Jejaring di Pesanggrahan

Kompas.com - 18/08/2014, 14:00 WIB
Warga menikmati keteduhan taman di hutan kota Sangga Buana, Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Jumat (22/11). Hutan kota yang berada di pinggir Kali Pesanggrahan ini menjadi arena bermain dan rekreasi murah bagi warga sekitarnya. KOMPAS/WISNU WIDIANTOROWarga menikmati keteduhan taman di hutan kota Sangga Buana, Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Jumat (22/11). Hutan kota yang berada di pinggir Kali Pesanggrahan ini menjadi arena bermain dan rekreasi murah bagi warga sekitarnya.
EditorLaksono Hari Wiwoho


Oleh: Ingki Rinaldi

"Dedak, tahi kuda, dan sisa pembakaran sampah dengan perbandingan 1 : 1 : 1," kata Bodi Iskandar, Kamis (14/8/2014), di kompleks Hutan Kota Pesanggrahan, Sanggabuana, Karang Tengah, Jakarta Selatan. Ini cerita soal sayuran organik.

Bodi sedang menjelaskan tiga material utama penyusun media tanam untuk sejumlah jenis sayuran organik yang ditanam di sebagian lokasi tersebut.

Sudah empat bulan terakhir, bersama salah seorang rekannya, Bodi berada di lokasi itu guna mendampingi pegiat lingkungan Haji Chaerudin bertani organik. Bodi merupakan salah seorang lulusan program The Learning Farm di Cianjur, Jawa Barat.

Selama 100 hari, Bodi diajari berbagai hal tentang pertanian organik, termasuk filosofi dan aspek manajemen, selain sisi praktis dari praktik pertanian organik.

Di Pesanggrahan, Bodi di antaranya mengawal penggunaan media tanam untuk sejumlah sayur-mayur tadi. Program pertanian organik di perkotaan (urban farming) yang diinisiasi komunitas peduli lingkungan Greenweb itu sudah mulai berwujud.

Beragam sayuran, seperti terong, cabai, dan tomat, yang ditanam dalam polybag, berderet di sejumlah titik. ”Kami tanam di polybag karena tanahnya terkontaminasi," ujar Tantyo Bangun, salah seorang pendiri Greenweb.

Tempat itu memang dipergunakan pendekar lingkungan, Haji Chaerudin atau yang akrab disapa Babe Idin, untuk melakukan pemusnahan sampah. Sebuah alat bernama Waster (waste terminator) atau pemusnah sampah dengan metode pembakaran, sumbangan dari salah satu lembaga, beroperasi tanpa henti.

Alat itu memungkinkan sampah dibakar dalam suhu tinggi dengan bahan bakar sampah itu sendiri. Salah satu bagian tungku pyrolysis plasmatic menjebak gas dari sampah yang keluar akibat perbedaan tekanan dan suhu, menghasilkan panas hingga 800 derajat celsius.

Sebagian hasilnya adalah abu untuk media tanam, dan asap tipis yang sudah diluruhkan kandungan timbalnya. Menurut Babe Idin, dalam satu hari sampah seukuran 10 truk bisa dikumpulkan dari sekitar 16 titik.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anies Akui Secara Teknis Penambahan Lahan di Ancol adalah Reklamasi

Anies Akui Secara Teknis Penambahan Lahan di Ancol adalah Reklamasi

Megapolitan
Buka Suara soal Reklamasi Ancol, Anies: Ini untuk Melindungi Warga dari Banjir

Buka Suara soal Reklamasi Ancol, Anies: Ini untuk Melindungi Warga dari Banjir

Megapolitan
Lurah Grogol Selatan yang Dicopot Diduga Beri Pelayanan Langsung ke Djoko Tjandra Saat Bikin E-KTP

Lurah Grogol Selatan yang Dicopot Diduga Beri Pelayanan Langsung ke Djoko Tjandra Saat Bikin E-KTP

Megapolitan
Polisi: Jenazah Editor Metro TV Mulai Membusuk Saat Ditemukan

Polisi: Jenazah Editor Metro TV Mulai Membusuk Saat Ditemukan

Megapolitan
Usut Kasus Kematian Wartawan Metro TV, Polisi Periksa 12 Saksi

Usut Kasus Kematian Wartawan Metro TV, Polisi Periksa 12 Saksi

Megapolitan
Ada Luka Tusuk di Leher dan Paha Yodi Prabowo, Editor Metro TV yang Ditemukan Tewas

Ada Luka Tusuk di Leher dan Paha Yodi Prabowo, Editor Metro TV yang Ditemukan Tewas

Megapolitan
Lurah Grogol Selatan Dinilai Langgar Disiplin PNS karena Terbitkan E-KTP Djoko Tjandra

Lurah Grogol Selatan Dinilai Langgar Disiplin PNS karena Terbitkan E-KTP Djoko Tjandra

Megapolitan
Fakta Eksploitasi 305 Anak oleh WN Prancis, Bisa Bahasa Indonesia hingga Rehabilitasi Korban...

Fakta Eksploitasi 305 Anak oleh WN Prancis, Bisa Bahasa Indonesia hingga Rehabilitasi Korban...

Megapolitan
Fakta Tewasnya Editor Metro TV yang Ditemukan di Pinggir Tol Pesanggrahan

Fakta Tewasnya Editor Metro TV yang Ditemukan di Pinggir Tol Pesanggrahan

Megapolitan
Fakta Mobil Terjun ke Kalimalang, Sopir Diduga Mengantuk yang Berujung Tewasnya Ibu dan Anak

Fakta Mobil Terjun ke Kalimalang, Sopir Diduga Mengantuk yang Berujung Tewasnya Ibu dan Anak

Megapolitan
Saat Pandemi, Kelompok Tani Wanita Sunter Agung Panen Sawi 40 Kilogram

Saat Pandemi, Kelompok Tani Wanita Sunter Agung Panen Sawi 40 Kilogram

Megapolitan
Fakta Tiga Pilot Ditangkap Polisi karena Pakai Sabu, Ada yang Kerja untuk Maskapai Pemerintah

Fakta Tiga Pilot Ditangkap Polisi karena Pakai Sabu, Ada yang Kerja untuk Maskapai Pemerintah

Megapolitan
Pengelola Pabrik Diimbau Gelar Tes Massal untuk Cegah Penularan Covid-19

Pengelola Pabrik Diimbau Gelar Tes Massal untuk Cegah Penularan Covid-19

Megapolitan
Ini Alasan Reklamasi Ancol Belum Kuat Dasar Hukumnya

Ini Alasan Reklamasi Ancol Belum Kuat Dasar Hukumnya

Megapolitan
UPDATE 10 Juli: Tak Ada Penambahan Kasus, 8 Pasien Covid-19 di Kota Tangerang Sembuh

UPDATE 10 Juli: Tak Ada Penambahan Kasus, 8 Pasien Covid-19 di Kota Tangerang Sembuh

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X