BOGOR, KOMPAS.com —
Komisi Pemilihan Umum Kota Bogor menetapkan Bima Arya Sugiarto-Usmar Hariman sebagai wali kota dan wakil wali kota terpilih dan akan dilantik pada 7 April 2014.

Pelantikan bersamaan dengan berakhirnya masa jabatan Wali Kota Bogor Diani Budiarto dan Wakil Wali Kota Bogor Achmad Ru’yat. Sambil menunggu pelantikan, Bima-Usmar menyatakan ingin mulai bekerja. Namun, keduanya tidak akan mengganggu pemerintahan dan kebijakan Diani-Ru’yat yang masih berjalan.

Dalam pidato perayaan penetapan di kediaman di Pendapa Enam Baranangsiang Indah, Katulampa, Bogor Timur, Kota Bogor, Jumat (20/9), Bima mengatakan siap dan ingin mulai bekerja.

"Saya segera berkantor di Gedung Paguyuban Bogor untuk mencari solusi sehingga saat dilantik bisa segera bekerja," katanya.

Gedung Paguyuban Bogor di Jalan Pandu Raya, lanjut Bima, akan jadi pusat kegiatan selama masa transisi. Bima bertekad mencicil menyelesaikan masalah, antara lain penataan pedagang kaki lima, angkutan kota, kebersihan, dan pelayanan publik yang merupakan program 100 hari sesudah dilantik.

Bima memahami, di Kota Bogor terdapat 8.000-9.000 PKL. Dari jumlah itu, yang sudah ditampung di 14 lokasi binaan baru 2.000 PKL. Sisanya berjualan di fasilitas umum atau fasilitas sosial, antara lain trotoar, depan gedung, dan jalan, sehingga menimbulkan kesemrawutan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bima mengatakan, dalam masa transisi ini ingin mencari tempat yang berpotensi untuk menjadi lokasi penampungan PKL.

Angkutan

Terkait penataan angkutan kota, lanjut Bima, jumlah armada tidak akan ditambah. Saat ini, menurut Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kota Bogor, ada 3.412 angkutan kota yang melayani 23 trayek dan 4.644 minibus antarkota dalam provinsi yang melayani 10 trayek dari Kota Bogor.

Bima merasa tertantang mengatasi kemacetan. Panjang jalan belum bertambah, yakni 30,2 kilometer ruas nasional, 26,7 kilometer ruas provinsi, dan 564,2 kilometer ruas kota. Padahal, jumlah kendaraan selalu bertambah, yakni 270.845 unit pada 2010, 301.086 unit pada 2011, dan 305.440 unit pada 2012.

"Kami belum menang jika pendidikan dan kesehatan masih mahal, Bogor masih macet, PKL tidak ditata, serta tidak bersih," katanya.

Ketua KPU Kota Bogor Agus Teguh Suryaman mengatakan, rapat pleno pada Jumat menghasilkan keputusan Bima-Usmar ditetapkan memenangi Pilkada Kota Bogor sekaligus wali kota dan wakil wali kota terpilih. KPU masih memberi waktu sampai 25 September 2013 untuk mencermati apakah ada gugatan terhadap hasil Pilkada Kota Bogor atau tidak.

Bima-Usmar memenangi pilkada dengan meraih 132.835 suara sah atau 33,14 persen dari 400.871 total suara sah. Bima-Usmar unggul 1.755 suara sah atau 0,44 persen atas perolehan pasangan Achmad Ru’yat-Aim Halim Hermana yang meraih 131.080 suara sah.

Di urutan berikutnya pasangan Dody Rosadi-Untung W Maryono meraih 67.715 suara sah. Selanjutnya, pasangan Syaiful Anwar-Muztahidin Al Ayubi (independen) meraih 43.448 suara sah. Terakhir, pasangan Firman Sidik Halim-Gartono (independen) meraih 25.793 suara sah. (BRO)