Kisah Kesuksesan Ciputra, Berawal dari Seorang Petani

Kompas.com - 28/11/2019, 14:42 WIB
Chairman Ciputra Grup, Ciputra KOMPAS/JB SURATNOChairman Ciputra Grup, Ciputra
Penulis Cynthia Lova
|

JAKARTA, KOMPAS.com - "Seorang entrepreneur adalah seseorang yang inovatif dan mampu mewujudkan cita-cita kreatifnya," demikian golden quote yang diucapkan pengusaha tersohor Ciputra seperti dikutip dari dalam bukunya yang berjudul "Ciputra Quantum Leap".

Oleh karena itu, Ciputra berpandangan bahwa seorang entrepreneur sejatinya harus dapat mengubah padang ilalang jadi kota baru, pembuangan sampah menjadi resort yang indium, kawasan kumuh menjadi pencakar langit tempat ribuan orang bekerja.

"Entrepeneur mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas," tegas Ciputra.

Hal itu terus diungkapkan pengusaha properti terkenal ini sebagai gambaran seorang entrepreneur.

Pria kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah ini dikenal sebagai filantropi dan berkiprah di bidang pendidikan dengan mengambangkan Universitas Ciputra. Ciputra juga banyak menguasai bidang properti.

Di balik kesuksesannya itu, siapa sangka Pak Ci, panggilan akrab Ciputra, pernah menjadi seorang petani setelah kehilangan ayahnya yang ditangkap dan ditahan tentara penjajah Jepang. Ia bahkan sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak umur 12 tahun.

Baca juga: Mimpi Ciputra Bangun Ancol Setara Disneyland...

“Saya dari Desa Pepaya. Waktu zaman Jepang, saya harus sekolah, harus juga berkebun, dan jadi kepala rumah tangga. Sebab saat itu kakak saya tinggal tinggal bersama saya,” ucap Ciputra seperti dilansir Koran Harian Kompas pada Minggu, 24 November 1985.

Tidak hanya menjadi petani, kala itu Ciputra juga menggembalakan hewan ternak, yakni empat ekor sapi, dua ekor kuda, puluhan ekor kambing, dan 15 ekor anjing.

Setiap hari, Ciputra harus bangun pukul 05.00 WIB dan berangkat sekolah pukul 06.00 WIB. Sebab, saat itu jarak sekolah dengan rumahnya harus ditempuh dengan waktu satu jam.

Sehingga untuk sampai di sekolah dengan cepat, ia harus berlari untuk menghemat waktu.

“Setiap mau berangkat sekolah saya harus berlari agar tidak terlambat ke sekolah kadang naik kuda juga. Tapi rasanya kuda itu lebih lelah daripada saya berlari,” kata Ciputra.

Setelah sepulang sekolah, Ciputra kembali berkebun dan mengurus hewan ternaknya. Hal itu ia lakukan karena desakan Jepang pada zaman penjajahan.

“Jadi ya emang berkebun dan berternak kami sendiri, tidak memakai buruh lain yang mengerjakan ladang kami. Jadi memang tidak ada itu, jiwa feodal,” ucap Ciputra.

Bersyukur akhirnya jadi seorang entrepreneur

Hal sulit yang Ciputra alami saat itu menjadi pelajaran baginya untuk berjuang hidup.

“Dari bawah saya menjalani hidup dan saya menghayati betul suara orang bawah tersebut,” ujar Ciputra.

Ia juga belajar ketika dirinya sudah berada di atas, Ciputra bisa bekerja dengan adil, jujur, dan terbuka. Meski hal itu sulit rasanya diterapkan dalam dunia usaha, Pak Ci tak mempedulikan hal itu.

Menurut dia dalam dunia usaha, seorang entrepreneur hanya perlu share of value. Ia melihat, di Indonesia, banyak entrepreneur tak mempunyai share of value, nilai kebersamaan. Padahal nilai kebersamaan itu adalah tujuan usaha, yakni memiliki organisasi dan staf.

“Lalu kita punya style, sistem, dan dari situ kita punya strategi. Setelah kita susun strategi, kita harus punya skill dan membuat usaha itu menjadi suatu keberuntungan bagi kita,” ujar Ciputra.

Baca juga: Ciputra dan Dunia Pendidikan Kewirausahaan di Indonesia

Untuk membuat usaha sukses, menurut dia, memerlukan pengawasan yang tepat, bukan malah mengirim orang mengerjakan hal itu. Misalnya, pengusaha meminta anak buahnya untuk mengerjakan suatu proyek tanpa ada pengawasan, namun jika proyek itu mangkrak maka nantinya pengusaha itu hanya bisa memarahi anak buahnya dan akhirnya merugi.

Pengusaha yang baik, menurut Pak Ci, adalah yang berkomitmen berpartisipasi dalam perencanaan itu. Pengusaha harus membuat suatu perencanaan bersama-sama dengan pegawainya.

“Jadi kita bikin planning sama-sama dan kita semua komitmen dengan planning itu. Itu kunci daripada kontrol,” katanya.

Jadi bukan hanya dari kata-kata, tapi dengan suatu perbuatan yang nyata.

“Jadi hasil perusahaan benar-benar dikecap bersama. Jangan hanya dikecap pemegang saham. Kalau pemegang saham punya keuntungan, harus dibagi dengan mereka, jangan pimpinan itu mengambil keuntungan semau gue aja,” tuturnya

Namun, kini waku telah berlalu dan semua jadi kenangan. Senin (27/11/2019) dini hari Pak Ci telah menghembuskan napas terakhirnya di Singapura



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 29 November: Tambah 49 Kasus Baru, Covid-19 di Kabupaten Bekasi Jadi 6.807

UPDATE 29 November: Tambah 49 Kasus Baru, Covid-19 di Kabupaten Bekasi Jadi 6.807

Megapolitan
Balita Meninggal Saat Diajak Mengemis, Polisi: Sudah Sakit 4 Hari Sebelumnya

Balita Meninggal Saat Diajak Mengemis, Polisi: Sudah Sakit 4 Hari Sebelumnya

Megapolitan
Balita Meninggal saat Dibawa Mengemis, Polisi Sebut Tak Temukan Tanda-tanda Kekerasan

Balita Meninggal saat Dibawa Mengemis, Polisi Sebut Tak Temukan Tanda-tanda Kekerasan

Megapolitan
Bantah Rizieq Shihab Kabur dari RS, FPI: Bodoh Akut yang Bicara!

Bantah Rizieq Shihab Kabur dari RS, FPI: Bodoh Akut yang Bicara!

Megapolitan
Polemik Pasca Rizieq Shihab di Tanah Air: 7 Pejabat Dicopot, Klaster Covid-19, hingga Tindak Pidana

Polemik Pasca Rizieq Shihab di Tanah Air: 7 Pejabat Dicopot, Klaster Covid-19, hingga Tindak Pidana

Megapolitan
FPI Benarkan Rizieq Shihab Tinggalkan RS Ummi Bogor dan Tak Lagi Dirawat

FPI Benarkan Rizieq Shihab Tinggalkan RS Ummi Bogor dan Tak Lagi Dirawat

Megapolitan
Janji Anies dan Kritik soal Syarat NIK dan KK pada Smart E-budgeting

Janji Anies dan Kritik soal Syarat NIK dan KK pada Smart E-budgeting

Megapolitan
MER-C Sebut Rizieq Shihab Dapat Perlakuan Tak Beretika dari Bima Arya

MER-C Sebut Rizieq Shihab Dapat Perlakuan Tak Beretika dari Bima Arya

Megapolitan
Kasus Meningkat, Pusat Karantina Rumah Lawan Covid-19 Tangsel Hampir Penuh

Kasus Meningkat, Pusat Karantina Rumah Lawan Covid-19 Tangsel Hampir Penuh

Megapolitan
RS Ummi Dapat Teguran Keras, MER-C: Seharusnya Bima Arya Percaya Penuh pada RS

RS Ummi Dapat Teguran Keras, MER-C: Seharusnya Bima Arya Percaya Penuh pada RS

Megapolitan
Di Tengah Polemik Tes Swab, Rizieq Shihab Pergi Tinggalkan RS Ummi

Di Tengah Polemik Tes Swab, Rizieq Shihab Pergi Tinggalkan RS Ummi

Megapolitan
Kontroversi Tes Swab Diam-diam Rizieq Shihab yang Berbuntut Kasus Hukum...

Kontroversi Tes Swab Diam-diam Rizieq Shihab yang Berbuntut Kasus Hukum...

Megapolitan
Modus Pencabulan Bocah di Pondok Aren, Pelaku Mengaku Kru Televisi hingga Imingi Bertemu Artis

Modus Pencabulan Bocah di Pondok Aren, Pelaku Mengaku Kru Televisi hingga Imingi Bertemu Artis

Megapolitan
Terus Bertambah, Ini Sederet Pejabat yang Dicopot Akibat Kerumunan Massa Rizieq

Terus Bertambah, Ini Sederet Pejabat yang Dicopot Akibat Kerumunan Massa Rizieq

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG: Jakut, Jaktim, dan Jaksel Hujan Hari Ini

Prakiraan Cuaca BMKG: Jakut, Jaktim, dan Jaksel Hujan Hari Ini

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X