Mengenal Prangko Pertama di Indonesia, Harganya Capai Rp 1,6 Miliar

Kompas.com - 29/03/2021, 08:26 WIB
Prangko pertama di Indonesia (saat masih Hindia-Belanda) berwarna merah anggur yang memuat gambar Raja Willem III dari Belanda. DOK. PERKUMPULAN FILATELIS INDONESIAPrangko pertama di Indonesia (saat masih Hindia-Belanda) berwarna merah anggur yang memuat gambar Raja Willem III dari Belanda.
Penulis Ihsanuddin
|

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Prangko sebagai bukti alat bayar untuk pengiriman surat sudah ada di bumi nusantara jauh sebelum Indonesia merdeka.

Prangko pertama di Indonesia tercatat terbit pada 1 April 1864, ketika Indonesia masih berada di bawah jajahan pemerintah Hindia Belanda.

Saat itu, lalu lintas surat antara Negeri Belanda dengan negara jajahannya, termasuk Indonesia, cukup intens.

Pemerintah Hindia Belanda pun menerbitkan prangko sebagai bukti alat bayar yang sah pengiriman surat.

Prangko pertama tersebut berwarna merah anggur yang memuat gambar Raja Willem III dari Belanda dalam bingkai berbentuk persegi.

Pada bagian atas perangko terdapat tulisan “10 cent” dan pada bagian bawahnya memuat tulisan “postzegel”.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada bagian kiri memuat tulisan “Nederl", serta pada bagian kanan memuat tulisan “Indie”.

Baca juga: Prangko, Alat Bayar Pos yang Bermetamorfosis Jadi Benda Bernilai Investasi

Gambar prangko ini dirancang oleh TW Kaiser dari Amsterdam.

Sudah berusia 157 tahun, prangko pertama Hindia Belanda itu tentu saja saat ini sudah langka.

Namun, prangko itu masih bisa ditemukan di sejumlah museum prangko, termasuk di Museum Prangko Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Kepala Museum Prangko TMII Cadria Aditama menjelaskan, prangko pertama di Hindia Belanda itu tidak dicetak di wilayah nusantara, melainkan di Belanda.

"Prangko pertama yang Willem III itu percetakan Belanda. Dicetak di Belanda untuk disebarkan di nusantara," kata Cadria menjelaskan soal sejarah prangko tersebut saat Kompas.com berkunjung ke Museum Prangko TMII baru-baru ini.

Saat ini, prangko dengan kode nama N-1 ini cukup langka dan dicari oleh kolektor prangko alias filatelis.

Baca juga: Hobi Filateli: Menangguk Cuan Ratusan Juta Rupiah dari Prangko

Mengutip Kompas edisi 15 Oktober 2006, harga prangko pertama di Hindia Belanda ini semakin hari semakin tinggi karena jumlahnya yang makin langka.

Sekretaris Jenderal Persatuan Filatelis Indonesia (PFI) saat itu, Rijanto, mengatakan, prangko pertama di Hindia Belanda itu bisa dihargai hingga Rp 1,6 miliar. Harganya kini bisa jadi lebih mahal.

Bahkan, harga tersebut jauh lebih tinggi dari prangko pertama di dunia yang dikeluarkan di Inggris pada 6 Mei 1840, yang dikenal dengan nama Penny Black.

Halaman:


Video Rekomendasi

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wajib Tahu, 7 Pembatasan yang Dilakukan di Jakara untuk Tekan Covid-19

Wajib Tahu, 7 Pembatasan yang Dilakukan di Jakara untuk Tekan Covid-19

Megapolitan
Hari Ini, Vaksinasi Warga 18 Tahun ke Atas di Kota Bogor Dimulai

Hari Ini, Vaksinasi Warga 18 Tahun ke Atas di Kota Bogor Dimulai

Megapolitan
Prediksi 218.000 Kasus Aktif di Jakarta dan Desakan Pengetatan PSBB

Prediksi 218.000 Kasus Aktif di Jakarta dan Desakan Pengetatan PSBB

Megapolitan
27 Warga Warakas Terpapar Covid-19 Setelah Hadiri Pesta Pernikahan

27 Warga Warakas Terpapar Covid-19 Setelah Hadiri Pesta Pernikahan

Megapolitan
Tekan Penyebaran Covid-19 di Jakarta, Polri Sekat 10 Titik Jalan hingga Pembatasan Transportasi

Tekan Penyebaran Covid-19 di Jakarta, Polri Sekat 10 Titik Jalan hingga Pembatasan Transportasi

Megapolitan
Hindari Kerumunan, Posko PPDB di Disdik Dialihkan ke Posko Wilayah

Hindari Kerumunan, Posko PPDB di Disdik Dialihkan ke Posko Wilayah

Megapolitan
Tangsel Perketat PPKM Mikro: Resepsi Dilarang, RT/RW Diinstruksikan Lockdown Lokal

Tangsel Perketat PPKM Mikro: Resepsi Dilarang, RT/RW Diinstruksikan Lockdown Lokal

Megapolitan
Tertangkapnya Buronan Pencuri yang Tembak Korbannya dengan Airsoft Gun, Dikejar hingga Bogor

Tertangkapnya Buronan Pencuri yang Tembak Korbannya dengan Airsoft Gun, Dikejar hingga Bogor

Megapolitan
Alasan 22 Juni Ditetapkan sebagai Hari Jadi Jakarta

Alasan 22 Juni Ditetapkan sebagai Hari Jadi Jakarta

Megapolitan
Temuan Covid-19 Varian Delta, Satgas: Memang Warga Depok, Kerja di Karawang Belum Pulang 2 Bulan

Temuan Covid-19 Varian Delta, Satgas: Memang Warga Depok, Kerja di Karawang Belum Pulang 2 Bulan

Megapolitan
Dituding Lakukan Pelecehan Seksual, Rian D'MASIV Lapor ke Polda Metro

Dituding Lakukan Pelecehan Seksual, Rian D'MASIV Lapor ke Polda Metro

Megapolitan
UPDATE 21 Juni: 531 Pasien Covid-19 Masih Dirawat di Kota Tangerang

UPDATE 21 Juni: 531 Pasien Covid-19 Masih Dirawat di Kota Tangerang

Megapolitan
Kasus Covid-19 Melonjak Bikin PSBB Diperketat Lagi di Depok, Ini Daftar Aturannya

Kasus Covid-19 Melonjak Bikin PSBB Diperketat Lagi di Depok, Ini Daftar Aturannya

Megapolitan
Ulang Tahun Ke-494 Jakarta dan Kontroversi Para Gubernurnya

Ulang Tahun Ke-494 Jakarta dan Kontroversi Para Gubernurnya

Megapolitan
HUT DKI, Jakarta Kemungkinan Hujan Nanti Malam

HUT DKI, Jakarta Kemungkinan Hujan Nanti Malam

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X