Salin Artikel

Bukan Monas, Ini Maskot Ibu Kota Jakarta Sesungguhnya

JAKARTA, KOMPAS.com - Ibu Kota Jakarta identik dengan Monumen Nasional (Monas) yang terletak di pusat kota, tepatnya di Medan Merdeka, Jakarta Pusat.

Banyak orang mungkin mengira bahwa monumen peringatan setinggi 132 meter ini merupakan maskot Jakarta. Namun, siapa sangka maskot sesungguhnya Ibu Kota Jakarta bukanlah Monas, melainkan salak condet dan elang bondol.

Hal ini tertuang dalam Keputusan Gubernur Nomor 1796 Tahun 1989 tentang Penetapan Salak Condet dan Burung Elang Bondol Sebagai Identitas/Maskot DKI Jakarta. Dokumen tersebut ditandatangani oleh Gubernur Wiyogo Admodarminto.

Keberadaanya yang langka mendasari Pemprov DKI Jakarta kala itu untuk menjadikan salak condet dan elang bondol sebagai maskot Ibu Kota.

Tujuannya adalah agar masyarakat mengenal dan melestarikan flora dan fauna tersebut.

Salak Condet

Berdasarkan naskah keputusan gubernur di atas, salak condet (Salacca zalacca) merupakan tanaman endemik Jakarta. Ia termasuk jenis flora langka yang penyebarannya terbatas pada Kawasan Cagar Budaya Condet, Jakarta Timur.

Pada tahun 2007, Pemprov DKI Jakarta mendedikasikan Kebun Cagar Buah Condet (KCBC) sebagai lahan konservasi salak condet, yang memiliki buah berkulit sisik dan berwarna coklat kehitaman.

Soal rasa, salak condet memiliki keunikan karena memiliki tiga varian rasa sekaligus, yakni manis, asam, dan sepet.

Bahkan karena keunikan rasanya, presiden pertama Republik Indonesia Soekarno sering menjadikan salak jenis ini sebagai salah satu sajian buah di Istana Negara, seperti dilansir Antara.

Keistimewaan lain dari salak condet adalah usia produktifnya yang panjang, yaitu mencapai 70 tahun. Salak condet bisa terus berbuah selama masa produktifnya tanpa kenal musim.

Bagi warga Jakarta yang ingin melihat langsung kebun dan buah salak condet dapat berkunjung ke KCBC tanpa dikenai biaya.

Kebun yang memiliki luas sekitar 3,7 hektar menampung kurang lebih 3.000 tanaman salak condet produktif.

Elang Bondol

Elang bondol (Haliastur indus) termasuk jenis satwa langka dan penyebarannya di DKI Jakarta terbatas pada gugusan Kepulauan Seribu.

Burung ini memiliki kemampuan terbang yang sangat prima serta mempunyai ketajaman mata dalam mencari mangsa.

"Perilaku ini dapat dijadikan simbol untuk warga Jakarta yang selalu dinamis, tangkas dan cepat dalam bertindak," tulis Keputusan Gubernur Nomor 1796 Tahun 1989.

Menurut arsip Kompas.com, elang bondol lebih mirip burung pemakan bangkai dibanding burung pemangsa seperti elang lain.

Burung ini berukuran sedang (43-51 cm), memiliki sayap yang lebar dengan ekor pendek dan membulat ketika membentang. Bagian kepala hingga dadanya berwarna putih, sedangkan sisanya berwarna merah bata.

Elang bondol bisa terbang di ketinggian 20 hingga 50 meter di atas permukaan tanah. Selain memangsa hewan yang ada di darat, ia juga mahir menangkap ikan, kepiting, dan katak.

Menurut Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Bevinka elang, termasuk elang bondol, bisa dijadikan sebagai indikator kebersihan suatu wilayah.

Jika di suatu wilayah masih terdapat banyak elang, maka itu menandakan bahwa wilayah tersebut bersih dari berbagai polusi. Di Jakarta sendiri elang bondol hanya ditemukan di wilayah Kepulauan Seribu.

Ambang kepunahan

Kebun Cagar Buah Condet menjadi satu dari sedikit lahan tersisa di Jakarta yang masih ditumbuhi salak condet. Tanaman itu pun saat ini terbatas hanya ada di Kelurahan Balekambang, Condet.

Padahal dahulunya, hingga 1980-an, pohon salak condet mendominasi kebun-kebun milik warga yang tersebar di empat kelurahan di kawasan Condet, yakni kelurahan Balekambang, Batuampar, Gedong dan Tengah.

Masa 1990-an menjadi awal perubahan nasib tanaman keluarga palem-paleman tersebut. Arus urbanisasi yang deras ke Ibu Kota mendorong masifnya alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman penduduk.

Pohon salak dibabat, dinding-dinding rumah dibangun. Kawasan yang dahulunya ditumbuhi salak condet telah berubah menjadi kawasan padat penduduk.

Berdasarkan laporan Warta Kota, hanya segelintir elang bondol yang masih tampak mengudara di wilayah Kepulauan Seribu. Padahal dulunya burung ini cukup mudah ditemui.

Benvika menggambarkan hal tersebut sebagai "sesuatu yang mengkhawatirkan". Dari tahun ke tahun, populasi elang bondol di Jakarta mengalami penyusutan drastis.

"Pada 2012 saja, kita hanya temukan sekitar 22 ekor elang bondol," ujar pendiri Pusat Konservasi Elang Bondol di Pulau Kotok, Kabupaten Kepulauan Seribu, tersebut.

Secara terpisah, Situs Hijau Indonesia hijauku.com menyebut keberadaan elang bondol semakin terancam dengan adanya mega proyek reklamasi di wilayah pesisir Jakarta.

Koordinator Komunitas Indonesian Friends of the Animals (Ifota) Marison Guciano mengatakan bahwa elang bondol bukanlah burung migran yang suka berpindah-pindah tempat.

"Oleh karena itu, mega proyek reklamasi 17 pulau buatan di utara Jakarta yang menggusur habitat elang bondol dipastikan akan menyebabkan kepunahan maskot Jakarta ini," tuturnya.

https://megapolitan.kompas.com/read/2020/12/17/13581911/bukan-monas-ini-maskot-ibu-kota-jakarta-sesungguhnya

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Street Race Perdana di Ancol Rampung, Pebalap: Dulu Kucing-kucingan dengan Polisi, Sekarang Difasilitasi

Street Race Perdana di Ancol Rampung, Pebalap: Dulu Kucing-kucingan dengan Polisi, Sekarang Difasilitasi

Megapolitan
Belasan Sekolah Ditutup akibat Covid-19, Disdik DKI Jakarta: Tak Ada Perubahan Kebijakan PTM 100 Persen

Belasan Sekolah Ditutup akibat Covid-19, Disdik DKI Jakarta: Tak Ada Perubahan Kebijakan PTM 100 Persen

Megapolitan
Guncangan Gempa Magnitudo 5,4 di Bayah Banten Pagi Ini Terasa hingga Jakarta Timur

Guncangan Gempa Magnitudo 5,4 di Bayah Banten Pagi Ini Terasa hingga Jakarta Timur

Megapolitan
Mengapa Pemprov DKI Ngotot Gelar PTM meski Sudah Muncul Kasus Covid-19 di 15 Sekolah? Ini Alasannya

Mengapa Pemprov DKI Ngotot Gelar PTM meski Sudah Muncul Kasus Covid-19 di 15 Sekolah? Ini Alasannya

Megapolitan
Anggota TNI AD Tewas Dikeroyok di Jakarta Utara, Polisi Amankan Seorang Pelaku

Anggota TNI AD Tewas Dikeroyok di Jakarta Utara, Polisi Amankan Seorang Pelaku

Megapolitan
Kronologi Melesatnya Omicron di Jakarta, Capai 720 Kasus dalam Sebulan

Kronologi Melesatnya Omicron di Jakarta, Capai 720 Kasus dalam Sebulan

Megapolitan
Rencana Kenaikan Tarif KRL Rp 2.000 untuk 25 Kilometer Pertama Tuai Pro dan Kontra

Rencana Kenaikan Tarif KRL Rp 2.000 untuk 25 Kilometer Pertama Tuai Pro dan Kontra

Megapolitan
UPDATE 16 Januari: Tambah 24 Kasus di Kota Tangerang, 150 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

UPDATE 16 Januari: Tambah 24 Kasus di Kota Tangerang, 150 Pasien Covid-19 Masih Dirawat

Megapolitan
Usai Giring Terperosok ke Kubangan Lumpur, Gubernur Anies Undang Nidji Check Sound di JIS

Usai Giring Terperosok ke Kubangan Lumpur, Gubernur Anies Undang Nidji Check Sound di JIS

Megapolitan
Omicron di Jakarta Meluas, Gejala Ringan tapi Tak Boleh Dianggap Enteng

Omicron di Jakarta Meluas, Gejala Ringan tapi Tak Boleh Dianggap Enteng

Megapolitan
Kasus Covid-19 Terus Meluas ke Sekolah-sekolah di Jakarta, Belajar Tatap Muka Masih Berjalan

Kasus Covid-19 Terus Meluas ke Sekolah-sekolah di Jakarta, Belajar Tatap Muka Masih Berjalan

Megapolitan
Pemkot Tangsel Kirim Bantuan 200 Paket Sembako untuk Korban Gempa Sumur Banten

Pemkot Tangsel Kirim Bantuan 200 Paket Sembako untuk Korban Gempa Sumur Banten

Megapolitan
Alarm Bahaya dari Jakarta, Kasus Covid-19 Meningkat Signifikan dan Jadi Medan Perang Pertama Hadapi Omicron

Alarm Bahaya dari Jakarta, Kasus Covid-19 Meningkat Signifikan dan Jadi Medan Perang Pertama Hadapi Omicron

Megapolitan
Acungkan Sajam ke Arah Warga Cimanggis, Pelaku Disebut Masih Berkaitan dengan Geng Tipar dan KM29

Acungkan Sajam ke Arah Warga Cimanggis, Pelaku Disebut Masih Berkaitan dengan Geng Tipar dan KM29

Megapolitan
Lanjutan Sidang Kasus Terorisme Munarman Hari Ini, JPU Hadirkan Saksi

Lanjutan Sidang Kasus Terorisme Munarman Hari Ini, JPU Hadirkan Saksi

Megapolitan
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.