Ahok: Saya Dituduh Melanggar, Itu karena Dinasnya "Ngaku" Saya yang Potong Anggaran

Kompas.com - 22/11/2015, 13:38 WIB
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di ruang kerjanya di Balai Kota, Sabtu (21/11/2015). KOMPAS.com/Kurnia Sari AzizaGubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di ruang kerjanya di Balai Kota, Sabtu (21/11/2015).
Penulis Jessi Carina
|
EditorIcha Rastika

JAKARTA, KOMPAS.com Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama membantah disebut melanggar mekanisme dengan memotong anggaran dalam Kebijakan Umum Anggaran Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2016.

Dia menilai, kepala dinas-lah yang tidak bisa memperjuangkan anggaran yang diajukannya dalam rapat dengan DPRD DKI. (Baca: Ahok Dinilai Lakukan Pelanggaran karena Potong Anggaran)

"Enggak ada pelanggaran dong, kan baru pembahasan belum tanda tangan KUA-PPAS. Boleh enggak saya bilang ke kamu (ke kepala dinas), 'Hei kamu dalam pembahasan dengan DPRD, standarnya ini ya. Kamu harus perjuangin ya'," ujar Ahok di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Minggu (22/11/2015).

Sebagai contoh, Ahok menganggap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Purba Hutapea keterlauan karena memasukkan anggaran sebesar Rp 10 miliar untuk Festival Kota Tua. (Baca: Anggaran Festival di Jakarta Dihapus)

Karena menganggapnya pemborosan, Ahok pun memotong anggaran untuk festival tersebut. Ahok meminta Purba untuk memperjuangkan anggaran yang telah dipotong tadi dalam rapat Banggar dengan DPRD. Namun, kata Ahok, Purba tidak melakukan hal tersebut.

Dalam rapat Banggar, Purba malah mengatakan bahwa anggaran tersebut dipotong oleh Ahok sehingga DPRD menuding Ahok berbuat pelanggaran karena memotong anggaran tanpa koordinasi.

Seharusnya, kata Ahok, Purba mengikuti anggaran yang telah direvisi tanpa perlu menyebut pemotongan itu dilakukan oleh Ahok. (Baca: Pembelian Alat Tulis sampai Rp 487 Miliar Satu Tahun, Ahok Akan "Sunat" Anggaran Tiap Dinas)

"Makanya saya bilang Disparbud nih kurang ajar banget. Sudah jelas Festival Kota Tua Rp 10 M. Apaan tuh bikin festival semalam ngabisin duit Rp 10 M? Kalau hiburan rakyat dikasih musik dangdut juga pada demen," ujar Ahok.

"Terus saya potong, saya bilang, 'Hei lo (Purba) kalau bahas dengan DPRD di Banggar, kamu bilang aku enggak jadi nih (anggarkan festival)'. Boleh enggak kita begitu? Boleh."

"Kenapa sekarang saya dituduh melanggar, karena dinasnya ngaku saya yang potongin (anggaran) dia, harusnya dinas ngikutin saya dong," tambah Ahok.

Menurut Ahok, ia baru bisa dikatakan melakukan pelanggaran jika pemotongan anggaran dilakukannya setelah penandatanganan KUA-PPAS 2016.

Bahkan, anggaran festival bernilai miliaran rupiah tersebut tidak bisa dia potong jika KUA-PPAS telanjur dia tanda tangani. (Baca: Kadisdik DKI Jamin Tak Ada Lagi Pengadaan Barang Tak Penting)

Namun, sekarang proses pembahasan belum selesai. Ahok pun merasa tidak masalah jika dia memotong anggaran pemborosan eksekutif sebelum dibawa ke rapat Banggar.

"Kan disebutin nih, mau pasang lampu, mau seminar, mau festival, mau apa. Misalnya saya sudah sempat tanda tangan (KUA-PPAS), seperti Festival Kota Tua segala macam nih tetap bisa jalan enggak? Bisa jalan, saya enggak bisa batalin. Kalau saya batalin, baru namanya saya buat pelanggaran," ujar Ahok.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jawaban Basarnas Soal Heboh Tanda SOS di Pulau Laki

Jawaban Basarnas Soal Heboh Tanda SOS di Pulau Laki

Megapolitan
Pasien Covid-19 yang Dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso Harus Siapkan Dokumen Ini

Pasien Covid-19 yang Dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso Harus Siapkan Dokumen Ini

Megapolitan
Aksi Pelecehan Seksual di Kompleks Perumahan Isa Bajaj, Ada yang Pamer Alat Vital hingga Begal Payudara

Aksi Pelecehan Seksual di Kompleks Perumahan Isa Bajaj, Ada yang Pamer Alat Vital hingga Begal Payudara

Megapolitan
Ruang Perawatan Pasien Covid-19 di RS Fatmawati Hampir 100 Persen Terisi

Ruang Perawatan Pasien Covid-19 di RS Fatmawati Hampir 100 Persen Terisi

Megapolitan
Kasus Covid-19 di Jakarta Barat Melonjak Dua Kali Lipat 2 Pekan Terakhir

Kasus Covid-19 di Jakarta Barat Melonjak Dua Kali Lipat 2 Pekan Terakhir

Megapolitan
Menanti Gebrakan Pemerintah Pusat di Tengah Kolapsnya RS Covid-19 di Jabodetabek

Menanti Gebrakan Pemerintah Pusat di Tengah Kolapsnya RS Covid-19 di Jabodetabek

Megapolitan
Pasien Antre, RSPI Sulianti Saroso Tambah Ruang Perawatan Pasien Covid-19

Pasien Antre, RSPI Sulianti Saroso Tambah Ruang Perawatan Pasien Covid-19

Megapolitan
Update 20 Januari: RS Wisma Atlet Rawat 4.651 Pasien Covid-19

Update 20 Januari: RS Wisma Atlet Rawat 4.651 Pasien Covid-19

Megapolitan
Kasus Covid-19 Terus Meningkat, RS di Kota Bogor Kekurangan Ventilator

Kasus Covid-19 Terus Meningkat, RS di Kota Bogor Kekurangan Ventilator

Megapolitan
Hari Ini, John Kei Bacakan Nota Keberatan atas Dakwaan Pembunuhan Berencana

Hari Ini, John Kei Bacakan Nota Keberatan atas Dakwaan Pembunuhan Berencana

Megapolitan
Permintaan Plasma Konvalesen Meningkat, 17 RS Menunggu Stok di PMI Tangsel

Permintaan Plasma Konvalesen Meningkat, 17 RS Menunggu Stok di PMI Tangsel

Megapolitan
Tak Tahu Pedagang Mogok Jualan, Pembeli Masih Cari Daging Sapi di Pasar Tangerang

Tak Tahu Pedagang Mogok Jualan, Pembeli Masih Cari Daging Sapi di Pasar Tangerang

Megapolitan
Tangsel Kehabisan Stok Plasma Konvalesen untuk Terapi Pasien Covid-19

Tangsel Kehabisan Stok Plasma Konvalesen untuk Terapi Pasien Covid-19

Megapolitan
Fakta Terbaru Kasus Mesum di RSD Wisma Atlet, Pasien Jadi Tersangka, Perawat Tak Dipidana

Fakta Terbaru Kasus Mesum di RSD Wisma Atlet, Pasien Jadi Tersangka, Perawat Tak Dipidana

Megapolitan
Kolapsnya RS Rujukan di Jabodetabek, Antrean UGD hingga Pasien Meninggal karena Telantar

Kolapsnya RS Rujukan di Jabodetabek, Antrean UGD hingga Pasien Meninggal karena Telantar

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X