Jakarta Makin Macet, Polisi Ingin Perbanyak "Pak Ogah"

Kompas.com - 21/07/2017, 12:15 WIB
Pak ogah beroperasi di putaran balik dekat halte transjakarta Pangeran Jayakarta, Selasa (2/9/2014). Kompas.com/Robertus BelarminusPak ogah beroperasi di putaran balik dekat halte transjakarta Pangeran Jayakarta, Selasa (2/9/2014).
|
EditorEgidius Patnistik

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam upaya mengurangi kemacetan di Jakarta yang semakin parah akibat banyaknya pembangunan infrastruktur, Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagarra mewacanakan untuk menggandeng banyak pengatur lalu lintas dari warga sipil atau " Pak Ogah".

"Karena sedang pembangunan infrastruktur kami perbanyak personel, terutama di Kuningan, nanti menggunakan sukarelawan pengatur lalu lintas, itu program yang akan dibicarakan, nanti dia akan pakai seragam yang ngatur," kata Halim di Mapolda Metro Jaya, Jumat (21/7/2017).

Halim mengatakan unsur pengatur lalu lintas itu nanti akan dinamai Supertas atau Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas. Meski berstatus sukarelawan, Halim mengatakan mereka akan digaji oleh badan usaha di sekitar titik kemacetan tersebut.

Lihat juga: Satpol PP Diinstruksikan Segera Razia Pak Ogah

"Itu kami minta beberapa perusahaan untuk menggaji dia, CSR (Corporate Social Responsibility)," ujar Halim.

"Pak Ogah" yang selama ini banyak terdapat di jalanan biasanya meminta atau mengharapkan uang jasa yang para pengendara  yang melintas.

Beberapa waktu lalu, Polda Metro Jaya juga membentuk tim pengurai kemacetan yang diisi oleh sisa sumber daya kepolisian setempat untuk mengatur lalu lintas pada jam sibuk, terutama sore hari.

Baca juga: Djarot Minta Maaf Jakarta Makin Macet karena Banyak Pembangunan Jalan



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rencana Melonggarkan PSBB demi Selamatkan Perekonomian Kota Tangerang

Rencana Melonggarkan PSBB demi Selamatkan Perekonomian Kota Tangerang

Megapolitan
PSBB Transisi di Jakarta, Grafik Kasus Baru Covid-19 Makin Menanjak

PSBB Transisi di Jakarta, Grafik Kasus Baru Covid-19 Makin Menanjak

Megapolitan
Atasi Krisis Pangan Akibat Pandemi, IPB Minta Diversifikasi Pangan Diperkuat

Atasi Krisis Pangan Akibat Pandemi, IPB Minta Diversifikasi Pangan Diperkuat

Megapolitan
Keluarga Korban Peluru Nyasar di Pademangan, Berharap Kasus Segera Terungkap

Keluarga Korban Peluru Nyasar di Pademangan, Berharap Kasus Segera Terungkap

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Herannya Ahok soal Reklamasi Ancol | 30 RW Zona Merah Covid-19 di Jakarta

[POPULER JABODETABEK] Herannya Ahok soal Reklamasi Ancol | 30 RW Zona Merah Covid-19 di Jakarta

Megapolitan
UPDATE 13 Juli: Bertambah 3, Total 437 Kasus Positif Covid-19 di Tangsel

UPDATE 13 Juli: Bertambah 3, Total 437 Kasus Positif Covid-19 di Tangsel

Megapolitan
Fakta-fakta Predator Seksual 305 Anak Asal Perancis Meninggal karena Percobaan Bunuh Diri

Fakta-fakta Predator Seksual 305 Anak Asal Perancis Meninggal karena Percobaan Bunuh Diri

Megapolitan
Dishub DKI Akan Tiadakan Jalur Khusus Pesepeda di Sudirman-Thamrin Setiap Hari Minggu

Dishub DKI Akan Tiadakan Jalur Khusus Pesepeda di Sudirman-Thamrin Setiap Hari Minggu

Megapolitan
Ayah Korban Pencabulan Pejabat Gereja di Depok: Anak Saya Dicabuli 4 Kali

Ayah Korban Pencabulan Pejabat Gereja di Depok: Anak Saya Dicabuli 4 Kali

Megapolitan
UPDATE 13 Juli: Ada 14 RW dan 11 Kelurahan Masuk Zona Merah di Kota Bekasi

UPDATE 13 Juli: Ada 14 RW dan 11 Kelurahan Masuk Zona Merah di Kota Bekasi

Megapolitan
Kini Ada 273 Pedagang di 43 Pasar Jakarta Positif Covid-19, Berikut Daftarnya

Kini Ada 273 Pedagang di 43 Pasar Jakarta Positif Covid-19, Berikut Daftarnya

Megapolitan
BPTJ: Pengguna Bus Gratis Lebih dari 1.000 Orang, Hanya 70-an Unit Terpakai

BPTJ: Pengguna Bus Gratis Lebih dari 1.000 Orang, Hanya 70-an Unit Terpakai

Megapolitan
Kemarin Kumpulkan Murid, SMAN 2 Depok Dipastikan Belajar Online Hari Ini

Kemarin Kumpulkan Murid, SMAN 2 Depok Dipastikan Belajar Online Hari Ini

Megapolitan
Risih dan Aneh, Cerita Siswa Ikut Pengenalan Sekolah pada Hari Pertama

Risih dan Aneh, Cerita Siswa Ikut Pengenalan Sekolah pada Hari Pertama

Megapolitan
UPDATE Covid-19 13 Juli: Pasien Pulih di Depok Tambah 25 Orang

UPDATE Covid-19 13 Juli: Pasien Pulih di Depok Tambah 25 Orang

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X