Kompas.com - 06/07/2021, 06:54 WIB
Petugas memakamkan jenazah dengan protokol COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta, Minggu (4/7/2021). Jumlah kematian akibat COVID-19 per hari Minggu (4/7/2021) mencapai 555 kasus, yang menjadi rekor tertinggi sejak kasus pertama COVID-19 di Indonesia diumumkan Presiden Joko Widodo pada awal Maret 2020.  ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww. 
ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAPetugas memakamkan jenazah dengan protokol COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta, Minggu (4/7/2021). Jumlah kematian akibat COVID-19 per hari Minggu (4/7/2021) mencapai 555 kasus, yang menjadi rekor tertinggi sejak kasus pertama COVID-19 di Indonesia diumumkan Presiden Joko Widodo pada awal Maret 2020. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ledakan kasus Covid-19 di Jakarta akhir-akhir ini terjadi begitu cepat dan dalam skala yang sangat besar.

Grafik kasus positif harian di Jakarta, yang dapat diakses melalui corona.jakarta.go.id, memperlihatkan peningkatan kasus yang sangat tajam pada Juni 2021.

Tidak seperti lonjakan sebelumnya yang terjadi dalam kurun waktu beberapa bulan, ledakan kasus kali ini terjadi hanya dalam hitungan minggu. Penambahan kasusnya pun tidak main-main.

Baca juga: Aturan PPKM Darurat: Dokumen Wajib yang Perlu Dibawa untuk Keluar Masuk Jakarta

Dua grafik di bawah ini memperlihatkan peningkatan yang tajam pada jumlah kasus positif harian di Jakarta (atas) dan jumlah pemakaman dengan menerapkan protap Covid-19 (bawah).

Grafik peningkatan kasus Covid-19 DKI Jakarta sejak Maret 2020 hingga awal Juli 2021Pemprov DKI Jakarta Grafik peningkatan kasus Covid-19 DKI Jakarta sejak Maret 2020 hingga awal Juli 2021

Grafik pemakaman menggunakan protap Covid-19 di DKI Jakarta sepanjang pandemi, dari Maret 2020 hingga awal Juli 2021.Pemprov DKI Jakarta Grafik pemakaman menggunakan protap Covid-19 di DKI Jakarta sepanjang pandemi, dari Maret 2020 hingga awal Juli 2021.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Grafik yang hampir serupa kita temukan pada kejadian di India, seperti dilansir BBC.com.

Grafik peningkatan kasus Covid-19 dan kematian akibat pandemi tersebut di India.BBC Grafik peningkatan kasus Covid-19 dan kematian akibat pandemi tersebut di India.

"Gelombang kedua yang lebih mematikan" ini terjadi begitu cepat di India, pada kurun waktu April hingga Mei.

Baca juga: Warga Persilakan Seorang Wanita Serobot Antrean Pengisian Tabung Oksigen demi Sang Ayah yang Kritis

Banyak pihak meyakini bahwa virus corona varian baru yang muncul di India, yakni varian Delta, berkontribusi pada ledakan Covid-19 tersebut. Varian ini lebih mudah menyebar dan menimbulkan gejala berat pada pasien.

Virus corona varian Delta sendiri sudah masuk ke Indonesia sejak beberapa minggu lalu. Dimulai dari lima temuan hingga akhirnya menjadi ratusan.

Rumah sakit kolaps, pasien meninggal di rumah

Media massa internasional memberitakan betapa gelombang kedua ini telah membuat rumah sakit (RS) di India lumpuh.

Hal yang sama telah kita saksikan di Ibu Kota Jakarta.

Banyak tenaga kesehatan di berbagai rumah sakit menjerit karena pasien datang tiada henti. Sementara itu, jumlah tenaga kesehatan dan fasilitas tempat tidur yang ada sangatlah terbatas.

Baca juga: 10.485 Kasus Baru Covid-19 hingga RS Kolaps di Jakarta Jadi Renungan dan Peringatan untuk Tetap di Rumah Saja

 

Seorang dokter yang bekerja di RS Islam Jakarta, Jack Pradono, mengatakan pada pertengahan Juni lalu bahwa pihak rumah sakit mulai menolak pasien yang datang.

"DI @rsijcempakaputih mulai tadi malam, Kami menolak pasien CoVid-19 baru karena tempat penuh, baik di paviliun isolasi maupun di ICU," tulis Jack di akun Instagram-nya pada Minggu (13/6/2021).

Jack telah mengizinkan Kompas.com untuk mengutip tulisan tersebut.

"Jadi bilamana ada orang dalam yang sakit, bahkan bila keluarga inti dari karyawan yang sakit Covid-19 hari ini, kami tidak akan bisa merawatnya," sambung Jack.

Bersama unggahan itu, ia pun mengajak para lulusan baru akademi keperawatan untuk bergabung sebagai relawan karena rumah sakit tersebut mulai kekurangan tenaga kesehatan.

"Kami butuh sekitar 48 orang nakes. Sila hubungi dan dm cv ke SDI kami: @ekoyulianto," tulisnya.

Baca juga: Lapor Covid-19 Frustrasi Lihat Pasien Telantar karena RS Kolaps di Mana-mana

Penuhnya fasilitas kesehatan ini membuat banyak pasien tidak tertampung dan mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.

Akhirnya, mereka harus menjalani isolasi mandiri di rumah. Tak sedikit dari pasien ini mengalami kondisi kritis saat isolasi mandiri dan meninggal di rumah.

Koalisi Lapor Covid-19 melaporkan, sepanjang Juni 2021, setidaknya 265 warga yang terpapar Covid-19 meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri.

"Fenomena ini menjadi potret nyata kolapsnya fasilitas kesehatan yang menyebabkan pasien Covid-19 kesulitan mendapatkan layanan medis yang layak," tulis Lapor Covid-19 dalam keterangannya.

"Situasi ini diperparah oleh komunikasi risiko yang buruk, yang menyebabkan sebagian masyarakat menghindari untuk ke rumah sakit dan memilih isolasi mandiri," tulis Lapor Covid-19.

Baca juga: Alarm Kembali Berbunyi, Jakarta Kini Darurat Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19

 

Tenaga kesehatan melakukan perawatan terhadap pasien Covid-19 diruang ICU di RSUD Koja, Jakarta Utara, Selasa (29/6/2021). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja menjadi rumah sakit (RS) khusus untuk pasien virus corona (Covid-19) sesuai surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemkes).KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Tenaga kesehatan melakukan perawatan terhadap pasien Covid-19 diruang ICU di RSUD Koja, Jakarta Utara, Selasa (29/6/2021). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja menjadi rumah sakit (RS) khusus untuk pasien virus corona (Covid-19) sesuai surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemkes).

Antre pemakaman

Bukan hanya pasien yang telantar, jenazah pasien pun harus menunggu untuk dikebumikan karena fasilitas dan sumber daya manusia yang serba terbatas.

Seorang warga Jakarta yang baru saja kehilangan kerabatnya, Azwar, pada Senin (28/6/2021) mengatakan bahwa mendiang mesti mengantre untuk dikebumikan.

Pihak rumah sakit mengatakan bahwa kerabatnya mendapatkan nomor urut 220 untuk pemakaman.

Setelah mencari lahan pemakaman yang kosong kian kemari, akhirnya keluarga Azwar menemukan slot di TPU Padurenan, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Pemakaman dengan protap Covid-19 bulan Juni naik lima sampai enam kali lipat dibandingkan bulan Mei. Ini juga merupakan pemakaman terbanyak sepanjang sejarah pandemi di Ibu Kota, dengan total lebih dari 3.000 jasad dimakamkan selama Juni.

(Penulis : Ihsanuddin, Singgih Wiryono, Vitorio Mantalean/ Editor : Sabrina Asril, Dani Prabowo, Irfan Maullana)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terduga Pelaku Tabrak Lari di Tol Sedyatmo Seorang Sopir Taksi Online

Terduga Pelaku Tabrak Lari di Tol Sedyatmo Seorang Sopir Taksi Online

Megapolitan
Polisi Amankan Terduga Pelaku Tabrak Lari di Tol Sedyatmo

Polisi Amankan Terduga Pelaku Tabrak Lari di Tol Sedyatmo

Megapolitan
7 Orang Terjebak Dalam Lift di Mal di Bekasi pada Sabtu Malam

7 Orang Terjebak Dalam Lift di Mal di Bekasi pada Sabtu Malam

Megapolitan
Jenazah Perempuan Ditemukan Mengambang di Tepi Kali Angke

Jenazah Perempuan Ditemukan Mengambang di Tepi Kali Angke

Megapolitan
Korban Pembacokan pada Kasus Tuduhan Pencurian WiFi Mengaku Pernah Diajak Damai Keluarga Pelaku

Korban Pembacokan pada Kasus Tuduhan Pencurian WiFi Mengaku Pernah Diajak Damai Keluarga Pelaku

Megapolitan
Vaksinasi Covid-19 Anak 12-17 Tahun di Tangsel Baru Capai 24,1 Persen

Vaksinasi Covid-19 Anak 12-17 Tahun di Tangsel Baru Capai 24,1 Persen

Megapolitan
Minggu Siang dan Sore, Beberapa Wilyah di DKI Berpotensi Hujan Disertai Angin Kencang

Minggu Siang dan Sore, Beberapa Wilyah di DKI Berpotensi Hujan Disertai Angin Kencang

Megapolitan
JakPro: FEO Akan Survei Lokasi Sirkuit Formula E Akhir Oktober Ini

JakPro: FEO Akan Survei Lokasi Sirkuit Formula E Akhir Oktober Ini

Megapolitan
Jenazah Pria dengan Luka Ditemukan di Gunung Antang, Jaktim

Jenazah Pria dengan Luka Ditemukan di Gunung Antang, Jaktim

Megapolitan
Jakarta Resmi Jadi Tuan Rumah Formula E, Lokasi Sirkuit Masih Tanda Tanya

Jakarta Resmi Jadi Tuan Rumah Formula E, Lokasi Sirkuit Masih Tanda Tanya

Megapolitan
Satu Operator Resmi Jadi Tersangka Kasus Crane Terguling di Depok

Satu Operator Resmi Jadi Tersangka Kasus Crane Terguling di Depok

Megapolitan
Gudang Sicepat di Sawah Besar Kebakaran, Diduga karena Korsleting Listrik

Gudang Sicepat di Sawah Besar Kebakaran, Diduga karena Korsleting Listrik

Megapolitan
Polisi Periksa 4 Saksi Terkait Kebakaran di Krendang Tambora

Polisi Periksa 4 Saksi Terkait Kebakaran di Krendang Tambora

Megapolitan
UPDATE 16 Oktober: Tangsel Catat Penambahan 10 Kasus Baru Covid-19

UPDATE 16 Oktober: Tangsel Catat Penambahan 10 Kasus Baru Covid-19

Megapolitan
UPDATE Kota Tangerang 16 Oktober: Tambah 3 Kasus, 49 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE Kota Tangerang 16 Oktober: Tambah 3 Kasus, 49 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.