.com/Nabilla tashandra Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo bersama jajaran KPK di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/10/2016)

JAKARTA, KOMPAS.com - Selamat pagi pembaca Kompas.com. Kamis pagi ini, kami menyapa Anda dengan dengan berita-berita terpopuler pada Rabu (16/3/2017) kemarin.

Berita hangat yang layak Anda ketahui adalah bocoran dari Ketua KPK yang menyebut ada kasus baru yang lebih besar dari kasus e-KTP. Apa kasusnya? Ketua KPK masih merahasiakannya.

Terkait perlawanan politikus PPP Abraham Lunggana ( Lulung) yang dipecat dari PPP versi Djan Farid juga masih menarik bagi pembaca. Walau dipecat, Lulung saat ini masih menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD DKI.

Kedatangan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri ke Markas Ahok-Djarot juga menjadi perhatian pembaca. Di sana, Mega sempat curhat terkait kekalahannya pada Pilpres 2004.

Ada juga tentang kabar Julia Perez, selebritas yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Sahabatnya, Ruben Onsu, menyebut dia sedang membutuhkan biaya besar untuk berobat. Ruben berniat menggalang dana untuk membantu meringankan beban perempuan yang akrab disapa Jupe itu.

Berikut 5 berita populer Kompas.com yang layak Anda ketahui:

1. Ada Kasus Baru yang Lebih Besar dari E-KTP

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo menyebutkan, ada kasus baru yang tengah dibidik oleh KPK.

 

Hal itu diucapkannya saat memberikan pidato di Institut Perbanas, Jakarta, Rabu (15/3/2017). Awalnya, Agus mengatakan, setiap orang berpotensi melakukan tindak pidana korupsi.

Ia mengatakan, telah banyak contoh kasus yang menjerat penyelenggara negera hingga pihak swasta.

"Kalau saya memberikan contoh banyak sekali kejadiannya. Contoh paling sederhana, Rp 2,3 triliun (kerugian proyek e-KTP) itu salah satu kasus yang sekarang baru ramai. Tapi yang lebih besar dari itu juga masih ada," kata Agus.

(baca: Ketua KPK Bantah Tuduhan Fahri Hamzah soal Kasus E-KTP)

Menurut Agus, potensi kerugian negara dari kasus tersebut lebih besar dari kasus korupsi e-KTP. Namun, kasus itu tidak melibatkan banyak pihak.

"Ada yang kerugian indikasinya lebih besar (dari kasus e-KTP), tapi kalau pelakunya tidak sebesar hari ini," ujar Agus.

Baca selengkapnya: Ketua KPK Sebut Ada Kasus Baru yang Lebih Besar dari E-KTP

 

2. Pembelaan diri Lulung

Kompas.com/Robertus Belarminus Politisi PPP Abraham Lulung Lunggana di acara deklarasi Partai Perindo kepada Anies-Sandi di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Selasa (14/3/2017)
Ketua Umum PPP Djan Faridz mengumumkan pemecatan Lulung pada Senin (13/3/2017) sore. Alasannya, Lulung dianggap tidak mematuhi perintah partai.

Lulung kemudian mempertanyakan alasan pemecatannya karena dia menilai pemecatan itu tidak memiliki alasan yang jelas.

Lulung mengatakan, tidak ada pemberitahuan atau teguran dari DPP PPP terkait tuduhan dirinya tak patuh pada perintah partai.

Menurut Lulung, berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PPP, proses pemecatan itu harus melalui surat teguran I, II, dan III.

"Yang sudah disampaikan Pak Djan Faridz selaku ketua umum memang tidak jelas, tentangnya disampaikan. Artinya begini, saya diberhentikan dari Ketua DPW PPP DKI karena saya tidak patuh menjalankan perintah DPP. Perintahnya apa tidak jelas," ujar Lulung, saat konfrensi pers di Kantor Fraksi PPP, Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (14/3/2017).

Baca selengkapnya: Perlawanan Lulung terhadap Pemecatannya

 

3. Curhatan Megawati

KOMPAS.com/JESSI CARINA Ketua Umum PDI-P Megawati ditemani pasangan cagub cawagub, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, di Rumah Lembang, Rabu (15/3/2017).
Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri menceritakan tentang kekalahannya pada Pilpres 2004. Mega ketika itu petahana berpasangan dengan Hasyim Muzadi sedangkan SBY berpasangan dengan Jusuf Kalla.

 

Saat itu, ia menilai dirinya tidak diberi kesempatan untuk melanjutkan programnya selama memerintah.

"Kenapa milih orang baru ketimbang orang lama yang sudah sukses? Kasih kesempatan bagi dia untuk bisa meneruskan programnya. Karena saya yang mengalaminya sendiri. Saya presiden yang namanya setengah jalan," ujar Mega.

Seraya melontarkan canda, Mega menilai kekalahannya waktu itu disebabkan para pemilih dari kalangan perempuan yang tidak mau memilihnya.

"Coba saya dikasih waktu satu kali lagi. Sudah lebih baik deh ibu-ibu. Tukar orang yang baru dah. Waktu itu kan gitu. Tuker yang baru. Akhirnya nangis sendiri deh," kata Mega. (Baca: Mega: Ibu-ibu kalau Bersatu, Tak Ada yang Bisa Mengalahkan)

Selama menyampaikan arahan, Mega tampak tak henti-hentinya memberi instruksi kepada para relawan agar dapat mempengaruhi kalangan pemilih perempuan agar dapat memilih Ahok-Djarot.

"Insyafkan ibu-ibu yang belum sadar. Kasih tau. Karena enggak ada yang namanya pemerintah itu coba-coba," kata Mega.

Selengkapnya baca: Di Depan Relawan Ahok, Megawati Curhat soal Dikalahkan SBY di Pilpres 2004

 

4. Kritik dari Faisal Basri

TRIBUNNEWS/DANY PERMANA Faisal Basri
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menilai kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo(Jokowi) hanya memanjakan masyarakat perkotaan.

Sejumlah proyek yang diusung pemerintah tutur dia, mencerminkan keberpihakan Jokowi ke masyarakat perkotaan.

Salah satunya yakni proyek kereta ringan atau  Light Rail Transit (LRT) yang nantinya menghubungkan Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek).

"Inilah yang dimanja oleh Jokowi bangun LRT dananya enggak ada 'bodo amat'," ujarnya dalam acara diskusi bertajuk Pembenahan Pertanian, Solusi Masalah Kesenjangan? di Jakarta, Selasa (14/3/2017).

Bukan kali ini saja Faisal Basri menyoroti proyek LRT. Pekan lalu ia memperkirakan proyek yang nilainya mencapai Rp 23 triliun itu akan mangkrak lantaran keterbatasan anggaran pemerintah.

Baca selengkapnya: Faisal Basri Nilai Sejumlah Kebijakan Jokowi Hanya Manjakan Orang Kota

 

5. Rencana penggalangan dana untuk Julia Perez

KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Julia Perez sesaat usai memberikan keterangan pers di RSCM, Jakarta, Rabu (15/2/2017). Julia Perez alias Jupe, gagal menggunakan hak suaranya di TPS 15 karena tidak memiliki surat pindah memilih atau formulir A5 karena belum terdaftar sebelumnya di kelurahan TPS 15.
Pembawa acara Ruben Onsu (33) berencana membuat kegiatan amal dan penggalangan dana untuk pedangdut sekaligus artis peran Julia Perez alias Jupe(36), teman karibnya.

Sebagai informasi, Jupe saat ini masih menjalani perawatan intensif akibat kanker serviks di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat.

"Jupe sedang butuh biaya besar dan sangat mahal. Saya dan Mas Eko Patrio (komedian dan politisi) mau adain charity atas persetujuan Jupe, meski dia enggak mau nyusahin orang lain," kata Ruben di sela-sela shooting i-KTP di Rusun Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (14/3/2017).

[Baca: Penggalangan Dana untuk Julia Perez Tertunda]

Sedianya, lanjut Ruben, Jupe akan menjalani perawatan lanjutan di rumah pada Senin (13/3/2017). Tapi pelantun "Aku Rapopo" itu gagal pulang karena terbentur biaya.

"Saya sudah bilang, semua biaya di-handle teman-teman, mereka semua akan bantu dan back up," kata Ruben.

Selengkapnya klik link: Ruben Onsu: Jupe Sedang Butuh Biaya Besar dan Sangat Mahal

Kompas TV Omelan Megawati Soal DPT Putaran Pertama

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorAna Shofiana Syatiri
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM