Kasus Djeni Gelapkan 62 Mobil, Kriminolog: Agak Janggal kalau Dilakukan Sendirian

Kompas.com - 18/10/2019, 12:45 WIB
Pelaku penggelapan 62 unit mobil, Djeni Herilewie (39), di Mapolres Metro Jakarta Timur, Kamis (10/10/2019). Dokumentasi Polres Metro Jakarta TimurPelaku penggelapan 62 unit mobil, Djeni Herilewie (39), di Mapolres Metro Jakarta Timur, Kamis (10/10/2019).
Penulis Dean Pahrevi
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Josias Simon Runturambi ragu Djeni Herilewie (39) hanya beraksi seorang diri dalam menggelapkan 62 mobil sewaan.

Menurut Josias, ada kemungkinan Djeni tidak beraksi sendiri, tetapi ada jaringan yang dapat melancarkan aksinya dalam menggelapkan 62 mobil.

"Ada jaringan justru yang bisa membantu membuat Djeni bisa melakukan istilah polisi menggelapkan 62 mobil. Agak janggal kalau dikatakan itu Djeni sendiri yang bermain di belakang penggelapan itu," kata Josias saat dihubungi Kompas.com, Jumat (18/10/2019).

Adapun dalam aksinya, Djeni diketahui menyewa mobil di sejumlah rental atau perorangan dengan bermodalkan fotokopi KTP. Seusai mendapatkan mobil, Djeni menghilang dan mengganti nomor ponselnya.

Baca juga: Ulah Djeni Si Penggelap Mobil, Bikin Repot Keluarga hingga Jadi Target Kemarahan Para Korban

Kemudian, Djeni menggadaikan mobil rental tersebut ke korban atau warga yang memberinya uang gadai.

Terkait hal itu, Josias menjelaskan, kemungkinan ada jaringan dari sistem sewa-gadai yang dilakukan Djeni. Jaringan itu meliputi seluruh pihak yang terkait modus sewa-gadai itu.

"Jaringan ini bisa mulai dari rental. Artinya ada kelengahan dan dimanfaatkan gitu. Kan rental itu tidak sekali. Ada satu atau dua kali dan masih percaya (sama Djeni), ada kemungkinan ini jaringan, tapi jarang kalau jaringan dari Djeni tapi dia sudah melihat celahnya gitu, tingkat keterlibatan dari penyewa mungkin kecil, lebih banyak di pelaku dan yang melihat celahnya gitu, celah di penyewa dan penadah," ujar Josias.

Untuk itu, Josias berharap polisi mengusut tuntas kasus yang menjerat Djeni, dengan menelusuri adanya pihak yang terlibat dan sengaja dalam melancarkan aksi Djeni menggelapkan 62 mobil.

"Yang logis itu sewa-gadainya itu hal biasa, tapi untuk kualitasnya model kejahatan yang 62 mobil dan uang dihabiskan segala macam itu kualitasnya harus dipertanyakan gitu, kok bisa sebanyak itu? Karena ini yang kena semua dari pihak penyewa dan gadai itu kena dan harus ditelusuri," ujar Josias.

Baca juga: Raup Rp 2,5 Miliar dari Gelapkan 62 Mobil, Djeni Terlilit Utang

Sebelumnya, Djeni ditangkap polisi pada pertengahan September 2019 di daerah Rawamangun, Jakarta Timur, karena menggelapkan 62 mobil sewaan di Jakarta dan sekitarnya dalam waktu dua bulan.

Dalam menjalankan aksinya, Djeni menyewa mobil korban selama 2-3 hari dengan pembayaran lancar.

Setelah waktu habis, Djeni akan memperpanjang waktu sewa. Kemudian, dia kabur dengan mengganti nomor ponsel.

Polisi juga tengah mendalami penyelidikan kasus ini terkait apakah ada modus penggelapan atau penipuan lain yang dilakukan Djeni.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dampak Defisit Anggaran di DKI, Pembebasan Lahan Batal dan Normalisasi Ciliwung Berhenti

Dampak Defisit Anggaran di DKI, Pembebasan Lahan Batal dan Normalisasi Ciliwung Berhenti

Megapolitan
Warga Kampung Bulak Melawan Penertiban Lahan UIII, dari Keras hingga Memelas Lemas

Warga Kampung Bulak Melawan Penertiban Lahan UIII, dari Keras hingga Memelas Lemas

Megapolitan
Polisi Selidiki Kasus Nenek Penjual Sayur yang Disiram Cairan Kimia

Polisi Selidiki Kasus Nenek Penjual Sayur yang Disiram Cairan Kimia

Megapolitan
Kemesraan Anies-Nasdem dan Poros Baru Antitesis Jokowi dalam Pilpres 2024

Kemesraan Anies-Nasdem dan Poros Baru Antitesis Jokowi dalam Pilpres 2024

Megapolitan
Kisah Boby, Anak Buruh Lulusan Terbaik Program Studi Manajemen Agribisnis IPB

Kisah Boby, Anak Buruh Lulusan Terbaik Program Studi Manajemen Agribisnis IPB

Megapolitan
BMKG: Jabodebek Diguyur Hujan Hari Ini

BMKG: Jabodebek Diguyur Hujan Hari Ini

Megapolitan
Ketua DPRD Minta Pemprov DKI Hentikan Penebangan Pohon di Trotoar

Ketua DPRD Minta Pemprov DKI Hentikan Penebangan Pohon di Trotoar

Megapolitan
DKI Tak Bebaskan Tanah Tahun Ini, Normalisasi Ciliwung Tak Bisa Dikerjakan pada 2021

DKI Tak Bebaskan Tanah Tahun Ini, Normalisasi Ciliwung Tak Bisa Dikerjakan pada 2021

Megapolitan
Cerita Penjaga Warung dan Ojol yang Selamat dari Ulah Geng Motor di Cilincing

Cerita Penjaga Warung dan Ojol yang Selamat dari Ulah Geng Motor di Cilincing

Megapolitan
Sebelum Bunuh Satpam, Geng Motor Rampok Warung dan Bacok Ojol di Cilincing

Sebelum Bunuh Satpam, Geng Motor Rampok Warung dan Bacok Ojol di Cilincing

Megapolitan
Riwayat Jalan Inspeksi yang Dijebol untuk Akses Umum dan Diprotes Warga PIK...

Riwayat Jalan Inspeksi yang Dijebol untuk Akses Umum dan Diprotes Warga PIK...

Megapolitan
DKI Dinilai Tak Prioritaskan Penanggulangan Banjir, Anies Bilang Fokus Keruk Waduk dan Sungai

DKI Dinilai Tak Prioritaskan Penanggulangan Banjir, Anies Bilang Fokus Keruk Waduk dan Sungai

Megapolitan
Ada Ancaman Ginjal Diambil, Kepsek SDN Bambu Apus 02 Perketat Keamanan Siswa

Ada Ancaman Ginjal Diambil, Kepsek SDN Bambu Apus 02 Perketat Keamanan Siswa

Megapolitan
Petugas Sekuriti Tewas Dibacok Saat Kejar Geng Motor

Petugas Sekuriti Tewas Dibacok Saat Kejar Geng Motor

Megapolitan
Dampak Pembangunan JPO, Sepanjang Jalan Tanjung Barat dan Lenteng Agung Macet

Dampak Pembangunan JPO, Sepanjang Jalan Tanjung Barat dan Lenteng Agung Macet

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X