Kaleidoskop 2017: Tahun Tumbangnya Ahok dan Djarot... - Kompas.com

Kaleidoskop 2017: Tahun Tumbangnya Ahok dan Djarot...

Kompas.com - 19/12/2017, 08:15 WIB
Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, saat memberikan keterangan pers di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta, Rabu, (19/4/2017). Pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta putaran kedua berlangsung pada hari ini.KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, saat memberikan keterangan pers di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta, Rabu, (19/4/2017). Pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta putaran kedua berlangsung pada hari ini.
JAKARTA, KOMPAS.com — Tidak akan ada yang melupakan tahun Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017 sebagai tahun politik panas di DKI Jakarta. Pada tahun ini, posisi menjadi orang nomor satu di Jakarta diperebutkan.
 
Adalah Basuki " Ahok" Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, pasangan petahana yang maju menjadi calon gubernur dan wakil gubernur. Pasangan dari Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, hadir sebagai penantang.
 
Ada satu pasang lagi dalam Pilkada DKI 2017, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni. Namun, Agus dan Sylviana tersingkir pada putaran pertama. Dengan demikian, pasangan Ahok-Djarot bersaing dengan Anies-Sandiaga pada putaran kedua.
 
Hasilnya sudah diketahui. Anies-Sandi keluar sebagai pemenang Pilkada DKI 2017 dan berhak menduduki kursi gubernur dan wakil gubernur. Berikut ini, Kompas.com merangkum rangkaian kejadian yang dialami Ahok dan Djarot menjelang kekalahan mereka pada 2017.
 
Terdakwa kasus dugaan penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengikuti sidang pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017). Majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana 2 tahun penjara. Basuki Tjahaja Purnama dan kuasa hukumnya menyatakan banding. POOL / KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Terdakwa kasus dugaan penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengikuti sidang pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017). Majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana 2 tahun penjara. Basuki Tjahaja Purnama dan kuasa hukumnya menyatakan banding.
 
1. Kasus penodaan agama
 
Ahok menjalani proses Pilkada DKI Jakarta dengan beban lebih besar dibandingkan dengan semua lawannya. Dia harus mengikuti persidangan kasus penodaan agama yang menimpanya.
 
 
Kasus itu bermula ketika dia melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Ahok dituduh menodai agama Islam karena mengutip Al-Maidah Ayat 51 dalam pidatonya.
 
Saat putaran kedua, proses sidang masih berjalan. Ahok mengosongkan waktu kampanyenya setiap Selasa untuk datang ke persidangan. 
 
2. Penolakan kampanye
 
Kasus yang menimpa Ahok berdampak pada proses kampanye. Ahok kerap menerima penolakan ketika berkampanye ke beberapa wilayah. Bahkan, penolakan itu mengawali kampanye Ahok awal tahun ini. 
 
Pada Senin (2/1/2017), Ahok berkampanye di Jalan Tipar Timur, Semper Barat. Ahok menyusuri permukiman padat di sana. Ia menyapa satu per satu warga yang mengerubutinya dan berada di depan rumah mereka masing-masing.
 
Setelah sekitar 60 menit menyusuri permukiman warga, sekelompok orang tiba-tiba datang dan berseru menolak kedatangannya.
 
"Tolak tolak tolak tolak si Ahok. Tolak si Ahok sekarang juga. Tolak kedatangan penista agama," seru mereka sambil mengepalkan tangan dan berjalan menuju jalan yang ditelusuri Ahok.
 
 
Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat usai melakukan shalat Idul Adha, di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (1/9/2017).KOMPAS.COM/Anggita Muslimah Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat usai melakukan shalat Idul Adha, di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (1/9/2017).
 
Penolakan tidak hanya terjadi pada Ahok. Sebagai pasangan Pilkada, Djarot juga kena imbas kasus penodaan agama itu. Djarot juga pernah ditolak ketika melakukan kampanye atau datang ke sebuah tempat. 
 
Salah satu peristiwa penolakan yang paling keras adalah ketika Djarot menghadiri acara haul Soeharto di Masjid At Tin, 11 Maret 2017. Terjadi ketegangan ketika Djarot akan masuk ke dalam mobil. Sebab, orang-orang meneriaki Djarot dan melempar botol minuman.
 
3. Kasus bagi-bagi sembako
Pada putaran kedua, kejadian yang menimpa pasangan Ahok-Djarot adalah adanya dugaan bagi-bagi sembako. Panwaslu Jakarta Utara pernah menemukan sebuah rumah tempat penyimpanan paket sembako di Warakas, Tanjung Priok. Paket sembako itu diduga akan dibagikan relawan Ahok-Djarot. 
 
Di Jakarta Timur, Panwaslu menemukan 6 karung paket sembako di Susukan dan 169 karung sembako atau sekitar 845 paket yang berisi beras, minyak goreng, dan gula pasir di Cakung Timur pada Minggu malam.
 
 
Sementara Panwaslu Jakarta Barat mengamankan sembilan mobil boks besar dan 11 karung berisi paket sembako di tiga wilayah di Jakarta Barat. Sembako tersebut diduga hendak dibagikan simpatisan Ahok-Djarot.
 
Namun, saat itu Ahok tidak pernah mengakui telah sengaja membagikan sembako untuk masyarakat demi mendulang suara. 
 
 
4. Kalah survei
Berbagai kejadian yang menimpa Ahok dan Djarot membuat suara mereka semakin berkurang. Pada 6 Maret  2017, lebih kurang satu bulan sebelum pencoblosan, Lembaga Media Survei Nasional merilis hasil survei elektabilitas Ahok-Djarot dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. 
 
Ketika itu, elektabilitas Ahok-Djarot 39,7 persen dan Anies-Sandi 46,3 persen. Lembaga yang sama kembali merilis hasil survei terbaru mereka pada 10 April. Hasilnya, elektabilitas Ahok-Djarot 43,5 persen dan Anies-Sandi 49,8 persen.
 
Pada 12 April 2017, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) juga merilis survei putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Survei ketika itu menunjukan elektabilitas Ahok-Djarot 46,9 persen dan Anies-Sandi 47,9 persen.
 
 
Kandidat calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat serta pasangan kandidat nomor urut 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berpose bersama moderator debat Ira Koesno usai Debat Publik Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (12/4/2017). Pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta putaran kedua akan dilaksanakan 19 April 2017 mendatang. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOKOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Kandidat calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat serta pasangan kandidat nomor urut 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berpose bersama moderator debat Ira Koesno usai Debat Publik Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (12/4/2017). Pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta putaran kedua akan dilaksanakan 19 April 2017 mendatang. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
 
5. Kekalahan tiba
Proses panjang nan melelahkan selama satu tahun terakhir berbuah kekalahan bagi Ahok dan Djarot. Pada 19 April 2017, pemungutan suara putaran kedua dilakukan. 
 
Sore harinya, masyarakat Jakarta sudah bisa mendapatkan hasilnya berdasarkan hitung cepat. Ahok dan Djarot sendiri menunggu hasil hitung cepat beberapa lembaga sampai selesai di Hotel Pullman.
 
Sampai akhirnya, semua lembaga survei menunjukkan kekalahan Ahok-Djarot pada putaran kedua. Pukul 17.00, Ahok-Djarot keluar sambil tersenyum di hadapan wartawan. Keduanya mengakui kekalahan mereka.
 
"Saya ucapkan selamat kepada beliau sambil kita menunggu nanti hasil penghitungan secara real count KPU DKI," ucap Djarot pada awal-awal pidato disambut tepuk tangan para pendukungnya.
 
Sementara itu, Ahok meminta pendukungnya segera melupakan persoalan pilkada. Dia meminta pendukungnya membantu membangun Jakarta bersama-sama. 
 
"Kepada pendukung kami, kami mengerti pasti sedih kecewa, tetapi enggak apa-apa. Percayalah kekuasaan itu Tuhan yang kasih, Tuhan yang ambil," kata Ahok. 
 
 
Ahok juga mengucapkan selamat kepada Anies dan Sandiaga yang berhasil memenangi Pilkada DKI 2017. 
 
"Selamat kepada Pak Anies dan Pak Sandi serta seluruh timses pendukung. Kita semua sama. Kita ingin Jakarta baik karena Jakarta rumah kita bersama," ucap Ahok menutup pidatonya saat itu. 
 
Dan, begitulah akhir karier Ahok dan Djarot menjadi orang nomor satu di Jakarta. Setelah kekalahan, Ahok dan Djarot seharusnya masih harus memimpin selama enam bulan seterusnya. Namun, seiring dengan berakhirnya Pilkada, berakhir juga rangkaian persidangan kasus penodaan agama. Hakim menjatuhkan vonis 2 tahun penjara untuk Ahok. 
 
Ahok dipenjara dan mundur dari jabatannya sebagai gubernur. Kemudian tinggal Djarot yang meneruskan semua visi-misi Jokowi Ahok sampai detik-detik terakhir. 
 
Kompas TV Karangan Bunga untuk Ahok-Djarot Datang Lagi

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorDian Maharani
Komentar

Close Ads X