Bocah Dalam Kardus, Permukiman Padat, dan Minimnya Rasa Curiga

Kompas.com - 12/10/2015, 14:20 WIB
Kondisi lahan kosong yang sebelumnya merupakan bedeng milik Agus (39), tersangka pembunuh bocah perempuan dalam kardus, PNF (9), di RT 04 RW 07, Kelurahan Kalideres, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, Senin (12/10/2015).

KOMPAS.COM/ANDRI DONNAL PUTERAKondisi lahan kosong yang sebelumnya merupakan bedeng milik Agus (39), tersangka pembunuh bocah perempuan dalam kardus, PNF (9), di RT 04 RW 07, Kelurahan Kalideres, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, Senin (12/10/2015).
|
EditorDesy Afrianti
JAKARTA, KOMPAS.com — Kasus pembunuhan terhadap PNF (9), yang kini lebih dikenal sebagai bocah dalam kardus, disebut warga baru pertama kali terjadi di kawasan mereka.

Tempat tinggal PNF adalah di RT 06 RW 07, Kelurahan Kalideres, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, sebuah kawasan yang merupakan permukiman padat penduduk dan hanya bisa dimasuki oleh sepeda motor dengan lebar jalan lebih kurang satu setengah meter.

Di sana, anak-anak bebas bermain dengan lingkup sekitar satu kilometer dari rumah masing-masing.

Hubungan antar-warga yang akrab menimbulkan rasa aman terhadap para orangtua untuk melepas anak-anak bebas bermain di wilayah tersebut.

Seperti yang terjadi terhadap PNF semasa hidupnya. "PNF kalau main itu di sekitaran sini saja, enggak dijagain. Paling sampai ke tiang listrik sana itu, habis itu balik sendiri ke rumah. Tetangga pada kenal semua," kata paman PNF, Rifai (33), kepada Kompas.com, Senin (12/10/2015) siang. (Baca: Keluarga Bocah Dalam Kardus Berharap Tersangka Pembunuh Dihukum Mati)

Rifai mengulang kisah ketika PNF masih hidup. Ketika itu, PNF berangkat pagi ke sekolah, sekitar pukul 06.30 WIB, tanpa diantar oleh siapa pun.

Sesekali, Rifai memberikan uang jajan semampunya kepada PNF. Setelah pulang dari sekolah, PNF kembali ke rumah dan hanya bermain di sekitar rumahnya itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada Jumat (2/10/2015) lalu, hari ketika PNF hilang, keluarga awalnya tidak terlalu khawatir. Keluarga besar mengira PNF sedang bermain di rumah temannya yang berada di wilayah yang sama dengan rumah PNF.

Kekhawatiran

Kekhawatiran mulai muncul ketika hari semakin sore dan sampai malam tiba belum ada kabar dari PNF. Anggota keluarga yang ada di rumah PNF panik seketika.

Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

MUI Imbau Warga di Zona Merah Ganti Shalat Jumat dengan Dzuhur

MUI Imbau Warga di Zona Merah Ganti Shalat Jumat dengan Dzuhur

Megapolitan
Catat, Ini Daftar 21 RS Rujukan Covid-19 di Kota Bogor

Catat, Ini Daftar 21 RS Rujukan Covid-19 di Kota Bogor

Megapolitan
Pemkot Bekasi Terima Rp 24 Miliar dari Kemenkes untuk Operasional RSUD

Pemkot Bekasi Terima Rp 24 Miliar dari Kemenkes untuk Operasional RSUD

Megapolitan
RS Hampir Penuh, Satgas Covid-19 Depok Sebut Kondisi Sudah Sangat Berat

RS Hampir Penuh, Satgas Covid-19 Depok Sebut Kondisi Sudah Sangat Berat

Megapolitan
Jakarta Buka Posko Siaga Covid-19 24 Jam, Tersebar di Semua Kelurahan

Jakarta Buka Posko Siaga Covid-19 24 Jam, Tersebar di Semua Kelurahan

Megapolitan
Imbau Dirikan Tenda Darurat Perawatan Pasien Covid-19, Anies: Rumah Sakit Sudah Penuh

Imbau Dirikan Tenda Darurat Perawatan Pasien Covid-19, Anies: Rumah Sakit Sudah Penuh

Megapolitan
Kasus Covid-19 Meledak, Jakarta Krisis Tenaga Kesehatan

Kasus Covid-19 Meledak, Jakarta Krisis Tenaga Kesehatan

Megapolitan
Liza Putri Noviana, Nakes Pertama di Wisma Atlet yang Gugur Terpapar Covid-19

Liza Putri Noviana, Nakes Pertama di Wisma Atlet yang Gugur Terpapar Covid-19

Megapolitan
Tangerang Zona Merah, Pemkot Imbau Shalat Jumat Diganti Zuhur

Tangerang Zona Merah, Pemkot Imbau Shalat Jumat Diganti Zuhur

Megapolitan
Ingat, Hari Ini Terakhir Lapor Diri PPDB Jakarta Jalur Zonasi SD dan Afirmasi SMP/SMA/SMK

Ingat, Hari Ini Terakhir Lapor Diri PPDB Jakarta Jalur Zonasi SD dan Afirmasi SMP/SMA/SMK

Megapolitan
Anies Sebut Sebagian Besar Pasien Covid-19 di Jakarta Bergejala Sedang

Anies Sebut Sebagian Besar Pasien Covid-19 di Jakarta Bergejala Sedang

Megapolitan
Anies: Menambah Tenaga Kesehatan Tak Bisa Secepat Penambahan Kasus Covid-19

Anies: Menambah Tenaga Kesehatan Tak Bisa Secepat Penambahan Kasus Covid-19

Megapolitan
Rekor Baru Covid-19 di Jakarta Capai 7.505, Semua Rumah Sakit Diminta Bangun Tenda Darurat

Rekor Baru Covid-19 di Jakarta Capai 7.505, Semua Rumah Sakit Diminta Bangun Tenda Darurat

Megapolitan
Jakarta Tidak Sedang Baik-baik Saja, Rekor 7.505 Kasus Baru hingga RS di Ambang Kolaps

Jakarta Tidak Sedang Baik-baik Saja, Rekor 7.505 Kasus Baru hingga RS di Ambang Kolaps

Megapolitan
Fakta Warga Tangerang Diduga Meninggal Usai Divaksin: Disuntik Saat Tensi Tinggi, Dinkes Lakukan Investigasi

Fakta Warga Tangerang Diduga Meninggal Usai Divaksin: Disuntik Saat Tensi Tinggi, Dinkes Lakukan Investigasi

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X