Ada Rumah Diisi 19 Kepala Keluarga Pasca-penggusuran Bukit Duri

Kompas.com - 06/01/2017, 17:53 WIB
Suasana rumah kontrakan yang dihuni sekitar 19 kepala keluarga di dekat tempat penggusuran permukiman Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (6/1/2017). KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERASuasana rumah kontrakan yang dihuni sekitar 19 kepala keluarga di dekat tempat penggusuran permukiman Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (6/1/2017).
|
EditorFidel Ali

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada satu rumah berukuran cukup besar yang dihuni oleh 19 kepala keluarga (KK) dari RW 12 Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, yang letaknya tidak jauh dari lokasi penertiban oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, September 2016.

Di sana, warga yang mengaku punya bukti kepemilikan rumah secara sah bertahan dengan mengontrak demi tetap bisa tinggal di Bukit Duri.

"Sudah empat bulan tinggal di sini," kata Yudi (46), salah satu warga yang bersedia diajak berbincang oleh Kompas.com, Jumat (6/1/2017) sore.

Yudi menceritakan, rumah itu merupakan bekas tempat penampungan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di masa lampau. Setelah permukiman warga di sana digusur, pemilik rumah tersebut menawarkan tempatnya untuk dihuni sebagian warga dengan cara mengontrak.

Biaya kontrak sebulan untuk satu kamar di sana Rp 450.000, sudah termasuk dengan biaya listrik dan air. Ada total 19 kamar tidur berukuran 2x2 meter yang sekatnya dibuat dari triplek.

Di dalam satu kamar, paling banyak bisa ditempati oleh lima orang anggota keluarga. Jumlah 19 kamar tidur itu belum termasuk dengan enam kamar mandi yang tersebar di lantai satu dan dua kontrakan, dua dapur, dan tiga tempat jemuran. (Baca: Warga Bukit Duri Menang di PTUN, Pemprov DKI Harus Ganti Rugi)

Menurut Yudi, selama empat bulan tinggal di sana, tidak banyak perubahan dari tempat tinggalnya dulu yang kini sudah rata dengan tanah. Warga yang sama-sama mengontrak masih tetangga di tempat tinggalnya dulu. Mereka saling menjaga satu sama lain.

"Setiap malam ada pengajian di sini, ramai. Kalau sudah sore sampai malam, di sini pada ngumpul. Macam-macam ya, ada yang kerja jadi security, nge-Grab (Bike). Kalau saya kerja jadi kuli di Pasar Jatinegara," tutur Yudi.

KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Proses pembongkaran rumah warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta, Rabu (28/9/2016). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggusur bangunan yang berbatasan langsung dengan sungai Ciliwung dan akan merelokasi warga ke Rusun Rawa Bebek.
Meskipun mengaku nyaman tinggal di sana, Yudi menyadari tempat tersebut hanya untuk dihuni sementara. Dia bersama warga terdampak penertiban lainnya hendak membicarakan rencana lanjutan setelah gugatan mereka dikabulkan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), baru-baru ini.

Isi gugatan warga Bukit Duri yang dimaksud adalah soal surat peringatan yang dikeluarkan Pemerintah Kota Jakarta Selatan kepada mereka. Majelis hakim membatalkan SP (Surat Peringatan) 1, 2, dan 3 tersebut karena dinilai melanggar undang-undang. (Baca: Empat Bulan Pasca-penggusuran, Begini Kondisi Bukit Duri)

Adapun kawasan Bukit Duri sudah digusur pada September 2016. Rumah-rumah warga yang memenangi gugatan sudah rata dengan tanah. Kuasa hukum warga Bukit Duri, Vera Wenny Soemarwi, mengatakan bahwa hakim mewajibkan Pemprov DKI untuk memberikan ganti rugi.

Menanggapi putusan PTUN, Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi berencana mengajukan banding. Dengan begitu, putusan PTUN belum memiliki kekuatan hukum tetap.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengangkatan Sampah Kayu di Kali Bekasi Terkendala Alat Berat

Pengangkatan Sampah Kayu di Kali Bekasi Terkendala Alat Berat

Megapolitan
[UPDATE] Depok Catat 2.157 Kasus Aktif Covid-19, Terbanyak Selama Pandemi

[UPDATE] Depok Catat 2.157 Kasus Aktif Covid-19, Terbanyak Selama Pandemi

Megapolitan
1.968 Titik Tali Air di Jakarta Utara Rusak, Kini sedang Diperbaiki

1.968 Titik Tali Air di Jakarta Utara Rusak, Kini sedang Diperbaiki

Megapolitan
Polisi: Tersangka Pencabulan Bocah di Pondok Aren Juga Pernah Membegal Pesepeda

Polisi: Tersangka Pencabulan Bocah di Pondok Aren Juga Pernah Membegal Pesepeda

Megapolitan
UPDATE 1 Desember: Tambah 1.058 Kasus Covid-19 di Jakarta, 10.128 Pasien Masih Dirawat

UPDATE 1 Desember: Tambah 1.058 Kasus Covid-19 di Jakarta, 10.128 Pasien Masih Dirawat

Megapolitan
Polisi: Tersangka Pencabulan Bocah di Pondok Aren Sudah 4 Kali Beraksi Sejak 2017

Polisi: Tersangka Pencabulan Bocah di Pondok Aren Sudah 4 Kali Beraksi Sejak 2017

Megapolitan
Gaji Anggota DPRD DKI Diusulkan Rp 8,38 Miliar Per Tahun pada 2021

Gaji Anggota DPRD DKI Diusulkan Rp 8,38 Miliar Per Tahun pada 2021

Megapolitan
Anies dan Riza Patria Positif Covid-19, Pembahasan APBD 2021 Disebut Tetap Berjalan

Anies dan Riza Patria Positif Covid-19, Pembahasan APBD 2021 Disebut Tetap Berjalan

Megapolitan
Positif Covid-19, Anies dan Riza Patria Akan Jalankan Isolasi Mandiri Dua Minggu

Positif Covid-19, Anies dan Riza Patria Akan Jalankan Isolasi Mandiri Dua Minggu

Megapolitan
Tempat Isolasi OTG Covid-19 di Depok dari CSR Tak Kunjung Beroperasi, Ini Kata Pjs Wali Kota

Tempat Isolasi OTG Covid-19 di Depok dari CSR Tak Kunjung Beroperasi, Ini Kata Pjs Wali Kota

Megapolitan
Doakan Anies Cepat Sembuh, Wakil Wali Kota Bekasi: Covid-19 Bukan Aib

Doakan Anies Cepat Sembuh, Wakil Wali Kota Bekasi: Covid-19 Bukan Aib

Megapolitan
Blok Makam Covid-19 Khusus Jenazah Muslim Penuh di TPU Pondok Ranggon, Hanya Bisa Sistem Tumpang

Blok Makam Covid-19 Khusus Jenazah Muslim Penuh di TPU Pondok Ranggon, Hanya Bisa Sistem Tumpang

Megapolitan
Tersangka yang Cabuli Bocah di Pondok Aren Pernah 4 Kali Lakukan Pelecehan Remas Payudara

Tersangka yang Cabuli Bocah di Pondok Aren Pernah 4 Kali Lakukan Pelecehan Remas Payudara

Megapolitan
Mulai Besok, Underpass Senen Extension Bisa Dilewati Kendaraan 24 Jam

Mulai Besok, Underpass Senen Extension Bisa Dilewati Kendaraan 24 Jam

Megapolitan
Sebut Fraksi PSI Setujui Anggaran Kenaikan Gaji DPRD DKI, Taufik: Tak Perlu Pencitraan

Sebut Fraksi PSI Setujui Anggaran Kenaikan Gaji DPRD DKI, Taufik: Tak Perlu Pencitraan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X