Kompas.com - 07/11/2013, 16:40 WIB
Puluhan pasien Kartu Jakarta Sehat (KJS) berdesakan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Koja, Jakarta Utara, untuk mendapatkan kamar rawat inap kelas 3, Senin (27/5/2013). Setiap harinya sekitar 150 pasien KJS antre untuk mendapatkan ruang rawat inap di rumah sakit tersebut. KOMPAS / WISNU WIDIANTOROPuluhan pasien Kartu Jakarta Sehat (KJS) berdesakan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Koja, Jakarta Utara, untuk mendapatkan kamar rawat inap kelas 3, Senin (27/5/2013). Setiap harinya sekitar 150 pasien KJS antre untuk mendapatkan ruang rawat inap di rumah sakit tersebut.
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Akibat penuhnya ruangan perawatan, sejumlah pasien di RSUD Koja harus menginap selama berhari-hari di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Bahkan, ada pasien  yang harus menginap lima hari lamanya karena harus antre mendapatkan ruang rawat inap.

Tarimpen (72), pasien penyakit jantung, sudah empat hari menunggu di ruang IGD. Wanita beranak sembilan ini datang ke RS pada Sabtu 2 November 2013 malam. Namun, hingga Kamis ini, dia belum juga mendapatkan ruang inap.

"Kata suster, ruang ICU (Intensive Care Unit) penuh. Kan ibu mesti dirawat di ruang ICU. Sementara kalau sehari-hari saja saya paling tidak menghabiskan Rp 50.000 untuk makan dan lain-lain selama menjaga," kata Suwarti, anak keenam Tarimpen, di RS Koja, Kamis (7/11/2013).

Suwarti menuturkan, ibunya sering mengeluh karena sulit beristirahat di ruang IGD. Bahkan, Tarimpen sering terkejut lantaran ada teriakan pasien kecelakaan yang tengah ditangani suster di ruang tersebut.

Suwarti khawatir Tarimpen yang mengidap penyakit jantung akan kumat apabila terus terkejut ketika tidur pulas. "Saya takut ibu kenapa-kenapa kalau tidur di IGD. Nanti tahu-tahu jantungnya kumat terus 'lewat' (meninggal) karena kaget terus, bagaimana?" ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan keluarga pasien Raisah (51), Aef (31), warga Warakas. Ibu mertuanya itu sudah dirawat sejak Minggu 3 November 2013 lalu.

"Saya kira saya datang lagi sudah dapat kamar, tapi ternyata belum juga," keluhnya.

Padahal, tiga hari sebelum kembali ke RSUD Koja, ibu mertuanya yang mengalami komplikasi jantung dan diabetes sempat dirawat selama satu pekan. Pada saat itu, kondisi Raisah sebenarnya belum cukup pulih, tetapi karena sudah disuruh pulang maka keluarga membawanya pulang.

"Sebelumnya seminggu di sini, dapat tiga hari di rumah balik lagi. Padahal, waktu itu belum fit benar, tapi katanya suster kalau sudah seminggu harus pulang," ujarnya.

Direktur Utama RSUD Koja Togi Asman Sinaga membantah jika pasien dibiarkan terlalu lama di ruang IGD. Menurutnya, paling lama pasien itu hanya dua hari dirawat di IGD.

"Dari aturan yang ada, seharusnya maksimal dua hari sudah harus naik ke ruang perawatan," ujarnya.

Namun, dia tidak membantah bila selama ini tingkat hunian pasien di RSUD Koja memang tinggi. Setiap harinya, sebanyak 502-505 pasien yang dilayani. Total tempat tidur ada 571, dengan kelas 3 mencapai 460 tempat tidur.

Catatan dari IGD, saat ini ada sekitar tujuh pasien yang sedang menunggu untuk dinaikkan ke ruang rawat inap. Adapun aturannya adalah menunggu di IGD, kira-kira 1 atau 2 hari, kemudian pasien dirujuk, lalu masuk daftar tunggu untuk rawat inap.

"Saya belum lihat datanya bila ada yang sampai menunggu 4 hari, nanti saya cek dahulu," imbuhnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PSI Minta Anies Tinjau Langsung Lokasi Sirkuit Formula E di Ancol

PSI Minta Anies Tinjau Langsung Lokasi Sirkuit Formula E di Ancol

Megapolitan
14 Warga Cilandak Positif Omicron, Camat Sebut Terpapar Setelah Bepergian ke Luar Negeri

14 Warga Cilandak Positif Omicron, Camat Sebut Terpapar Setelah Bepergian ke Luar Negeri

Megapolitan
Kasus Covid-19 Melonjak, Pemkot Tangerang Hendak Terapkan Aturan WFH 50 Persen

Kasus Covid-19 Melonjak, Pemkot Tangerang Hendak Terapkan Aturan WFH 50 Persen

Megapolitan
Gulungan Kulit Kabel di Gorong-gorong Jadi Salah Satu Penyebab Banjir

Gulungan Kulit Kabel di Gorong-gorong Jadi Salah Satu Penyebab Banjir

Megapolitan
Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19, Ini yang Dilakukan RSUI Depok

Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19, Ini yang Dilakukan RSUI Depok

Megapolitan
Beredar, Video Tawuran Antarpelajar Bawa Senjata Tajam di Jatinegara, Polisi: Video Lama

Beredar, Video Tawuran Antarpelajar Bawa Senjata Tajam di Jatinegara, Polisi: Video Lama

Megapolitan
Kelakuan Pembeli Borong Minyak Goreng Rp 14.000, Ajak Sekeluarga karena Pembelian Dibatasi

Kelakuan Pembeli Borong Minyak Goreng Rp 14.000, Ajak Sekeluarga karena Pembelian Dibatasi

Megapolitan
Polda Metro Jaya Sebut Belum Ada Wacana Hentikan Sementara Aturan Ganjil Genap

Polda Metro Jaya Sebut Belum Ada Wacana Hentikan Sementara Aturan Ganjil Genap

Megapolitan
51 Guru dan Siswa di Sekolah Insan Cendekia Madani Serpong Positif Covid-19

51 Guru dan Siswa di Sekolah Insan Cendekia Madani Serpong Positif Covid-19

Megapolitan
Kronologi Polantas Ditabrak Pemotor yang Terobos Jalur Transjakarta di Simpang PGC

Kronologi Polantas Ditabrak Pemotor yang Terobos Jalur Transjakarta di Simpang PGC

Megapolitan
Sindir Anies Tak Turun Cek Lokasi Formula E, PSI: Padahal ke Warteg Saja Sempat

Sindir Anies Tak Turun Cek Lokasi Formula E, PSI: Padahal ke Warteg Saja Sempat

Megapolitan
Vaksinasi Dosis Ketiga secara 'Door to Door' Jangkau Lansia di Utan Panjang

Vaksinasi Dosis Ketiga secara "Door to Door" Jangkau Lansia di Utan Panjang

Megapolitan
Polisi Masih Dalami Motif Pelaku Bunuh Istrinya di Duren Sawit

Polisi Masih Dalami Motif Pelaku Bunuh Istrinya di Duren Sawit

Megapolitan
Berbincang lewat Zoom dengan Rahmat Effendi yang Ditahan KPK, Golkar Bekasi Klaim Tak Langgar Aturan

Berbincang lewat Zoom dengan Rahmat Effendi yang Ditahan KPK, Golkar Bekasi Klaim Tak Langgar Aturan

Megapolitan
Berlokasi di Dekat Klaster Covid-19 Krukut, SMKN 35 Hentikan PTM karena Temuan Kasus Positif

Berlokasi di Dekat Klaster Covid-19 Krukut, SMKN 35 Hentikan PTM karena Temuan Kasus Positif

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.