Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Ragu Struktur Bata di Stasiun Bekasi Bekas Markas Jepang

Kompas.com - 12/08/2020, 08:23 WIB
Penemuan struktur bata diduga cagar budaya di Bekasi, Senin (10/8/2020). struktur bata diduga cagar budaya di Bekasi, Senin (10/8/2020).Penemuan struktur bata diduga cagar budaya di Bekasi, Senin (10/8/2020).
Penulis Cynthia Lova
|


BEKASI, KOMPAS.com - Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bekasi Ali Anwar tak sependapat dengan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi yang menyebut struktur bata berbentuk lorong itu dahulunya markas peninggalan Jepang.

Sebagai informasi, struktur bata yang diduga cagar budaya itu ditemukan di bawah tanah saat mengerjakan proyek pembangunan double double track ( DDT) atau rel dwi ganda di Stasiun Bekasi, tepatnya di perimeter Stasiun Kota Bekasi.

“Kalau markas pembataiannya tentara Jepang bukan di situ. Bukan di stasiunnya. Saya melakukan penelitian pertama secara akademis pembunuhan tentara Jepang Itu kejadiannya pada 19 Oktober 1945,” ujar Ali saat dihubungi, Selasa (11/8/2020).

Ali mengatakan, markas peninggalan Jepang tidak ada di stasiun Bekasi.

Sebab saat itu tentara Jepang tewas dalam pembantaian di tepi Kali Bekasi. Usai dibantai di tepi Kali Bekasi, jenazah tentara Jepang itu langsung dibuang ke Kali Bekasi. Sehingga kecil kemungkinan, dahulunya di stasiun ada markas peninggalan Jepang.

Baca juga: Struktur Bata Berbentuk Lorong yang Diduga Bangunan Kuno Ditemukan di Proyek DDT Stasiun Bekasi

Sejarawan ini menceritakan, pembantaian tentara Jepang terjadi ketika pejuang Bekasi mendapat informasi ada kereta dari Stasiun Jatinegara mengangkut 90 personel angkatan laut Jepang yang hendak melintas di Stasiun Bekasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Rencananya tentara Jepang yang telah menyerah itu akan dibawa ke lapangan terbang Kalijati, Subang, untuk selanjutnya dipulangkan ke Jepang dan menyelesaikan masalah,” kata dia.

Alih-alih membiarkan kereta api tersebut melintas di Stasiun Bekasi, pejuang Bekasi malah memerintahkan Kepala Stasiun Bekasi agar mengalihkan jalur pelintasan kereta api dari jalur dua ke jalur satu yang merupakan jalur buntu yang biasanya dijadikan tempat parkir kereta.

Saat itu kereta akhirnya berhenti di rel buntu, rakyat dan pejuang Bekasi langsung melakukan pengepungan.

Suasana saat itu sangat mencekam. Apalagi ketika Letnan Dua Zakaria dan beberapa pengawalnya baik ke atas kereta api untuk menanyakan ke tentara Jepang terkait surat izin dari Pemerintah Republik Indonesia.

“Mereka menunjukkan surat jalan dari Menteri Luar Negeri Achmad Soebardjo yang dibubuhi tanda tangan Presiden Sukarno,” tambah Ali.

Baca juga: TACB Minta Pemkot Bekasi Hentikan Proses Pembongkaran Struktur Bata yang Diduga Cagar Budaya

Sayangnya, di tengah pemeriksaan, tiba-tiba saja seorang prajurit melepaskan tembakan dari arah salah satu gerbong tersebut.

Tembakan itu menjadi tanda agar rakyat dan pejuang Bekasi menyerbu tentara Jepang. Terjadilah pembantaian terhadap tentara Jepang kala itu.

Rakyat dan pejuang Bekasi berhasil merampas barang-barang di kereta tersebut, berikut dengan senjata yang ada. Sekira 90 tawanan dari kereta itu dibawa ke gedung belakang Stasiun Bekasi.

Usai berembuk, rakyat dan pejuang Bekasi langsung menggiring tawanan Jepang itu ke tepi Kali Bekasi.

Satu per satu tentara itu harus disembelih dan mayatnya dibuang ke sungai. Warna Kali Bekasi pun berubah menjadi lautan merah karena banyaknya darah yang keluar dari serdadu Jepang itu.

Baca juga: Pemkot Bekasi Minta Ditjen Perkeretapian Amankan Area Struktur Bata Kuno

Berdasar cerita itu, Ali meyakini tak ada markas Jepang di Stasiun Bekasi.

Struktur bata itu, kata Ali, bisa jadi gorong-gorong peninggalan Belanda.

Meski tak punya bukti kuat untuk membuktikan bahwa struktur bata tersebut adalah gorong-gorong, Ali tetap bersikeras bahwa dahulunya tentara Jepang dibantai di Kali Bekasi

“Saya ingin membantah saja kalau itu disebut lokasi pembantaian tentara Jepang karena di Kali Bekasi. Jadi tentang apa bentuknya bagaimana ini tentu tim cagar budaya belum berani menyimpulkan itu,” tutur dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jabat Ketua Presidium JKPI, Bima Arya Akan Benahi Pelestarian Budaya dan Pusaka di Indonesia

Jabat Ketua Presidium JKPI, Bima Arya Akan Benahi Pelestarian Budaya dan Pusaka di Indonesia

Megapolitan
Kecelakaan Berulang, TransJakarta Gandeng KNKT Audit Operasional

Kecelakaan Berulang, TransJakarta Gandeng KNKT Audit Operasional

Megapolitan
Capaian Vaksinasi Covid-19 Dosis Pertama di Tangsel 82,9 Persen

Capaian Vaksinasi Covid-19 Dosis Pertama di Tangsel 82,9 Persen

Megapolitan
Serapan APBD Kabupaten Bekasi 2021 Hanya 60,79 Persen, Pemkab: Tahun Depan Harus Serius

Serapan APBD Kabupaten Bekasi 2021 Hanya 60,79 Persen, Pemkab: Tahun Depan Harus Serius

Megapolitan
Bandar Sabu Jaringan Internasional Akui Tabrak Lari Polisi di Tol Palikanci

Bandar Sabu Jaringan Internasional Akui Tabrak Lari Polisi di Tol Palikanci

Megapolitan
Warga Diminta Mengungsi Selama Evakuasi Crane Terguling di Depok

Warga Diminta Mengungsi Selama Evakuasi Crane Terguling di Depok

Megapolitan
Empat Bandar Narkoba Jaringan Internasional Ditangkap, Sabu Senilai Rp 91 Miliar Disita

Empat Bandar Narkoba Jaringan Internasional Ditangkap, Sabu Senilai Rp 91 Miliar Disita

Megapolitan
Kumpul di Bogor, 40 Kepala Daerah Bahas Isu Budaya

Kumpul di Bogor, 40 Kepala Daerah Bahas Isu Budaya

Megapolitan
Diminta Jokowi Tak Sowan ke Ormas, Polda Metro: Kami Sudah Laksanakan Jauh-jauh Hari

Diminta Jokowi Tak Sowan ke Ormas, Polda Metro: Kami Sudah Laksanakan Jauh-jauh Hari

Megapolitan
Polisi yang Tembak Dua Orang Belum Jadi Tersangka dan Ditahan

Polisi yang Tembak Dua Orang Belum Jadi Tersangka dan Ditahan

Megapolitan
19 WNA Dilarang Masuk Indonesia lewat Bandara Soekarno-Hatta

19 WNA Dilarang Masuk Indonesia lewat Bandara Soekarno-Hatta

Megapolitan
Persiapan Hadapi Lonjakan Kasus, RSUD Cengkareng: Kamar dan Alat Siap

Persiapan Hadapi Lonjakan Kasus, RSUD Cengkareng: Kamar dan Alat Siap

Megapolitan
UMK Bekasi Naik Rp 33.000, Wali Kota Pepen: Kita Patut Bersyukur

UMK Bekasi Naik Rp 33.000, Wali Kota Pepen: Kita Patut Bersyukur

Megapolitan
Kecelakaan Berulang Bus Transjakarta, Anggota DPRD: Direksi Harus Dicopot!

Kecelakaan Berulang Bus Transjakarta, Anggota DPRD: Direksi Harus Dicopot!

Megapolitan
Sebelum PPKM Level 3, Pemkot Jakbar Akan Gelar Job Fair Tatap Muka

Sebelum PPKM Level 3, Pemkot Jakbar Akan Gelar Job Fair Tatap Muka

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.