Ade Armando Dikeroyok saat Demo 11 April, Terluka di Kepala, Wajah Pelaku Terekam Jelas

Kompas.com - 12/04/2022, 11:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya tengah menyelidiki kasus pengeroyokan terhadap Dosen Universitas Indonesia Ade Armando saat aksi demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR, Senin (11/4/2022).

Ade yang juga seorang pegiat media sosial itu dikeroyok saat massa aksi demonstrasi mulai ricuh.

Pakaiannya dilucuti lalu dipukuli oleh sejumlah orang yang ditengarai polisi sebagai massa cair.

Baca juga: Ade Armando Hadiri Demo Mahasiswa di Depan Gedung DPR untuk Bikin Konten YouTube

Akibat peristiwa itu, Ade pun mengalami luka serius di bagian kepala dan langsung dievakuasi ke rumah sakit oleh kepolisian yang bersiaga di lokasi demonstrasi.

Hingga kini, kepolisian masih mencari siapa sosok pelaku pengeroyokan dan motif dibalik tindakan tersebut.

Identitas sejumlah terduga pelaku pun sudah dikantongi kepolisian seiring dengan banyaknya video pengeroyokan Ade yang beredar di media sosial.

Dikeroyok usai massa aksi diminta bubar Kapolri

Peristiwa itu bermula saat massa aksi yang digelar Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) diminta bubar usai ditemui Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan tiga wakil ketua DPR RI, yakni Rachmat Gobel, Sumi Dasco dan Lodewijk.

Sebagian besar anggota kepolisian yang berjaga di depan gerbang pun ikut masuk ke area kompleks DPR RI mengikuti langkah Kapolri dan tiga wakil rakyat.

Tak lama kemudian, suasana yang tadinya kondusif tiba-tiba menjadi ricuh. Aksi saling dorong hingga melempar barang kemudian terjadi.

Massa yang mengenakan jas almamater mahasiswa akhirnya mundur ke arah timur Jalan Gatot Subroto.

Sedangkan sekelompok pemuda berpakaian bebas terlihat melempar botol plastik dan benda lainnya ke arah petugas.

Baca juga: Polisi Diminta Segera Tangkap Pelaku Penganiayaan Ade Armando

Sekelompok remaja yang diduga polisi sebagai massa cair itu kemudian membakar ban di depan gerbang DPR RI. Di sekitarnya, terlihat sejumlah orang berkerumun dan bertikai.

Bersamaan dengan itu, Ade Armando yang berada di lokasi tersebut pun diserang.

Dia didorong dan dipukuli hingga tersungkur ke aspal. Pakaian yang dikenakannya pun dilucuti.

Ade terkapar dengan kondisi tubuh penuh darah sampai akhirnya dievakuasi oleh personel kepolisian ke dalam kompleks parlemen, lalu dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans.

"Udah, udah, ini polisi!" teriak sejumlah orang yang membantu kepolisian mengevakuasi Ade Armando.

Baca juga: Jadi Korban Pengeroyokan, Ade Armando Disebut Sempat Dikepung Orang Tak Dikenal

Luka di kepala, kondisinya memprihatinkan

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran menyebutkan bahwa kondisi Ade Armando usai dikeroyok massa di depan Gedung DPR/MPR RI cukup memprihatinkan.

Menurut Fadil, dia mengalami luka serius di bagian kepala sehingga harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

"Kondisi Ade Armando cukup memprihatinkan, beliau terluka di bagian kepala," kata Fadil kepada wartawan di Gedung DPR/MPR, Senin (11/4/2022).

Fadil tidak menjelaskan secara terperinci di mana Ade Armando menjalani perawatan.

Baca juga: Pengeroyokan Ade Armando Diduga Dipicu oleh Makian Emak-emak

Dia hanya memastikan bahwa saat ini dosen Universitas Indonesia itu sudah ditangani oleh tim dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokes) Polda Metro Jaya.

"Sekarang sudah ditangani tim dokter Polda Metro Jaya. Sudah dikirim ke rumah sakit dan sudah ditangani dokter rumah sakit," kata Fadil.

"Saya pikir tidak penting dia di mana dirawatnya, yang penting sudah mendapat perawatan di rumah sakit," sambung Fadil.

Pengeroyok bukan petugas atau mahasiswa

Bersamaan dengan itu, Fadil memastikan bahwa pengeroyok Ade di depan Gedung DPR/MPR RI bukanlah massa dari kelompok mahasiswa.

Para pelaku itu juga disebut turut menyerang anggota kepolisian yang berusaha mengevakuasi Ade Armando.

"Pada saat anggota kami melakukan evakuasi (terhadap Ade Armando), massa non-mahasiswa bertambah beringas, menyerang anggota, sehingga 6 anggota kami yang melakukan evakuasi terluka," ungkap Fadil.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan menyatakan bahwa pelaku pengeroyokan Ade bukanlah petugas TNI-Polri.

"Jadi pemukulan itu tidak dilakukan oleh petugas, ini perlu saya tegaskan ya," kata Zulpan menegaskan.

Baca juga: Sekjen PIS Ungkap Kondisi Ade Armando, Muntah Darah dan Pendarahan di Kepala

Zulpan mengungkapkan bahwa polisi justru mendapati Ade sudah terluka parah akibat dipukuli, bahkan pakaian yang dikenakan telah dilucuti.

Pelaku teridentifikasi dan diminta serahkan diri

Fadil menegaskan bahwa kepolisian telah mengidentifikasi identitas terduga pelaku dan asal kelompoknya.

"Untuk para pelaku, kami sudah mengidentifikasi kelompoknya, sekaligus orang-orangnya," kata Fadil di Gedung DPR/MPR, Jakarta Pusat, Senin malam.

Untuk itu, kepolisian akan langsung menangkap para terduga pelaku tersebut jika tidak segera menyerahkan diri.

"Jika tak menyerahkan diri, kami akan tangkap," tegas Fadil.

Sementara itu, Zulpan menyebutkan sudah ada empat orang terduga pelaku yang telah teridentifikasi oleh penyidik.

Baca juga: Sekjen PIS Ungkap Detik-detik Pengeroyokan Ade Armando

Hal ini menyusul banyaknya video yang secara jelas memperlihatkan kejadian pengeroyokan Ade Armando oleh massa di depan Gedung DPR/MPR.

"Pertama atas nama Dhia Ul Haq, alamat Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur. Kedua bernama Ade Purnama, alamat Kampung Cijulang, Cisarua, Bogor," kata Zulpan dalam keterangannya.

Terduga pelaku ketiga, kata Zulpan, bernama Abdul Latip, warga Sukabumi, Jawa Barat.

Sementara itu, terduga pengeroyok keempat bernama Try Setia Budi Purwanto, warga Lampung.

"Itu adalah orang-orang yang sudah kami identifikasi sebagai terduga pelaku pemukulan terhadap Ade Armando," kata Zulpan.

Baca juga: Ultimatum Kapolda Metro kepada Pengeroyok Ade Armando agar Menyerahkan Diri

Alasan Ade Armando ikut demo 11 Maret

Sebelum kericuhan terjadi, Ade Armando sempat diwawancarai wartawan perihal alasan keikutsertaannya dalam aksi unjuk rasa bersama mahasiswa di depan kompleks parlemen.

"Saya tidak ikut demo, tetapi saya memantau dan saya ingin menyatakan mendukung," kata Ade, Senin siang.

Pegiat media sosial yang selama ini kerap menyuarakan dukungan ke Jokowi itu mengaku mendukung tuntutan mahasiswa, yakni menolak dilakukannya amendemen Undang-Undang Dasar 1945 yang ditengarai dapat mengakomodasi perubahan masa jabatan presiden.

"Kalau isunya meminta agar dibatalkan amendemen, saya rasa mayoritas bangsa setuju ya. Dan saya menyatakan persetujuan juga terhadap itu," kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Ade pun menyayangkan gerakan mahasiswa saat ini yang menurut dia sudah terpecah.

Baca juga: [POPULER JABODETABEK] Alasan BEM SI Geser Lokasi Demo ke DPR | Pengeroyok Ade Armando Terekam Jelas

 

Alhasil, gerakan yang dilakukan saat ini tidak terlalu masif.

"Sayangnya, BEM SI yang terpecah dan yang sekarang melakukan demo ini malah BEM SI yang lebih kecil," tutur dia.

Sebagai informasi, mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM SI menggelar unjuk rasa besar-besaran di depan Gedung DPR/MPR RI, Senin ini.

Ada empat poin tuntutan yang akan disampaikan mahasiswa dalam unjuk rasa tersebut.

Koordinator Media BEM SI Luthfi Yusrizal menyebutkan, poin pertama adalah mendesak dan menuntut wakil rakyat agar mendengarkan dan menyampaikan aspirasi rakyat.

Baca juga: Polda Metro Kantongi Identitas 4 Terduga Pelaku yang Keroyok Ade Armando

"Bukan aspirasi partai," kata Luthfi dalam keterangannya.

Poin kedua, BEM SI mendesak para wakil rakyat agar menjemput aspirasi rakyat yang telah disampaikan dalam aksi demonstrasi di berbagai daerah sejak 28 Maret 2022 sampai 11 April 2022.

Selanjutnya pada poin ketiga, BEM SI menuntut dan mendesak anggota parlemen secara tegas menolak penundaan pemilu 2024 atau masa jabatan 3 periode

"Mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk tidak mengkhianati konstitusi negara dengan melakukan amandemen," kata Luthfi.

Baca juga: Kapolda Metro Jaya: Ade Armando Dipukul dan Diinjak hingga Terluka di Kepala

Poin terakhir, BEM SI mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk menyampaikan kajian disertai 18 tuntutan mahasiswa kepada Presiden Joko Widodo, yang sampai saat ini belum terjawab.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.