Seniman Instalasi Bambu Getih Getah Resah Publik Hanya Soroti Anggaran

Kompas.com - 22/07/2019, 14:41 WIB
Petugas Suku Dinas Kehutanan Jakarta Pusat mengganti tanaman yang rusak di sekitar instalasi bambu Getah Getih, Jakarta, Minggu (23/6/2019). Perbaikan tersebut dilakukan karena tanaman hias di kawasan tersebut rusak akibat terinjak warga saat menghadiri perayaan HUT Jakarta ke-492, Sabtu (22/6/2019). ANTARA FOTO/Dhemas ReviyantoPetugas Suku Dinas Kehutanan Jakarta Pusat mengganti tanaman yang rusak di sekitar instalasi bambu Getah Getih, Jakarta, Minggu (23/6/2019). Perbaikan tersebut dilakukan karena tanaman hias di kawasan tersebut rusak akibat terinjak warga saat menghadiri perayaan HUT Jakarta ke-492, Sabtu (22/6/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com — Seniman pembuat instalasi bambu Getih Getah yang pernah dipasang di sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI) Joko Avianto menyesalkan bahwa masyarakat hanya menyoroti anggaran ketimbang menilai karya seninya.

Karya seni instalasi itu sempat dipajang di Bundaran HI, Jakarta Pusat, dari Agustus 2018 hingga pertengahan Juli ini.

"Tentunya saya resah bahwa ukuran angka dan sifat materialistis terlalu menjadi hidangan utama agenda kepentingan ini, menjadi sangat pragmatis, dan tidak mendidik ke arah kualitas manusia Indonesia yang lebih baik," kata Joko Avianto sebagaimana dikutip dari akun Instagram-nya @Jokoawi.

Ia tak ingin hal itu menjadi kontroversi dan menginginkan bahwa masyarakat menikmati instalasi bambu Getih Getah itu dari segi seni.


Baca juga: Anies: Rp 550 Juta untuk Instalasi Getih Getah Perginya ke Petani Bambu...

"Terlepas dari kontroversi keterbelahan, saya ingin menyampaikan bahwa seni memiliki fitrah universalitas, keterbukaan persepsi, pengalaman serta lintas dialog, bahwa ada sensasi keindahan lain yang meresahkan itu merupakan bagian sifat seni,"  tulis dia.

Joko menceritakan, ketika menerima proyek itu, ia memang berniat untuk membantu dan mewujudkan ide dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam menyongsong Asian Games 2018 dan HUT ke-73 RI.

Ia menerima dengan senang hati dan sangat bangga karena karyanya mampu bersanding dengan karya lain dari para seniman sepuh.

"Karena kesempatan ini sangat langka bisa bersanding satu aksis dari utara ke selatan dengan tetengger kota seperti Patung Arjuna Wijaya 1987 (Nyoman Nuarta), Monumen Selamat Datang 1961 (Henk Ngantung dan Edhi Sunarso), Patung Jendral Sudirman 2003 (Sunaryo), dan Patung Pemuda Membangun 1971 (Munir Pamuncak), dan ketiga di antaranya adalah guru-guru dan pinisepuh saya," lanjutnya.

Joko menambahkan, adanya pameran karyanya itu tak bermaksud mengabaikan badan berwenang dalam pengawasan dan pembangunan kota.

Baca juga: Getih Getah Hanya Bertahan 11 Bulan, Berapa Usia Rata-rata Instalasi Bambu?

"Dukungan kuratorial dan proses asesmen lainnya project ini tetap berjalan, dengan menjamin tidak akan ada kerusakan dan pencemaran di lokasi apalagi merebut titik orientasi kota," katanya.

Instalasi bambu tersebut dibongkar pada Rabu malam pekan lalu setelah sekitar 11 bulan berada di sekitar Bundaran HI.

Biaya pembuatan serta pemasangan instalasi seni bambu tersebut sebesar Rp 550 juta.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Minta Bayaran Rp 450.000 Setelah Antar 3 Penumpang, 3 Tukang Ojek Ditangkap Polisi

Minta Bayaran Rp 450.000 Setelah Antar 3 Penumpang, 3 Tukang Ojek Ditangkap Polisi

Megapolitan
Remaja yang Diduga Diperkosa Oknum PNS Papua Minta Perlindungan LPSK

Remaja yang Diduga Diperkosa Oknum PNS Papua Minta Perlindungan LPSK

Megapolitan
50 Kg Ganja di Dalam Bus di Tangerang Milik Dua Napi

50 Kg Ganja di Dalam Bus di Tangerang Milik Dua Napi

Megapolitan
Riset Sebut Ciliwung Masuk Sungai Terkotor di Dunia, Ini Komentar Pemprov DKI

Riset Sebut Ciliwung Masuk Sungai Terkotor di Dunia, Ini Komentar Pemprov DKI

Megapolitan
Anggota Komisi E DPRD Dorong Kasus Robohnya Atap SMKN 24 Jaktim Dibawa ke Jalur Hukum

Anggota Komisi E DPRD Dorong Kasus Robohnya Atap SMKN 24 Jaktim Dibawa ke Jalur Hukum

Megapolitan
Diduga Korsleting Listrik, Rumah Dua Lantai di Duren Sawit Terbakar

Diduga Korsleting Listrik, Rumah Dua Lantai di Duren Sawit Terbakar

Megapolitan
Ini Efek jika Sembarangan Mengkonsumsi Psikotropika Trihexyphenidyl

Ini Efek jika Sembarangan Mengkonsumsi Psikotropika Trihexyphenidyl

Megapolitan
PT INKA Siapkan Tenaga Ahli untuk Kaji Pembangunan Jalur Trem di Bogor

PT INKA Siapkan Tenaga Ahli untuk Kaji Pembangunan Jalur Trem di Bogor

Megapolitan
Pemprov DKI Klaim Ciptakan 111.000 Wirausaha, Baru 13.000 yang Punya Izin

Pemprov DKI Klaim Ciptakan 111.000 Wirausaha, Baru 13.000 yang Punya Izin

Megapolitan
Pemprov DKI Optimistis Akan Lampaui Target Terciptanya 200.000 Wirausaha Baru

Pemprov DKI Optimistis Akan Lampaui Target Terciptanya 200.000 Wirausaha Baru

Megapolitan
Kerap Masuk ke Permukiman, Kawanan Monyet Liar Resahkan Warga Bogor

Kerap Masuk ke Permukiman, Kawanan Monyet Liar Resahkan Warga Bogor

Megapolitan
Polisi Tangkap Pemalsu KTP PSK di Bawah Umur

Polisi Tangkap Pemalsu KTP PSK di Bawah Umur

Megapolitan
4 Pelajar Ditangkap, Diduga Keroyok Korban hingga Tewas Saat Tawuran

4 Pelajar Ditangkap, Diduga Keroyok Korban hingga Tewas Saat Tawuran

Megapolitan
BK DPRD Depok Akan Beri Seragam agar Anggota Dewan Disiplin

BK DPRD Depok Akan Beri Seragam agar Anggota Dewan Disiplin

Megapolitan
Tanpa Pelampung dan Tak Pandai Berenang, Fitra Tenggelam Usai Tolong Teman

Tanpa Pelampung dan Tak Pandai Berenang, Fitra Tenggelam Usai Tolong Teman

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X