JAKARTA, KOMPAS.com —
Sejumlah pasien yang hendak menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Jakarta Pusat, selama beberapa hari terakhir harus antre mendapat kamar. Hal itu terjadi karena semua kamar di rumah sakit tersebut dikabarkan penuh. Para pasien peserta Kartu Jakarta Sehat itu ditampung sementara di ruang Instalasi Gawat Darurat.

Berdasarkan data Bagian Informasi RSUD Tarakan, Rabu (6/11), ada 26 pasien peserta Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang antre mendapat kamar. Mereka masih berada di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), menunggu kamar rawat inap kosong. Berdasarkan penelusuran Kompas, ada pasien yang antre sejak Sabtu (2/11).

Salah seorang pasien yang antre untuk mendapat kamar sejak Sabtu lalu adalah Sanusi (68), warga Kelurahan Taman Sari, Jakarta Barat. Pria yang rumahnya terbakar pada 15 Oktober itu menderita asma dan jantung.

Menurut Arsanah (40), putri Sanusi, ayahnya masuk ke RSUD Tarakan pada Sabtu siang. Awalnya, Sanusi diperiksa di IGD. ”Bapak saya itu punya riwayat asma. Sakitnya tambah parah karena setelah rumahnya terbakar, dia tidur di masjid yang anginnya kencang,” tutur Arsanah.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan, Sanusi ternyata juga terkena serangan jantung. Dia seharusnya ditempatkan di ruang Unit Perawatan Intensif (ICU).

”Tetapi, kata petugas, ruangan ICU sudah penuh sehingga bapak saya ditempatkan di IGD dulu. Ternyata setelah menunggu empat hari, belum juga ada kamar kosong di ICU,” ujar Arsanah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia menambahkan, pihak keluarga akhirnya memilih membawa Sanusi pulang ke rumah. Selain karena kondisinya sudah lebih baik, keluarga juga lelah menunggu. ”Mending dibawa pulang aja kalau gini,” kata Arsanah.

Antre masuk IGD

Selain harus antre kamar rawat inap, pasien juga harus antre saat hendak diperiksa di IGD. Pada Rabu siang, Siti Sophia (74), warga Krukut, Jakarta Barat, tak bisa langsung masuk ke IGD RSUD Tarakan karena ruangan IGD penuh.

Saefullah (38), putra Siti Sophia, mengatakan, saat hendak memeriksakan ibunya ke IGD, petugas memberitahukan ruangan itu penuh. Akibatnya, Siti tak bisa diberi tindakan apa-apa. Padahal, kondisi Siti terlihat sangat lemah. ”Ibu saya sudah enggak bisa jalan dan ngomong. Dia kena penyakit komplikasi,” tutur Saefullah.