Korban Salah Tangkap Kasus Pencurian Motor Tak Bisa Melamar Kerja

Kompas.com - 23/01/2018, 15:30 WIB
Herianto (23) korban salah tangkap dalam kasus pencurian sepeda motor hadir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (23/1/2018). KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFARHerianto (23) korban salah tangkap dalam kasus pencurian sepeda motor hadir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (23/1/2018).
|
EditorEgidius Patnistik

JAKARTA, KOMPAS.com - Herianto (23), korban salah tangkap kasus pencurian sepeda motor di Bekasi, Jawa Barat, pada Juni 2016, mengaku kecewa dengan putusan hakim yang menolak permohonan ganti rugi yang diajukan dirinya dan rekannya Aris (34) terhadap kesalahan yang dilakukan penyidik Polda Metro Jaya.

Herianto mengatakan, ganti rugi itu diajukannya lantaran tuduhan polisi telah menimbulkan banyak kerugian dalam hidupnya. Total permohonan ganti rugi yang diajukan Rp 55 juta untuk kerugian materiil dan Rp 1 miliar untuk kerugian immateriil.

"Saya dipecat dan untuk sekarang saya mencari kerjaan sangat susah, kan nama saya sudah ada di kantor polisi, mau minta SKCK itu sangat susah. Padahal sekarang kan perusahaan atau kantor mau surat itu, sampai sekarang saya nggak bisa kerja," kata Herianto.

Ia dituduh telah mencuri sepeda motor pada Juni 2016. Padahal saat itu ia masih berada di Palembang. Ia baru pindah ke Tangerang, Banten pada Agustus 2016.

Baca juga : Hakim Tolak Ganti Rugi Korban Salah Tangkap Kasus Pencurian Motor

Ia ditangkap polisi pada April 2017 bersama teman satu indekosnya Aris dan Bihin.

Upaya praperadilan yang diajukan bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta membuktikan ketiganya tak bersalah. Usai dibebaskan pada Juni 2017, ketiganya berusaha melanjutkan hidup. Bihin pulang kampung, Aris dan Heri bertahan di Ibu Kota.

Heri yang tadinya bekerja sebagai mekanik di bengkel, tak bisa lagi melanjutkan pekerjaannya. Padahal, ia merupakan tulang punggung bagi kedua orangtua dan dua adik-adiknya di Palembang.

"Adik saya sekolah, saya sampai sekarang bingung ada dua adik saya yang satu tamat SMA, satu tamat SMP, bingung saya belum ada modal utk adik saya terus sekolah," kata Heri.

Yang paling menyakitkan dari pengalaman pahit itu, kata Heri, orangtuanya jatuh sakit saat mendengar Heri ditangkap polisi. Orangtuanya sempat dilarikan ke unit gawat darurat, dan sampai saat ini belum pulih. Usaha kelapa sawit keluarga pun terbengkalai.

"Tadinya kalau dapat ganti rugi, uang itu mau digunakan untuk saya membantu keluarga," kata Heri.

Saat ini, Heri masih merasa trauma saat bertemu anggota polisi.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hujan Deras, Tanah di Depan Rumah Warga Lenteng Agung Longsor

Hujan Deras, Tanah di Depan Rumah Warga Lenteng Agung Longsor

Megapolitan
UPDATE 13 Agustus: Bertambah 12, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini Ada 667

UPDATE 13 Agustus: Bertambah 12, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini Ada 667

Megapolitan
Antisipasi Penambahan Pasien Covid-19, RSPI Sulianti Saroso Tambah Jumlah Kasur

Antisipasi Penambahan Pasien Covid-19, RSPI Sulianti Saroso Tambah Jumlah Kasur

Megapolitan
Sebelum Meninggal, Korban Penembakan di Ruko Royal Gading Square Berusaha Selamatkan Diri

Sebelum Meninggal, Korban Penembakan di Ruko Royal Gading Square Berusaha Selamatkan Diri

Megapolitan
Data Kemendikbud, 9 Sekolah di Jakarta Gelar KBM Tatap Muka meski Masih Zona Merah

Data Kemendikbud, 9 Sekolah di Jakarta Gelar KBM Tatap Muka meski Masih Zona Merah

Megapolitan
Kasus Positif Covid-19 Terus Naik, Kapasitas Ruangan di RSPI Sulianti Saroso Masih Cukup

Kasus Positif Covid-19 Terus Naik, Kapasitas Ruangan di RSPI Sulianti Saroso Masih Cukup

Megapolitan
UPDATE 13 Agustus: Bertambah 1 Kasus Positif Covid-19 dan 9 Pasien Sembuh di Tangsel

UPDATE 13 Agustus: Bertambah 1 Kasus Positif Covid-19 dan 9 Pasien Sembuh di Tangsel

Megapolitan
Anies: Kapasitas Tempat Tidur Isolasi Pasien Covid-19 Terisi 65 Persen, Ruang ICU 67 Persen

Anies: Kapasitas Tempat Tidur Isolasi Pasien Covid-19 Terisi 65 Persen, Ruang ICU 67 Persen

Megapolitan
PSBB Transisi Diperpanjang, Perlombaan HUT Kemerdekaan RI Ditiadakan tetapi Upacara Diperbolehkan

PSBB Transisi Diperpanjang, Perlombaan HUT Kemerdekaan RI Ditiadakan tetapi Upacara Diperbolehkan

Megapolitan
Positivity Rate dalam Sepekan 8,7 Persen, Anies Sebut Secara Akumulasi Masih Aman

Positivity Rate dalam Sepekan 8,7 Persen, Anies Sebut Secara Akumulasi Masih Aman

Megapolitan
Anies Kembali Tiadakan Car Free Day di Jakarta untuk Sementara

Anies Kembali Tiadakan Car Free Day di Jakarta untuk Sementara

Megapolitan
Anies: Pasien Covid-19 Kelompok OTG Tak Perlu Tes Swab Berulang, Hanya Butuh Isolasi

Anies: Pasien Covid-19 Kelompok OTG Tak Perlu Tes Swab Berulang, Hanya Butuh Isolasi

Megapolitan
27 dari 29 Warga Wijaya Kusuma Klaster Tahlilan Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

27 dari 29 Warga Wijaya Kusuma Klaster Tahlilan Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

Megapolitan
Ganti Rugi Belum Dibayar, Warga Jatikarya Demo di Tol Cimanggis-Cibitung

Ganti Rugi Belum Dibayar, Warga Jatikarya Demo di Tol Cimanggis-Cibitung

Megapolitan
Polisi Masih Buru 3 Tersangka Pengganjal ATM Asal Lampung yang Beraksi di Tambora

Polisi Masih Buru 3 Tersangka Pengganjal ATM Asal Lampung yang Beraksi di Tambora

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X