Mustahil Membangun Jakarta Tanpa Menggusur

Kompas.com - 15/12/2017, 20:14 WIB
Suasana deretan rumah kumuh di bantaran kali di Jalan Jati Bunder, Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (5/9/2017). Pemprov DKI Jakarta bersama dengan Pemerintah Pusat akan menata kawasan kumuh melalui program 100-0-100 yang dicanangkan Kementerian Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat dengan target Jakarta bebas dari kawasan kumuh pada 2019 mendatang. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana deretan rumah kumuh di bantaran kali di Jalan Jati Bunder, Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (5/9/2017). Pemprov DKI Jakarta bersama dengan Pemerintah Pusat akan menata kawasan kumuh melalui program 100-0-100 yang dicanangkan Kementerian Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat dengan target Jakarta bebas dari kawasan kumuh pada 2019 mendatang.
EditorHeru Margianto


MEMBANGUN Jakarta itu artinya menambah hal-hal baru, sekaligus memperbaiki yang sudah ada. Dalam hal bangunan fisik, membangun Jakarta itu berarti membuat bangunan baru, juga memperbaiki bangunan fisik yang sudah ada.

Masalahnya, bangunan fisik di Jakarta itu banyak yang tidak benar. Banyak bangunan yang melanggar peraturan, atau tidak sesuai izin.

Apa yang harus dilakukan? Ubah atau bongkar. Banyak pula bangunan didirikan di atas lahan yang tidak sesuai peruntukan. Solusinya sama, bongkar.

Jakarta sudah puluhan tahun tumbuh liar. Begitu ada lahan kosong, orang mendirikan bangunan secara liar. Jangankan tanah kosong, yang bukan tanah kosong pun dipakai untuk bangunan. Banyak orang mendirikan gubuk di bahu jalan, trotoar, bahkan di atas badan jalan.

Ada pula yang membangun di bibir sungai, membuat sungai jadi sempit. Bahkan ada yang membangun di atas sungai. Sungai ditutup bagian atasnya, lalu di siti didirikan bangunan.

Padahal sungai ini tempat air mengalir. Ketika air tak bisa melewati sungai, maka air akan mengalir ke tempat-tempat lain, menimbulkan banjir.

Itulah antara lain yang ditemukan Gubernur Anies Baswedan di Jati Padang. Ia geleng-geleng melihat rumah-rumah dibangun di pinggir kali sampai di atas kali. (Baca: Anies Geleng-geleng Kepala Lihat Rumah Warga Caplok Bibir Kali Pulo)

Lalu, mau diapakan? Adakah cara menormalisasi sungai tanpa menggusur bangunan-bangunan itu? (Baca: Anies Bakal Tertibkan Bangunan Liar di Bantaran Sungai)

Menggusur bangunan- bangunan liar adalah keputusan logis dan benar. Itu juga yang harus dilakukan terhadap bedeng-bedeng liar yang dibangun di atas jalan kontrol sepanjang kanal banjir. Anies berjanji akan menggusurnya, entah sudah dilakukan atau belum.

Menggusur juga diperlukan ketika ada lahan milik perorangan atau lembaga yang hendak dipakai untuk keperluan umum, misalnya membangun jalan. Untuk membangun MRT Anies menegaskan harus ada bangunan yang digusur.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Wisatawan Diminta Pulang Usai Jalani Rapid Test di Stasiun Bogor

5 Wisatawan Diminta Pulang Usai Jalani Rapid Test di Stasiun Bogor

Megapolitan
Update 30 Oktober: Covid-19 di Kota Tangerang Kini 2.159, Bertambah 19 Kasus

Update 30 Oktober: Covid-19 di Kota Tangerang Kini 2.159, Bertambah 19 Kasus

Megapolitan
BNPB Minta Depok Segera Isolasi OTG Covid-19 di Lokasi Khusus

BNPB Minta Depok Segera Isolasi OTG Covid-19 di Lokasi Khusus

Megapolitan
KPU Tetapkan Jadwal Debat Kandidat Pilkada Tangsel: 22 November dan 3 Desember 2020

KPU Tetapkan Jadwal Debat Kandidat Pilkada Tangsel: 22 November dan 3 Desember 2020

Megapolitan
Libur Panjang, 509.140 kendaraan Tinggalkan Jakarta

Libur Panjang, 509.140 kendaraan Tinggalkan Jakarta

Megapolitan
[UPDATE] Grafik Covid-19 30 Oktober: Total 7.116 Kasus di Depok

[UPDATE] Grafik Covid-19 30 Oktober: Total 7.116 Kasus di Depok

Megapolitan
Polemik Lokasi Khusus Isolasi OTG Covid-19 di Depok, Kini BNPB Sebut Wisma Makara UI Boleh Dipakai

Polemik Lokasi Khusus Isolasi OTG Covid-19 di Depok, Kini BNPB Sebut Wisma Makara UI Boleh Dipakai

Megapolitan
Manajemen Terminal Kampung Rambutan Akan Bagikan Masker Kain untuk Penumpang

Manajemen Terminal Kampung Rambutan Akan Bagikan Masker Kain untuk Penumpang

Megapolitan
Peserta yang Lolos CPNS Bisa Mengundurkan Diri, Ini Tahapannya

Peserta yang Lolos CPNS Bisa Mengundurkan Diri, Ini Tahapannya

Megapolitan
Puncak Arus Balik Libur Panjang Diprediksi Terjadi pada Sabtu dan Minggu

Puncak Arus Balik Libur Panjang Diprediksi Terjadi pada Sabtu dan Minggu

Megapolitan
Libur Panjang, Barang Bawaan Penumpang Pesawat di Bandara Soekarno-Hatta Capai 178.508 Kilogram

Libur Panjang, Barang Bawaan Penumpang Pesawat di Bandara Soekarno-Hatta Capai 178.508 Kilogram

Megapolitan
Buru Pelaku Begal di Tanjung Priok, Polisi Kumpulkan Rekaman CCTV

Buru Pelaku Begal di Tanjung Priok, Polisi Kumpulkan Rekaman CCTV

Megapolitan
UPDATE 30 Oktober: 166 Pasien Positif Covid-19 di Tangsel Masih Dirawat

UPDATE 30 Oktober: 166 Pasien Positif Covid-19 di Tangsel Masih Dirawat

Megapolitan
Sesosok Jenazah Mengambang di Sungai Cisadane, Sudah Seminggu Dicari Keluarga

Sesosok Jenazah Mengambang di Sungai Cisadane, Sudah Seminggu Dicari Keluarga

Megapolitan
Tim Suksesnya Diintimidasi Saat Pasang APK, Benyamin Davnie: Serahkan Ke Kepolisian

Tim Suksesnya Diintimidasi Saat Pasang APK, Benyamin Davnie: Serahkan Ke Kepolisian

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X