Anggota Komplotan Bajing Loncat yang Tewas Ditembak adalah Seorang Residivis

Kompas.com - 14/05/2015, 15:12 WIB
Delapan remaja geng babe motor dicomot aparat Polsek Pulogadung dan Polres Metro Jakarta Timur terkait kasus begal jalanan oleh kelompok ini. Rabu (29/4/2015). Kompas.com/Robertus BelarminusDelapan remaja geng babe motor dicomot aparat Polsek Pulogadung dan Polres Metro Jakarta Timur terkait kasus begal jalanan oleh kelompok ini. Rabu (29/4/2015).
|
EditorDesy Afrianti
JAKARTA, KOMPAS.com — JY, salah satu dari tiga orang anggota kelompok bajing loncat di kawasan Pasar Pagi Asemka, Jakarta Barat, tewas ditembak setelah sebelumnya melawan polisi saat ditangkap, Kamis (14/5/2015) pagi. JY merupakan seorang yang dianggap cukup berbahaya dari anggota lain yang ada di kelompok itu.

"Pelaku yang meninggal dunia adalah seorang residivis. Keberadaannya cukup berbahaya karena berkali-kali melakukan kejahatan serupa," kata Kapolsek Tambora Komisaris Wirdhanto Hadicaksono, Kamis siang.

Wirdhanto bersama anggota Polsek Tambora mendapatkan laporan bahwa JY dan satu pelaku lainnya, CF, berada di daerah Pejagalan. Setibanya di lokasi, polisi memperingatkan kedua pelaku agar tidak melarikan diri, tetapi peringatan itu tidak digubris.

Bahkan, ketika polisi mengeluarkan tembakan peringatan, mereka tetap berupaya untuk kabur sehingga polisi memutuskan untuk menembak para pelaku guna melumpuhkan mereka.

CF tertembak di bagian kaki, sedangkan JY sendiri terkena tembakan di bagian punggung. JY pun tewas seketika di tempat kejadian.

Jenazah JY sudah dibawa ke Rumah Sakit Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, untuk diperiksa lebih lanjut. [Baca: Komplotan Bajing Loncat yang Ditangkap Beraksi Hampir Setiap Hari di Pasar Pagi]

CF sendiri telah dibawa ke Polsek Tambora untuk dimintai keterangan dan kepentingan pemeriksaan lebih lanjut. JY, CF, dan pelaku lain yang sudah terlebih dahulu ditangkap, U, hampir setiap hari mencuri di Pasar Pagi Asemka.

Mereka menyasar mobil-mobil boks yang berisi muatan barang-barang elektronik. Dengan berbekal linggis dan kunci L, mereka melakukan aksinya dengan memanfaatkan keramaian dan kepadatan lalu lintas di sana.

Atas tindakannya, para pelaku dikenakan Pasal 363 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pencurian dengan Pemberatan dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

2 Rumah Ambruk di Matraman, Warga Khawatir Ada Kejadian Serupa

2 Rumah Ambruk di Matraman, Warga Khawatir Ada Kejadian Serupa

Megapolitan
Rute LRT Pulo Gadung-Kebayoran Lama yang Berimpitan dengan MRT Diminta Dievaluasi

Rute LRT Pulo Gadung-Kebayoran Lama yang Berimpitan dengan MRT Diminta Dievaluasi

Megapolitan
Mobil Tabrak Pagar Gereja Immanuel di Gambir, Sopir Diduga Mengantuk

Mobil Tabrak Pagar Gereja Immanuel di Gambir, Sopir Diduga Mengantuk

Megapolitan
Pemilik Rumah yang Ambruk di Matraman Berharap Dijenguk Anies

Pemilik Rumah yang Ambruk di Matraman Berharap Dijenguk Anies

Megapolitan
Besok, Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II Dibuka, Tarif Masih Gratis

Besok, Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek II Dibuka, Tarif Masih Gratis

Megapolitan
Rumah Ambruk karena Galian Saluran, Pemilik Berharap Pemkot Bertanggung Jawab

Rumah Ambruk karena Galian Saluran, Pemilik Berharap Pemkot Bertanggung Jawab

Megapolitan
Polisi Serahkan Secara Simbolis Jenazah Warga Pakistan Tersangka Kasus Narkoba

Polisi Serahkan Secara Simbolis Jenazah Warga Pakistan Tersangka Kasus Narkoba

Megapolitan
2 Rumah di Matraman Ambruk, Diduga karena Pengerjaan Saluran Air

2 Rumah di Matraman Ambruk, Diduga karena Pengerjaan Saluran Air

Megapolitan
Cerita Bowo Dirikan Bilik Pintar buat Anak-anak Pemulung di Menteng Atas

Cerita Bowo Dirikan Bilik Pintar buat Anak-anak Pemulung di Menteng Atas

Megapolitan
Kota Bogor Rentan Bencana Tanah Longsor Saat Musim Hujan

Kota Bogor Rentan Bencana Tanah Longsor Saat Musim Hujan

Megapolitan
Bangun Bilik Pintar untuk Anak-anak Pemulung, Ini Alasan Bowo

Bangun Bilik Pintar untuk Anak-anak Pemulung, Ini Alasan Bowo

Megapolitan
Alasan Pembeli Sepatu Compass Rela Antre Semalaman: Kayaknya Gaul Gitu...

Alasan Pembeli Sepatu Compass Rela Antre Semalaman: Kayaknya Gaul Gitu...

Megapolitan
7 Fakta Kelihaian Azura Luna, Mengaku Sosialita Indonesia dan Menipu di Hong Kong

7 Fakta Kelihaian Azura Luna, Mengaku Sosialita Indonesia dan Menipu di Hong Kong

Megapolitan
Mengenal Bilik Pintar, Tempat Belajar di Antara Gunungan Sampah

Mengenal Bilik Pintar, Tempat Belajar di Antara Gunungan Sampah

Megapolitan
Penjualan Sepatu Compass di Grand Indonesia Dibatalkan, Pembeli Kecewa

Penjualan Sepatu Compass di Grand Indonesia Dibatalkan, Pembeli Kecewa

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X