IDI Desak Pemerintah Libatkan Perguruan Tinggi di Depok untuk Genjot Produksi VTM

Kompas.com - 15/05/2020, 20:51 WIB
Alissa Eckert dan Dan Higgins, ilustrator dari Centers for Disease Control and Prevention, diminta untuk membuat ilustrasi virus corona yang mampu menarik perhatian publik. the new york timesAlissa Eckert dan Dan Higgins, ilustrator dari Centers for Disease Control and Prevention, diminta untuk membuat ilustrasi virus corona yang mampu menarik perhatian publik.

DEPOK, KOMPAS.com - Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Depok, Alif Noeriyanto, mendesak pemerintah memperbanyak sentra produksi VTM [virus/viral transport medium] di Depok.

VTM merupakan wadah untuk membawa/mengirim sampel tubuh pasien, dalam hal ini lendir tenggorokan suspect Covid-19, untuk diteliti kandungan virusnya di laboratorium.

Tanpa VTM, sampel lendir tenggorokan itu tak bisa dikirim ke laboratorium untuk diperiksa positif atau negatif Covid-19.

"Ketika zona-zona merah ditetapkan, ketersediaan VTM harus diperbanyak. Problemnya, bagaimana bisa memperbanyak kalau tempat produksinya sendiri tidak banyak?" kata Alif, Jumat (15/5/2020).

Baca juga: Depok Krisis VTM, Warga Positif Covid-19 Versi Rapid Test Belum Bisa Swab

Depok, termasuk Jabodetabek secara keseluruhan, telah lama ditetapkan sebagai zona merah persebaran Covid-19.

Kapasitas tes yang rendah masih menjadi sorotan hingga saat ini. Depok kemungkinan akan melipatgandakan kemampuan tes itu dengan memperbanyak laboratorium pemeriksaan Covid-19 berbasis PCR dalam waktu dekat.

Akan tetapi, banyaknya laboratorium dan mesin PCR tanpa diimbangi pasokan VTM yang memadai tak akan banyak gunanya.

"Oke kita punya mesin PCR 2 unit di RS Brimob. Ya kasih dong 3.000 VTM. Labkesda akan punya 2 unit mesin PCR, kasih 3.000 VTM. Lumayan toh?" ujar Alif.

"Saya dapat kabar dari beberapa rumah sakit swasta, mereka kekurangan bahkan ada yang enggak punya VTM," lanjut dia.

Sebagai solusi, Alif menyarankan agar pemerintah memanfaatkan kampus-kampus besar yang ada di Kota Depok untuk bantu memperbanyak produksi VTM.

Universitas Indonesia sampai Institut Teknologi Bandung, menurut Alif, seharusnya dikerahkan untuk memproduksi VTM dalam jumlah besar.

Baca juga: IDI: Kasus Covid-19 di Depok Masih Fluktuatif, Bukan Melandai

"Kan kita ada ITB deket Depok, ada UI, kenapa harus ke Eijkman? Sekarang kan juga banyak perusahaan swasta yang punya laboratorium. Jadi, pemerintah perbanyaklah tempat-tempat yang di-approve untuk membuat VTM. Itu penting," ungkap dia.

"Harus ada sarana dan prasarana. Sarananya ada, tapi prasarananya kurang. Ini PR besar bagaimana agar bisa dilengkapi," ujar Alif.

Data hingga Kamis kemarin, Kota Depok mencatat 369 warganya positif Covid-19, sebanyak 67 orang di antaranya dinyatakan sembuh dan 21 lainnya meninggal dunia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lucinta Luna Divonis 1,5 Tahun Penjara, Jaksa Banding

Lucinta Luna Divonis 1,5 Tahun Penjara, Jaksa Banding

Megapolitan
Garuda Indonesia Gelar Sayembara Desain Masker di Moncong Pesawat

Garuda Indonesia Gelar Sayembara Desain Masker di Moncong Pesawat

Megapolitan
Warga Kepulauan Seribu Keluhkan Kondisi Ekonomi akibat PSBB Jakarta

Warga Kepulauan Seribu Keluhkan Kondisi Ekonomi akibat PSBB Jakarta

Megapolitan
Polisi Masukkan Nama Cai Changpan ke Dalam DPO

Polisi Masukkan Nama Cai Changpan ke Dalam DPO

Megapolitan
Batasi Jam Operasional, Pemkot Bekasi Harap Pelaku Usaha Utamakan Kesehatan

Batasi Jam Operasional, Pemkot Bekasi Harap Pelaku Usaha Utamakan Kesehatan

Megapolitan
Warga Jakarta Pindah Tongkrongan ke Bodetabek, Wagub DKI Minta Perketat Protokol Kesehatan

Warga Jakarta Pindah Tongkrongan ke Bodetabek, Wagub DKI Minta Perketat Protokol Kesehatan

Megapolitan
Digemari Masyarakat, Ini Alasan Harga Janda Bolong Melambung

Digemari Masyarakat, Ini Alasan Harga Janda Bolong Melambung

Megapolitan
UPDATE 1 Oktober: Pasien Covid-19 Sembuh di Tangsel Capai 1.007 Orang

UPDATE 1 Oktober: Pasien Covid-19 Sembuh di Tangsel Capai 1.007 Orang

Megapolitan
Remaja Tewas Dibacok dalam Tawuran di Tengah Pandemi Covid-19

Remaja Tewas Dibacok dalam Tawuran di Tengah Pandemi Covid-19

Megapolitan
Kecelakaan hingga Mobil Terbalik di Tol JORR, Suami, Istri, dan Anak Selamat

Kecelakaan hingga Mobil Terbalik di Tol JORR, Suami, Istri, dan Anak Selamat

Megapolitan
Pangdam Jaya Sebut Belum Ada yang Kena Sanksi akibat Kericuhan di TMP Kalibata

Pangdam Jaya Sebut Belum Ada yang Kena Sanksi akibat Kericuhan di TMP Kalibata

Megapolitan
Satpol PP Bakal Segel Tempat Usaha di Kota Bekasi yang Beroperasi di Atas Pukul 18.00 WIB

Satpol PP Bakal Segel Tempat Usaha di Kota Bekasi yang Beroperasi di Atas Pukul 18.00 WIB

Megapolitan
Langkah Pengelola Atasi Anjloknya Jumlah Penumpang di Bandara Sekarno-Hatta Selama Pandemi

Langkah Pengelola Atasi Anjloknya Jumlah Penumpang di Bandara Sekarno-Hatta Selama Pandemi

Megapolitan
Kampanye di Buaran, Sara Janjikan Pusat Kesenian seperti TIM di Tangsel

Kampanye di Buaran, Sara Janjikan Pusat Kesenian seperti TIM di Tangsel

Megapolitan
Pasien OTG Meningkat, Pemprov DKI Terus Siagakan Fasilitas Isolasi Mandiri

Pasien OTG Meningkat, Pemprov DKI Terus Siagakan Fasilitas Isolasi Mandiri

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X