Ingat, Paslon Harus Siap Menang dan Siap Kalah dalam Pilkada DKI - Kompas.com

Ingat, Paslon Harus Siap Menang dan Siap Kalah dalam Pilkada DKI

Yusa Djuyandi
Kompas.com - 17/04/2017, 10:17 WIB
KRISTIANTO PURNOMO Kandidat calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat serta pasangan kandidat nomor urut 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno saat Debat Publik Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (12/4/2017). Pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta putaran kedua akan dilaksanakan 19 April 2017 mendatang. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Pemungutan suara putaran kedua Pilkada DKI Jakarta tidak lama lagi akan dilaksanakan, hasilnya sudah pasti akan menentukan siapa sosok pasangan calon yang akan terpilih menjadi pemimpin di Provinsi DKI Jakarta selama periode 2017-2022.

Atmosfir persaingan politik pada perhelatan Pilkada DKI Jakarta kali ini memang dapat dikatakan panas, penyebabnya adalah persaingan dalam memenangkan pasangan calon tidak hanya terkait dengan adu gagasan atau program.

Di akar rumput, isu-isu non-konseptual berkembang dan mengalir dengan sangat deras, seperti halnya isu soal agama, etnis dan penghentian program bagi masyarakat yang memilih calon tertentu.

Apa yang akan terjadi jika melihat pada adanya masalah tersebut?

Maka jawabannya adalah pilihan masyarakat akan ditentukan oleh adanya unsur fear factor. Masyarakat takut memilih calon tertentu karena akan bersinggungan dengan kelompok masyarakat agama yang akan mempermasalahkan pengurusan pelayanan terkait dengan urusan keagamaan.

Di sisi lain masyarakat juga takut memilih karena tidak akan lagi menikmati fasilitas yang selama ini sudah mereka dapatkan. Berlangsungnya kondisi ini jelas memberikan ancaman terhadap proses demokrasi yang sudah terbangun, sebab masyarakat tidak lagi dapat memilih kandidat sesuai dengan hati nuraninya.

Panasnya persaingan politik pada Pilkada DKI Jakarta juga sudah banyak diketahui oleh masyarakat luas, tidak hanya nasional bahkan juga internasional, persoalan ini yang kemudian diharapkan tidak akan berlanjut pada kehidupan pasca Pilkada.

Sejauh ini memang dapat dikatakan kondisi sosial dan politik masih kondusif, tidak berujung pada konflik fisik, sebab masing-masing pihak menyadari bahwa konflik fisik menimbulkan risiko dan dampak negatif yang luas. Namun demikian bukan berarti tidak ada ancaman yang tidak perlu diwaspadai, konflik bisa terjadi bila terus terjadi gesekan sosial yang semakin mendalam, karenanya langkah antisipatif tetap perlu dilakukan.

Kemenangan Pilkada

Siapapun yang bersaing dalam sebuah kompetisi politik pasti akan selalu menginginkan kemenangan, dan ini bukan hanya berlaku bagi pasangan calon kepala daerah dan tim sukesnya, namun juga bagi para pendukung yang bergerak secara sukarela.

Bagi para relawan, sebagian besar dari mereka bergerak atas dasar hati nurani dan keyakinan bahwa calon yang mereka usung akan memberikan perubahan dan kebaikan bagi masyarakat. Oleh karenanya mereka kemudian mau bergerak untuk mensosialisasikan sosok dan program dari pihak yang diusungnya, tentu adanya gerakan itu juga diiringi dengan adanya harapan bahwa calon yang mereka dukung dapat menang dalam Pilkada.

Dari kubu Ahok- Djarot, terdapat Teman Ahok, sebuah kelompok relawan yang eksistensinya sudah muncul cukup lama. Meski memang sempat ada kekecewaan dari sebagian Teman Ahok soal majunya Ahok dengan jalur partai politik, namun sebagian besar masih tetap mendukung Ahok untuk dapat menang dalam Pilkada.

Dari kubu Anies dan Sandiaga Uno juga terdapat beberapa kelompok relawan yang tidak kalah kreatifnya, sebut saja Sahabat Sandiaga Uno ataupun Sandiaga Uno Digital Volunteer (Soldier).

Dalam sebuah kontestasi politik, dukungan kelompok atau relawan memberikan dampak yang sangat penting bagi pasangan calon kepala daerah, mereka tidak hanya menjadi penyemangat layaknya supporter sepak bola namun juga dapat menjadi penentu kemenangan.

Gerakan mereka yang bersifat sukarela dan didasarkan atas keyakinan terhadap calon yang di usung, mendorong mereka bekerja layaknya bola salju, yang ketika di atas masih kecil kemudian ketika meluncur kebawah bentuknya akan semakin besar. Inilah yang kemudian membuat para calon kepala daerah selalu berusaha untuk terus menjaga hubungan baik dengan para relawan.

Lain kelompok relawan, lain lagi kelompok partai politik yang bekerja atas dasar adanya kepentingan politik. Meski kepenting politik tidak selamanya dapat dikonotasikan secara negatif, sebab berbicara soal kepentingan rakyat juga masuk kedalam ranah politik, namun adanya kepentingan partai yang mendukung Ahok sempat menjadi persoalan bagi Teman Ahok.

Dukungan partai atas pasangan calon umumnya bisa didasarkan atas kesamaan program kerja dan/atau ideologis. Ketika sebuah partai memberikan dukungan maka partai akan menggerakan seluruh unsur organisasinya untuk memenangkan calon yang mereka usung, tidak jarang pula segala daya dan upaya dilakukan Parpol untuk menggolkan kandidatnya sebagai juara.

Kemenangan bagi calon kepala daerah, tim sukses dan kelompok relawan merupakan hal yang perlu diraih dengan kerja keras dan usaha yang optimal. Akan tetapi indikator itu tidak boleh dilepaskan dari adanya strategi politik yang bijak, dimana kemenangan harus diraih dengan cara yang baik jika untuk sebuah tujuan yang baik.

Hal yang kemudian perlu dicamkan adalah kemenangan yang diraih dalam persaingan politik adalah untuk kebaikan semua masyarakat, sebagaimana politik menurut Aristoteles adalah for the goodness of society. Dengan melakukan cara-cara yang baik dalam memperoleh kemenangan maka dapat membuat pengorbanan politik akan menjadi sangat berharga, sebab menang atau kalah banyak pihak akan tetap memberikan apresiasi positif atas upaya bersama dalam menjalankan prinsip fair play.

Akan tetapi sebaliknya sebuah kemenangan akan menjadi tidak bermakna jika dilakukan melalui cara-cara yang tidak baik, seperti dengan melakukan black campaign atau fitnah politik, serta menyinggung soal agama pihak lain yang pada akhirnya semua itu menimbulkan adanya konflik.

Meski pada umumnya persaingan Pilkada selalu panas hingga pada saat pemilihan, namun bukan berarti hal tersebut akan berhenti ketika sudah ada pemenang.

Apabila panasnya persaingan politik hanya terkait dengan program kerja dan perolehan suara, persoalan tersebut dapat berhenti hingga pada saat keluar pemenang. Namun bila hal tersebut telah menyinggung adanya unsur suku, agama dan ras (SARA), maka panasnya suhu politik akan masih terasa pada kehidupan pasca Pilkada.

Peran Calon Kepala Daerah

Upaya untuk mengantisipasi terjadinya potensi konflik antar massa pendukung bukan hanya menjadi tugas dari aparat kepolisian, peran utama dan terpenting adalah ada pada pasangan calon kepala daerah yang bersaing pada Pilkada DKI Jakarta.

Para pasangan calon kepala daerah harus memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri dan massa pendukungnya untuk tidak melontarkan ucapan-ucapan yang mampu menyulut emosi pihak lawan atau masyarakat pada umumnya. Calon kepala daerah juga diharapkan dapat mengontrol dan meminta kepada para pendukungnya untuk dapat meraih kemenangan dengan cara-cara yang baik.

Calon kepala daerah memang memainkan peran yang sangat penting dalam setiap perhelatan Pilkada, terutama dalam mendorong para pendukungnya untuk selalu menjaga perilaku dalam kehidupan berpolitik.

Sosok calon kepala daerah adalah panutan yang sikap dan ucapannya seringkali menjadi rujukan bagi para pengikutnya. Dalam kasus Pilkada DKI Jakarta, apresiasi perlu diberikan kepada pasangan calon yang mampu meminta dan mengontrol masyarakat pendukungnya untuk meredakan isu-isu agama atau etnis.

Apabila pasangan calon tidak bisa memberikan arah dan contoh yang baik maka bukan tidak mungkin hal itu akan diikuti oleh para pendukungnya, bahkan hingga pada saat pasca Pilkada.

Dalam contoh kasus pilkada di beberapa daerah dapat ditemukan adanya konflik yang masih berlanjut meski pemenang telah ditetapkan. Apa yang kemudian dikhawatirkan adalah bahwa kehidupan masyarakat pasca Pilkada akan terganggu oleh adanya konflik.

Tidak hanya itu, munculnya konflik yang terjadi pasca-pilkada juga meruntuhkan proses kedewasaan berpolitik yang sudah dibangun dengan susah payah.

Penting pula bagi pasangan calon yang ikut serta dalam kontestasi pilkada untuk ingat dengan janjinya dulu sebelum mencalonkan diri. Janji tersebut adalah siap menerima hasilnya, baik menang maupun kalah.

Siapapun akan merasa kecewa jika menerima kekalahan, namun jati diri seorang pemenang dan petarung profesional adalah dewasa dalam menerima kekalahan.

Apa yang telah diikrarkan oleh para pasangan calon juga seharusnya tidak cuma sekadar wacana, melainkan harus dibuktikan melalui sikap dan tindakan. Tindakan paslon itulah yang nanti akan dilihat baik oleh pendukung maupun relawannya.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorFidel Ali
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM