Membayangkan Jakarta Saat Asian Games - Kompas.com

Membayangkan Jakarta Saat Asian Games

Kompas.com - 11/12/2017, 08:37 WIB
Progres pembangunan renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk Asian Games 2018 di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (23/11/2017). Mengutip data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), hingga kini progres pembangunan secara keseluruhan telah mencapai 87,27 persen dan ditargetkan selesai bertahap hingga Desember 2017.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Progres pembangunan renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk Asian Games 2018 di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (23/11/2017). Mengutip data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), hingga kini progres pembangunan secara keseluruhan telah mencapai 87,27 persen dan ditargetkan selesai bertahap hingga Desember 2017.


APA yang bakal terjadi delapan bulan ke depan saat seribuan orang dari 45 negara tumplek blek di ibu kota? Transportasi massal MRT belum rampung. Demikian pula LRT. Sementara, jutaan penduduk Jakarta masih lalu lalang memadati jalan-jalan.

Tak sedikit orang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas jelang perhelatan Asian Games ke-18  di Jakarta pada 18 Agustus tahun depan. Pesta olahraga se-Asia ini akan berlangsung selama sepekan.

Namun, saya tidak ingin menyoal itu. Saya ingin bercerita tentang pengalaman mengesankan saat mengunjungi sejumlah arena pertandingan olahraga di kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. 

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk masuk ke sejumlah venue alias arena pertandingan di kompleks GBK. Saya mendapati pemandangan yang luar biasa.

Saya masuk satu persatu gelanggang olah raga itu. Pertama saya masuk ke lapangan hoki dan lapangan sepakbola ABC. Hal yang paling menyita perhatian saya adalah karpet dari kedua lapangan ini.

Lapangan hoki yang bakal menjadi arena pertandingan beralas karpet khusus. Ketika Anda berada di tengah lapangan dan melakukan selfie ala millenials Anda akan merasa berada di belahan lain di bumi ini.

Lapangan sepakbola ABC pun tidak kalah mengejutkan. Karpet rumput sitentis di lapangan ini mirip dengan rumput zoysia matrella, rumput yang digunakan di stadion dunia, diantaranya Stadion Allianz Arena, Markas Klub Bayern Munchen, Jerman.

Rumput asli zoysia matrella dapat ditemukan di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Field of Play (FOP), alias tempat bermain bolanya menggunakan menggunakan rumput ini.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menendang bola saat meninjau proyek renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk Asian Games 2018 di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (23/11/2017). Mengutip data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), hingga kini progres pembangunan secara keseluruhan telah mencapai 87,27 persen dan ditargetkan selesai bertahap hingga Desember 2017.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menendang bola saat meninjau proyek renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk Asian Games 2018 di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (23/11/2017). Mengutip data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), hingga kini progres pembangunan secara keseluruhan telah mencapai 87,27 persen dan ditargetkan selesai bertahap hingga Desember 2017.

Ada yang berkesan saat saya menginjak rumput termahal di dunia ini. Rumputnya begitu empuk dan membal saat saya menginjakkan kaki dan menggoyang-goyangkan tubuh di atasnya. Pengalaman yang belum pernah saya alami sebelumnya.

Lalu apa lagi yang istimewa?

Pencahayaan di Stadion Utama GBK. Bahkan penanggung jawab proyek renovasi Stadion Utama GBK Kusworo Darpito dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), mengklaim inilah stadion yang paling megah dari sisi pencahayaan.

Bahkan,  kata dia,  stadion dunia sekelas Wembley, Allianz Arena, Old Trafford, berada di level bawahnya.  Pencahayaan di Stadion Utama GBK 300 persen lebih terang dibanding stadion utama GBK sebelumnya.

Belum lagi ruang VVIP di stadion ini yang berlapis kaca anti peluru.

Stadion Akuatik Termegah se-Asia

Terakhir, saya berkunjung ke Stadion Akuatik Gelora Bung Karno. Stadion ini sudah rampung 100 persen. Sejumlah penilik dari federasi renang internasional (Federation Internationale de Natation-FINA) mengatakan, venue akuatik yang dimiliki Indonesia ini adalah yang termegah se-Asia.

Ada 4 kolam di dalamnya. Dua kolam untuk polo air. Satu kolam untuk renang. Kedalaman tiga kolam itu masing-masing 3 meter. Sementara, satu kolam lainnya dengan kedalaman lima meter digunakan untuk loncat indah.

Ada satu kolam yang paling dangkal, kedalamannya hanya 1,4 meter, digunakan sebagai kolam pemasanan.  Semuanya berukuran standar Olimpiade.

Stadion Renang GBK SenayanArimbi Ramadhiani Stadion Renang GBK Senayan

Namun, di balik renovasi besar di kompleks GBK, ada satu catatan dari masa lalu yang tetap dipertahanakan: sejumlah benda beraksara Rusia diabadikan di sana.

Ada apa dengan aksara Rusia?

Tak banyak yang tahu, kompleks GBK dibangun di masa Presiden Soekarno pada tahun 1962. Kompleks olahraga ini dibangun menjelang Asian Games ke-4 di Jakarta.

Kontraktornya adalah orang-orang Rusia. Aneka material juga didatangkan langsung dari negeri itu. Aksara Rusia menghiasi berbagai sudut di GBK.

Jika tidak ada Asian Games ke-4 tahun 1962, bisa jadi Indonesia tidak punya Gelora Bung Karno dan tidak ada siaran perdana TVRI kala itu. Barangkali juga, tak ada kawasan Sudirman – Thamrin serta Bundaran HI yang jadi pusat kota Jakarta hingga saat ini.

Dalam perhelatan olah raga besar selalu ada Revolusi yang dilakukan. Jepang, misalnya, sudah woro-woro akan memunculkan teknologi seluler 5G pertama  di dunia di pesta Olimpiade yang akan berlangsung di negeri itu pada 2020 mendatang.

Terkait GBK, saya akan tunjukkan detil di Program AIMAN yang akan tayang malam ini, Senin, pukul 8 malam di KompasTV.

Kendaraan terjebak kemacetan saat melintas di ruas Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (15/8/2017). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar Kendaraan terjebak kemacetan saat melintas di ruas Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (15/8/2017).

Tetapi tunggu!

Sudah indahkah juga yang lain?

Semua yang ditampilkan di atas adalah “ruang tamu” kita. Ada ungkapan terkenal yang pertama kali disampaikan mendiang mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew.

Ia mengungkapkan, jika ingin sukses menerima tamu dari luar negeri, ada 3 hal yang perlu diperhatikan: halaman depan, ruang tamu, dan toilet.

Lalu apa kabar halaman depan alias bandara saat ada tambahan puluhan ribu orang datang dalam waktu bersamaan? Bagaimana transportasi yang mengantarkan mereka? Bagaimana pula pengaturan di sana? 

Dan terakhi, toilet kita!

Seberapa bersih dan wanginya toilet kita untuk diingat puluhan ribu orang dari puluhan negara yang akan bertandang.  Semoga kekhawatiran dalam tingkat kenyamanan “minimal” iniakan terjawab secepatnya.

Saya Aiman Witjaksono

Salam.


EditorHeru Margianto
Komentar

Close Ads X