Napi Remaja Kasus Pembunuhan Dapat Izin Keluar Lapas untuk Daftar Kuliah

Kompas.com - 15/10/2019, 11:41 WIB
Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Tangerang


Andri Donnal PuteraLembaga Pemasyarakatan Klas 1 Tangerang

TANGERANG, KOMPAS.com - Seorang warga binaan berinisial AR (18) di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas I Tangerang beberapa kali keluar masuk lapas. AR adalah putra dari purnawirawan TNI yang dipenjara karena kasus pembunuhan.

Putra Mayjend (Purn) TNI Hasan Saleh itu diketahui terjerat Pasal 80 ayat (3) Tentang perlindungan anak, serta Pasal 340 tentang pembunuhan berencana dan dijatuhi hukuman 8 tahun penjara.

AR dikabarkan keluar dari tahanan pada Sabtu (28/9/2019) untuk mendaftar kuliah di perguruan tinggi swasta di Jakarta Barat yaitu Binus.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala LPKA Klas I Tangerang, Darma Lingganawati menerangkan AR sudah melalui tahapan dan prosedur yang berlaku untuk keluar dari tahanan untuk mendaftar kuliah di Binus.

Ia mengatakan AR sudah melalui tahapan sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) sebelum akhirnya diperbolehkan mendaftar kuliah dengan pengamanan dari lapas.

"Bukan keluar masuk, itu pengajuannya sudah dari Agustus 2019 dan sudah disidang TPP," ujar Lingga kepada TribunJakarta.com, Senin (14/10/2019).

"Kemudian ada sidang lanjutannya tanggal 25 September, kami lakukan lagi sidang TPP. Sudah dilakukan lagi, tanggal 29 September pagi yang bersangkutan tes di Binus," sambungnya.

Pada tanggal tersebut, AR hanya keluar sekitar dua jam untuk mengikuti ujian masuk jurusan Inggris di Binus.

Selesai dari sana, AR yang sudah menjalani sepertiga dari hukumannya itu langsung kembali ke lapas bersama tim pengamanan.

"Itu cuma dua jam saja kok, selesai dari situ bener-bener kembali ke lapas. Ini semua sudah sesuai prosedural tidak ada bapaknya ikut sama sekali," aku Lingga.

Ternyata, bukan sekali ini saja AR berhasil keluar masuk tahanan.

Menurut Lingga, beberapa waktu sebelumnya AR pernah keluar juga untuk mengikuti kejuaraan wushu.

"Karena dia cukup berprestasi di wushu, dia atlet juga. Sudah melalui beberapa sidang TPP juga jadi kami perbolehkan," sambung Lingga.

Nantinya, lanjut Lingga, bila AR berhasil diterima di Binus sebagai mahasiswa dan harus mengikuti serangkaian kegiatan perkuliahan pun, AR diperbolehkan keluar Lapas.

Dengan syarat harus repot mengikuti sidang TPP sebelum keluar.

"Kebetulan usia anak ini sudah 18 tahun selesai di SMK LPKA," ujar Lingga.

"Kalau di Taruna Nusantara enggak selesai karena keburu kasus ini. Kalau dia berhasil di Binus itu akan ada sidang TPP terus," imbuhnya.

Ia menjelaskan kalau izin yang diberikan kepada AR sudah sejalan dengan Undang-Undang yang mengatur tentang tumbuh kembang anak. (EGA ALFREDA)

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul "Anak Jenderal Purnawirawan Leluasa Keluar Masuk Lapas di Tangerang Jadi Perbincangan, Bolehkah?".

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemprov DKI Izinkan Lapangan Golf hingga Pusat Kebugaran Beroperasi Kembali Mulai 12 Juli

Pemprov DKI Izinkan Lapangan Golf hingga Pusat Kebugaran Beroperasi Kembali Mulai 12 Juli

Megapolitan
Jam Operasional Transportasi Umum di Kota Tangerang Mulai Diperpanjang

Jam Operasional Transportasi Umum di Kota Tangerang Mulai Diperpanjang

Megapolitan
Ini yang Harus Dilakukan jika Lihat Seseorang Dililit Ular

Ini yang Harus Dilakukan jika Lihat Seseorang Dililit Ular

Megapolitan
[UPDATE] 8 Juli: 8 RW di Kota Bekasi Masih Zona Merah Covid-19

[UPDATE] 8 Juli: 8 RW di Kota Bekasi Masih Zona Merah Covid-19

Megapolitan
Tidak Boleh Antar Jemput Penumpang di Zona Merah, Ojol Bekasi Malah Diberi Kelonggaran

Tidak Boleh Antar Jemput Penumpang di Zona Merah, Ojol Bekasi Malah Diberi Kelonggaran

Megapolitan
Kisah Anak Tukang AC Berprestasi tapi Gagal PPDB Tangerang, 'Dipaksa' Cari Sekolah Swasta

Kisah Anak Tukang AC Berprestasi tapi Gagal PPDB Tangerang, "Dipaksa" Cari Sekolah Swasta

Megapolitan
Pemotongan Hewan Kurban Saat Pandemi, Daging Diantar ke Rumah

Pemotongan Hewan Kurban Saat Pandemi, Daging Diantar ke Rumah

Megapolitan
Tanpa Keterampilan Khusus, Warga Diimbau Tak Sembarangan Tangkap Ular

Tanpa Keterampilan Khusus, Warga Diimbau Tak Sembarangan Tangkap Ular

Megapolitan
Kembali Buka Layanan AKAP, Terminal Jatijajar Depok Harus Himpun Manifes Penumpang

Kembali Buka Layanan AKAP, Terminal Jatijajar Depok Harus Himpun Manifes Penumpang

Megapolitan
Perempuan Lompat dari Lantai 13 Hotel di Tanah Abang, Polisi Periksa Rekaman CCTV

Perempuan Lompat dari Lantai 13 Hotel di Tanah Abang, Polisi Periksa Rekaman CCTV

Megapolitan
Puluhan Demonstran Penolak Reklamasi Geruduk Pintu Timur Ancol

Puluhan Demonstran Penolak Reklamasi Geruduk Pintu Timur Ancol

Megapolitan
Kisah Manik, Penerima Beasiswa yang Terjun sebagai Relawan ACT Covid-19 Bogor

Kisah Manik, Penerima Beasiswa yang Terjun sebagai Relawan ACT Covid-19 Bogor

Megapolitan
Percobaan Penculikan Anak Kembali Terjadi di Depok, Korban Dibekap Tisu Saat Bermain

Percobaan Penculikan Anak Kembali Terjadi di Depok, Korban Dibekap Tisu Saat Bermain

Megapolitan
IKAPPI: Pemprov DKI Jemput Paksa Pedagang Pasar untuk Swab Test, Ini Tidak Kami Harapkan

IKAPPI: Pemprov DKI Jemput Paksa Pedagang Pasar untuk Swab Test, Ini Tidak Kami Harapkan

Megapolitan
Pemkot Jaktim Tandai Hewan Kurban Tak Layak dengan Pylox Warna Merah

Pemkot Jaktim Tandai Hewan Kurban Tak Layak dengan Pylox Warna Merah

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X