JAKARTA, KOMPAS.com
— Sejak pemberlakuan denda maksimal kepada penyerobot jalur khusus bus transjakarta, pengguna moda angkutan massal itu meningkat. Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan, Rabu (27/11), mengatakan, sebelum program sterilisasi diberlakukan, setiap hari rata-rata 320.000 warga menggunakan jasa bus transjakarta.

”Dalam tiga hari terakhir, setelah denda diberlakukan, pengguna bus transjakarta naik 40.000 orang, menjadi 360.000 orang per hari,” kata Azas Tigor.

Diharapkan jumlah pengguna bus itu akan terus meningkat hingga melebihi angka 400.000 pengguna. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan segera menambah bus. ”Kalau jalurnya sudah steril, tetapi tak ada busnya, kan, sayang,” ujar Azas Tigor.

Peningkatan penumpang itu karena layanan bus transjakarta lebih meningkat setelah lajur menjadi lancar. Meskipun di beberapa titik banyak pengendara yang masih menyerobot jalur bus transjakarta, jumlahnya kian menurun.

Denda besar ini diharapkan tidak hanya berdampak pada ketegasan penegakan hukum semata, kata Azas Tigor, tetapi juga lebih untuk membentuk perilaku berlalu lintas.

Secara terpisah, Kepala Subdirektorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Hindarsono mengatakan, dari evaluasi sementara, penyerobot jalur bus transjakarta memang cenderung menurun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Hindarsono, ancaman itu membuat warga berpikir panjang saat hendak menyerobot jalur karena takut didenda hingga Rp 500.000 sekali melanggar.

Belum ada angka pasti mengenai penurunan jumlah pelanggaran itu. Dari pantauan secara umum, ada kecenderungan penurunan.

”Sekarang ini kami menyebar petugas di seluruh wilayah, hanya 200-an kendaraan yang kena tilang. Kalau dulu, sebelum ada ancaman, di satu titik saja bisa 500-an yang melanggar,” kata Hindarsono.

Mengurai kemacetan