Mengelola Wilayah Udara NKRI

Kompas.com - 09/10/2018, 09:23 WIB
Pesawat Sukhoi TNI AU siap menjaga wilayah udara saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Merauke, Minggu (10/5/2015).Alfian Kartono/KOMPAS.com Pesawat Sukhoi TNI AU siap menjaga wilayah udara saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Merauke, Minggu (10/5/2015).

Masalah hubungannya dengan kedaulatan negara di udara atau “air sovereignty” sengaja tidak dibahas di sini, karena diskusi tentang hal tersebut memerlukan latar belakang pengetahuan yang luas mengenai keudaraan pada umumnya.

Di tengan-tengah lingkungan yang sebagian besar pemahaman tentang keudaraannya agak sempit, yang hanya melihat masalah keudaraan hanya semata terbatas dalam masalah "slot penerbangan" belaka, maka diskusi tentang Air Sovereignty akan menjadi sia-sia dan mengarah kepada debat kusir yang tidak jelas arahnya.

Masalah ini adalah masalah yang juga jauh dari sekadar masalah International Aviation Safety, karena masalah ini adalah semata masalah "bilateral" belaka, seperti masalah antara Kamboja dengan Thailand. Karena Kamboja terlibat dalam perang yang berkepanjangan, maka wilayah udaranya diserahkan oleh ICAO kepada otoritas penerbangan Thailand.

Setelah perang usai dan  mereka berhasil membangun kemampuan Kamboja dapat segera mengambil alih wilayah udara kedaulatannya untuk dikelola sendiri "hanya" dengan penyelesaian bilateral dengan Thailand.    

Malaysia Airlines Disebut Putari Wilayah Udara Indonesia

 

(Pernyataan di atas dibantah oleh Kedutaan Besar Singapura di Jakarta seperti ditulis di bagian akhir tulisan ini, red).

Mudah-mudahan bukan karena bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya berasal dari ras melayu seperti dikatakan oleh Mahatir Muhamad, memiliki kemampuan tidak kalah dari ras lainnya, akan tetapi terjebak dalam "kemalasan" yang antara lain sangat suka dengan “bila bisa suruh orang lain mengerjakan, kenapa kita harus susah payah mengerjakannya sendiri?”. 

Wilayah Udara kita adalah sebuah sumber daya alam yang sesuai dengan amanah konstitusi harus dikuasai negara dan diperuntukkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.

Di sinilah ujian bagi kredibilitas moral kebangsaan dan harga diri serta martabat sebuah negara besar sedang dipertaruhkan.

Catatan:

Pada Selasa (23/10/2018) pukul 20.20 WIB, redaksi Kompas.com menambahkan surat tanggapan dari Matthew Chan selaku Sekretaris Pertama (Politik) Kedutaan Besar Singapura di Jakarta pada artikel ini.

Berikut ini klarikasi yang disampaikan oleh Chan untuk menanggapi artikel di atas.

"Pengelolaan FIR dialokasikan oleh Organisasi Penerbangan Sipil (ICAO) atas dasar pertimbangan operasional dan teknis untuk memberikan layanan yang nyaman dan efisien bagi lalu lintas udara sipil. Prioritas Singapura adalah memastikan alur lalu lintas udara sipil yang aman dan efisien sejalan dengan ketentuan dan aturan ICAO. Pengelolaan FIR bukanlah masalah kedaulatan. Seperti yang dikemukakan mantan Kepala Staff TNI-AU Marsekal (Purn) Chappy Hakim, Indonesia memberikan layanan lalu lintas udara di atas sebagian wilayah udara Australia dan Timor Leste. Ini bukan penataan internasional yang tidak biasa.

Oleh karena itu, adalah salah untuk mengklaim bahwa pengelolaan FIR "jauh dari masalah keselamatan penerbangan internasional" ataupun hanyalah masalah bilateral antara Singapura dan Indonesia. Pengelolaan FIR adalah masalah kompleks di bawah lingkup ICAO. Hal ini menyangkut negara-negara dan pengguna internasional pada wilayah udara yang sibuk yang dicakup oleh FIR.

Otoritas Pengawas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) melibatkan para pemangku kepentingan yang relevan secara teratur, termasuk otoritas penerbangan sipil Indonesia dan penyedia layanan navigasi udara Indonesia, agar memastikan bahwa Singapura memenuhi kebutuhan komunitas penerbangan internasional. Setiap perubahan dalam pengaturan wilayah udara harus dilakukan sesuai dengan ketentuan dan persyaratan ICAO yang didasari atas pengelolaan penerbangan sipil yang aman dan efisien."

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Daftar Lokasi SIM Keliling di Jakarta Hari Ini

Daftar Lokasi SIM Keliling di Jakarta Hari Ini

Megapolitan
Lebaran Betawi Dimulai Malam Nanti, Ini Rangkaian Acaranya

Lebaran Betawi Dimulai Malam Nanti, Ini Rangkaian Acaranya

Megapolitan
Polisi Dalami Kasus Dugaan Penganiayaan oleh Pengacara D terhadap Hakim PN Jakarta Pusat

Polisi Dalami Kasus Dugaan Penganiayaan oleh Pengacara D terhadap Hakim PN Jakarta Pusat

Megapolitan
Empat Fakta Terbaru Kasus Rius Vernandes, Trauma hingga Penyelesaian secara Kekeluargaan

Empat Fakta Terbaru Kasus Rius Vernandes, Trauma hingga Penyelesaian secara Kekeluargaan

Megapolitan
Tanda Tanya Kasus Salah Tangkap dan Penyiksaan pada Empat Pengamen Cipulir

Tanda Tanya Kasus Salah Tangkap dan Penyiksaan pada Empat Pengamen Cipulir

Megapolitan
Anies Tunda Kepulangan dari Amerika, Ada Agenda Tambahan hingga Surati Kemendagri

Anies Tunda Kepulangan dari Amerika, Ada Agenda Tambahan hingga Surati Kemendagri

Megapolitan
Empat Kebijakan yang Diusulkan untuk Atasi Kemacetan di Depok

Empat Kebijakan yang Diusulkan untuk Atasi Kemacetan di Depok

Megapolitan
Getih Getah Riwayatmu Kini...

Getih Getah Riwayatmu Kini...

Megapolitan
Ketika PPSU Tinggalkan Sapu Lidi Sejenak untuk Rayakan Hari Jadi di Dufan

Ketika PPSU Tinggalkan Sapu Lidi Sejenak untuk Rayakan Hari Jadi di Dufan

Megapolitan
Setelah Saling Sindir hingga Lapor Polisi, Wali Kota Tangerang dan Kemenkumham Berdamai

Setelah Saling Sindir hingga Lapor Polisi, Wali Kota Tangerang dan Kemenkumham Berdamai

Megapolitan
[BERITA POPULER] Kisah Fikri Dipaksa Polisi Mengaku Jadi Pembunuh | Bahaya di Balik #AgeChallenge

[BERITA POPULER] Kisah Fikri Dipaksa Polisi Mengaku Jadi Pembunuh | Bahaya di Balik #AgeChallenge

Megapolitan
Bebas dari Tahanan, Fikri Pribadi Kini Cari Keadilan Tuntut Polisi yang Menyiksanya

Bebas dari Tahanan, Fikri Pribadi Kini Cari Keadilan Tuntut Polisi yang Menyiksanya

Megapolitan
Selain Bambu Getih Getah, Ini Daftar Pemanis Jakarta yang Berbiaya Besar tapi Tak Tahan Lama

Selain Bambu Getih Getah, Ini Daftar Pemanis Jakarta yang Berbiaya Besar tapi Tak Tahan Lama

Megapolitan
Siapa Sangka IS Pernah Dipasung Belasan Tahun Sebelum Dikenal sebagai Wawan Game

Siapa Sangka IS Pernah Dipasung Belasan Tahun Sebelum Dikenal sebagai Wawan Game

Megapolitan
Berkunjung ke Perpustakaan Erasmus Huis yang Instagramable

Berkunjung ke Perpustakaan Erasmus Huis yang Instagramable

Megapolitan
Close Ads X