Bisnis Tanaman Hias di Senayan yang Meredup...

Kompas.com - 01/02/2017, 13:27 WIB
Saung yang baru dibangun di tempat relokasi Sentra Tanaman Hias Senayan. KOMPAS.com/SRI NOVIYANTISaung yang baru dibangun di tempat relokasi Sentra Tanaman Hias Senayan.
|
EditorIcha Rastika

“Kakak saya dari 1985. Pedagang di sini, rata-rata sudah generasi kedua atau ketiga. Turun temurun, mereka berdagang tanaman hias,” lanjutnya.

Selain itu, kata Mansyur, tanaman yang dijual para pedagang di Senayan lebih lengkap.

Sudah begitu, mereka mampu memberikan harga lebih murah. Tanaman hias yang dijual Mansyur mulai dari Rp 10.000-Rp 11.000.000.

Mata pencarian utama

Mansyur sadar betul, ketika imbauan relokasi datang kepadanya, berarti harus ada waktu adaptasi lagi. Terlebih lagi, lokasi yang disediakan berada di dalam Kompleks GBK.

Ia menanamkan pikiran positif bahwa pihak pengelola ingin memberikan tempat lebih laik.

Kalau sebelumnya lapak pedagang terkesan asal, kini lapak mereka ditata dengan luas satu lapak 3 x 5 meter.

“Lebih rapi memang kelihatannya, lalu beberapa bulan lalu juga dibangun saung-saung seperti tempat wisata. Tempatnya lebih nyaman, andai saja dibarengi dengan banyaknya pembeli,” imbuh Mansyur.

Harapan lain, datang dari pikirannya yang mengatakan bahwa peluang mendapat pembeli bisa saja datang dari pengunjung pameran-pameran di GBK.

“Ternyata, tidak semudah itu. Sampai saat ini, adanya pameran tidak begitu mempengaruhi datangnya pengunjung ke lapak kami. Meskipun, masih ada orang yang iseng datang membeli saat akhir pekan. Mereka adalah orang-orang yang datang olahraga,” tutur dia.

(Baca juga: Meski Keberatan, Pedagang Tanaman Senayan Mundurkan Lapak)

Keadaan yang seperti itu membuat teman-temannya sesama pedagang banyak mengeluh.

Bahkan, kata Mansyur, jumlah pedagang mulai berkurang. Tadinya ada 115 pedagang di sana. Kini, jumlahnya tinggal 80-an.

Kata Mansyur, pedagang berkurang karena banyak yang beralih profesi. Kalau tetap di sini, mereka tak kuat dengan biaya sewa yang harus dibayarkan per bulan.

Sebelum direlokasi, pedagang hanya perlu membayar retribusi lebih kurang Rp 90.000 per bulan. Sekarang, satu lapak dihargai Rp 250.000 per bulan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BMKG: Sore Ini, Hujan Lebat Berpotensi Turun di Sebagian Jabodetabek dan Kabupaten Bogor

BMKG: Sore Ini, Hujan Lebat Berpotensi Turun di Sebagian Jabodetabek dan Kabupaten Bogor

Megapolitan
Lokasi Pembangunan BTB School di Taman Pluit Putri Terendam Banjir

Lokasi Pembangunan BTB School di Taman Pluit Putri Terendam Banjir

Megapolitan
Ekskavator Timpa JPO Abdullah Syafei, Operator Mengantuk akibat Begadang

Ekskavator Timpa JPO Abdullah Syafei, Operator Mengantuk akibat Begadang

Megapolitan
Sering Hujan Lebat di Jakarta dan Sekitarnya, Ini Penjelasan BMKG

Sering Hujan Lebat di Jakarta dan Sekitarnya, Ini Penjelasan BMKG

Megapolitan
Soal Penanganan Covid-19, Epidemiolog: Depok Harus Dibantu Jakarta

Soal Penanganan Covid-19, Epidemiolog: Depok Harus Dibantu Jakarta

Megapolitan
Kedapatan Layani Dine In, Sebuah Restoran di Hotel Rawamangun Ditutup Tiga Hari

Kedapatan Layani Dine In, Sebuah Restoran di Hotel Rawamangun Ditutup Tiga Hari

Megapolitan
SDA Jakpus Rencanakan Buat Pintu Air Cegah Kembali Genangan di TPU Karet Bivak

SDA Jakpus Rencanakan Buat Pintu Air Cegah Kembali Genangan di TPU Karet Bivak

Megapolitan
Ekskavator Timpa JPO Abdullah Syafei, Terguling Saat Akan Diangkut

Ekskavator Timpa JPO Abdullah Syafei, Terguling Saat Akan Diangkut

Megapolitan
Banjir Terjang Ranggamekar Bogor, Dinding Dapur Rumah Warga Jebol

Banjir Terjang Ranggamekar Bogor, Dinding Dapur Rumah Warga Jebol

Megapolitan
Polres Bandara Soetta Musnahkan 893,7 Gram Sabu Selundupan Lintas Provinsi

Polres Bandara Soetta Musnahkan 893,7 Gram Sabu Selundupan Lintas Provinsi

Megapolitan
Banjir yang Merendam RW 004 Kembangan Utara Akhirnya Surut

Banjir yang Merendam RW 004 Kembangan Utara Akhirnya Surut

Megapolitan
Wagub DKI: Kami Rapat Hampir Tiap Hari dengan Pusat, Bahas ICU Pasien Covid-19 hingga Karantina

Wagub DKI: Kami Rapat Hampir Tiap Hari dengan Pusat, Bahas ICU Pasien Covid-19 hingga Karantina

Megapolitan
Langgar Batas Jam Operasional, Tempat Hiburan Malam hingga Spa di Bekasi Disegel

Langgar Batas Jam Operasional, Tempat Hiburan Malam hingga Spa di Bekasi Disegel

Megapolitan
Epidemiolog: Kapasitas RS Rujukan Covid-19 di Depok Kecil, Wajar Cepat Penuh

Epidemiolog: Kapasitas RS Rujukan Covid-19 di Depok Kecil, Wajar Cepat Penuh

Megapolitan
Pemprov DKI Jakarta Angkut 951 Meter Kubik Sampah akibat Banjir Semalam

Pemprov DKI Jakarta Angkut 951 Meter Kubik Sampah akibat Banjir Semalam

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X