Kompas.com - 28/05/2016, 07:51 WIB
Sampah menumpuk di pintu masuk terowongan Sungai Buaran yang berada di bawah Kalimalang, Jakarta Timur, seperti terlihat, Rabu (18/5/2016). Masih banyaknya sampah dan limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai memicu kerusakan lingkungan dan banjir. KOMPAS/HARRY SUSILOSampah menumpuk di pintu masuk terowongan Sungai Buaran yang berada di bawah Kalimalang, Jakarta Timur, seperti terlihat, Rabu (18/5/2016). Masih banyaknya sampah dan limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai memicu kerusakan lingkungan dan banjir.
EditorTri Wahono

JAKARTA, KOMPAS — Hampir tiga dekade, wajah sungai-sungai di Jakarta telah banyak berubah. Urbanisasi telah mendesak areal pertanian menjadi permukiman dan industri. Sungai yang sebelumnya memenuhi kebutuhan hidup warga kini menjadi sumber masalah.

Tahun 2007, hampir semua sungai meluap dan Jakarta lumpuh terendam banjir. Pembangunan Kanal Timur menjadi solusi mengatasinya. Namun, tak menutup kemungkinan, bencana itu terulang jika kelestarian sungai tak diperhatikan.

Penyusuran Kompas dimulai dari Jakarta bagian timur pada pertengahan Mei di tiga sungai, yakni Kali Cakung, Kali Buaran, dan Kali Jati Kramat. Ketiganya saling terhubung hingga muara di Teluk Jakarta di kawasan Marunda melalui Cakung Drain.

Ketiga sungai berkelok-kelok dan datang dari Bekasi. Kelok ini membuat sebagian warga Betawi yang bermukim di tepian Kali Cakung meyakini alur sungai dibuat oleh ular. Hanya untuk Kali Buaran dan Kali Jati Kramat sudah dibuat lurus dan dibeton bantarannya sejak 1990-an.

Dulu, ketiga sungai itu sumber air untuk persawahan. Sisa-sisa sawah terlihat di Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, dan di Kecamatan Cakung.

Abdul Hadi (80), orang Betawi di Pulogebang, Kecamatan Cakung, sejak dahulu sampai sekarang mengandalkan Kali Cakung untuk bertani. "Dulu, sebelum banyak orang, di sini semuanya sawah. Airnya dari Kali Cakung," ujar bapak 13 anak dan banyak cucu itu.

Tak hanya untuk mengairi sawah, Hadi mengaku Kali Cakung saat dia kecil dapat diminum airnya dan tempat dia bermain. "Dulu airnya bening," ucapnya.

Tahun 1990, Hadi mengatakan mulai banyak pendatang bermukim di Pulogebang. Areal sawah berubah menjadi tempat tinggal. Sejak itu, Kali Cakung kerap meluap di musim hujan.

"Banjir terparah tahun 2007. Rumah saya terendam hampir satu pintu rumah," katanya.

Kali Buaran dan Kali Jati Kramat juga meluap tahun 2007. Kantor pengolahan air PT Aetra di pinggir Kali Jati Kramat pun terendam 1 meter. Luapan Kali Buaran nyaris merendam rel kereta di Stasiun Buaran yang berada 5 meter di atas sungai.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ada 9.291 Pergerakan Penumpang di Soekarno-Hatta pada Hari Terakhir Larangan Mudik

Ada 9.291 Pergerakan Penumpang di Soekarno-Hatta pada Hari Terakhir Larangan Mudik

Megapolitan
Berstatus Mantan Narapidana, Tuntutan Hukuman Rizieq Shihab dalam Kasus Kerumunan Diperberat

Berstatus Mantan Narapidana, Tuntutan Hukuman Rizieq Shihab dalam Kasus Kerumunan Diperberat

Megapolitan
Fakta Pelaku Pencurian dan Pemerkosaan Anak di Bekasi: Positif Narkoba, Ada Residivis, Aktor Utama Buron

Fakta Pelaku Pencurian dan Pemerkosaan Anak di Bekasi: Positif Narkoba, Ada Residivis, Aktor Utama Buron

Megapolitan
Komisioner KPK Berharap Bisa Segera Fokus pada Kerja Pemberantasan Korupsi Setelah Ada Pernyataan Presiden Soal TWK

Komisioner KPK Berharap Bisa Segera Fokus pada Kerja Pemberantasan Korupsi Setelah Ada Pernyataan Presiden Soal TWK

Megapolitan
Banjir Sempat Melanda Kampung Baru, Warga: Sudah Biasa

Banjir Sempat Melanda Kampung Baru, Warga: Sudah Biasa

Megapolitan
Warga Cimahpar Bogor Pasang Spanduk Tolak Pemudik yang Kembali Tanpa Surat Bebas Covid-19

Warga Cimahpar Bogor Pasang Spanduk Tolak Pemudik yang Kembali Tanpa Surat Bebas Covid-19

Megapolitan
5 Terdakwa Kasus Kerumunan Petamburan Dituntut Penjara Selama 1 Tahun 6 Bulan

5 Terdakwa Kasus Kerumunan Petamburan Dituntut Penjara Selama 1 Tahun 6 Bulan

Megapolitan
Banjir di 6 RT di Pondok Pinang Sudah Surut Senin Sore

Banjir di 6 RT di Pondok Pinang Sudah Surut Senin Sore

Megapolitan
Kasus Kerumunan Petamburan, Rizieq Shihab Dituntut Penjara Selama 2 Tahun

Kasus Kerumunan Petamburan, Rizieq Shihab Dituntut Penjara Selama 2 Tahun

Megapolitan
10.000 Rapid Test Antigen Gratis Disiapkan Dinkes Kota Tangerang untuk Antisipasi Lonjakan Covid-19

10.000 Rapid Test Antigen Gratis Disiapkan Dinkes Kota Tangerang untuk Antisipasi Lonjakan Covid-19

Megapolitan
Dinkes DKI Lanjutkan Vaksinasi AstraZeneca Selain Batch CTMAV547

Dinkes DKI Lanjutkan Vaksinasi AstraZeneca Selain Batch CTMAV547

Megapolitan
UPDATE 17 Mei: 21 Kasus Covid-19 Baru di Tangsel, 1 Pasien Meninggal

UPDATE 17 Mei: 21 Kasus Covid-19 Baru di Tangsel, 1 Pasien Meninggal

Megapolitan
Antisipasi Lonjakan Covid-19, Polisi Sediakan 3.400 Tes Antigen Gratis di Sejumlah Titik di Kota Tangerang

Antisipasi Lonjakan Covid-19, Polisi Sediakan 3.400 Tes Antigen Gratis di Sejumlah Titik di Kota Tangerang

Megapolitan
Penumpang yang Tiba di Terminal Kalideres Dites Cepat Antigen Covid-19, Dua Positif

Penumpang yang Tiba di Terminal Kalideres Dites Cepat Antigen Covid-19, Dua Positif

Megapolitan
Update 17 Mei: Kasus Baru Covid-19 di Jakarta Bertambah 421, Pasien Aktif Jadi 7.293

Update 17 Mei: Kasus Baru Covid-19 di Jakarta Bertambah 421, Pasien Aktif Jadi 7.293

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X