Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KPAI Sebut Pelaku Pengeroyokan Pelajar Bisa Dipidana, Dengan Catatan..

Kompas.com - 29/06/2022, 18:45 WIB
Larissa Huda

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti berujar kekerasan berupa pengeroyokan fisik apalagi menimbulkan luka fisik pada anak korban adalah perrbuatan salah.

Menurut Retno, pelaku bisa dipidana dengan menggunakan Undang-undang Nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak (SPPA).

"Pada kasus ini, dikenal dengan istilah anak berhadapan dengan hukum (ABH)," ujar tutur Retno kepada Kompas.com, Rabu (29/6/2022).

Baca juga: Pengeroyokan di SMAN 70, KPAI: Sistem Pencegahan Kekerasan Sekolah Masih Lemah

Namun, Retno menjelaskan kesalahan anak tidak berdiri sendiri. Menurut dia, lingkungan tempat anak tumbuh termasuk di sekolah sangat mempengaruhi perilaku anak.

"Perbuatan yang dilakukan oleh seorang anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan anak diasuh atau di besarkan, baik pengasuhan di lingkungan keluarganya maupun lingkungan pergaulan anak," tutur Retno.

Walaupun seorang siswa terbukti melakukan kesalahan, termasuk tindak pidana, Retno berujar pelaku tetap harus diberi kesempatan memperbaiki diri dan dipenuhi hak-haknya.

Baca juga: Pengeroyokan di SMAN 70 Jakarta, Polisi Sebut Para Pelaku Aniaya Adik Kelas

Dalam UU Nomor 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA), Retni berujar hak-hak anak dijamin dalam UU tsb.

Mulai dari proses pemeriksaan harus didampingi keluarga dan psikolog atau pekerja sosial. Kemudian, untuk tuntutan hukuman pidana hanya separuh dari pidana orang dewasa.

"Hak anak untuk di rehabilitasi psikologi juga wajib dipenuhi termasuk hak pendidikan anak selama ditahan maupun saat menjalani hukuman pidananya nanti," tutur Retno.

Dalam UU SPPA, Retno berujar polisi juga wajib menawarkan diversi atau penyelesaian di luar pengadilan, jika pelaku dan korban sama-sama usia anak dan perbuatan pidana ini baru pertama kali dilakukan anak pelaku.

Baca juga: Polisi Terbitkan DPO Kasus Pengeroyokan di SMAN 70 Jakarta, Ini Ciri-ciri Pelaku

"Namun, jika korban dan keluarganya tidak bersedia maka diversi gagal dilaksanakan. Diversi juga tidak berlaku bagi tuntutan hukuman 7 tahun ke atas," kata Retno.

Baru-baru ini, polisi menangkap pemuda bernama Darma Altaf Alawdin alias Mantis yang sebelumnya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) kasus pengeroyokan di SMA Negeri 70 Jakarta.

Adapun pelaku mengeroyok adik kelas bersama kelima temannya yang lebih dahulu ditangkap anggota Polres Metro Jakarta Selatan.

Adapun motif pelaku bersama kelima rekannya mengeroyok adik kelas ini berkaitan dengan senioritas dalam perkumpulan antar pelajar di SMAN 70 Jakarta.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Hingga Pukul 18.30 WIB, Sudah 100.000 Pengunjung Masuk ke Ancol

Hingga Pukul 18.30 WIB, Sudah 100.000 Pengunjung Masuk ke Ancol

Megapolitan
Ancol Padat, Pengunjung Disarankan Pakai Transportasi Umum

Ancol Padat, Pengunjung Disarankan Pakai Transportasi Umum

Megapolitan
Saking Panjang Antrean, Seharian Cuma Bisa Main 4 Wahana di Dufan

Saking Panjang Antrean, Seharian Cuma Bisa Main 4 Wahana di Dufan

Megapolitan
Dufan Jadi Spot Primadona, Pengunjungnya Capai 10.000 Orang

Dufan Jadi Spot Primadona, Pengunjungnya Capai 10.000 Orang

Megapolitan
Ramai-ramai Piknik ke Ancol, Carter Angkot dari Jatinegara

Ramai-ramai Piknik ke Ancol, Carter Angkot dari Jatinegara

Megapolitan
Pilih Balik Saat H+3 Lebaran, Warga: Senin Masuk Kerja supaya Ada Waktu Istirahat

Pilih Balik Saat H+3 Lebaran, Warga: Senin Masuk Kerja supaya Ada Waktu Istirahat

Megapolitan
Libur Lebaran H+3, 60.700 Pengunjung Padati Ancol Siang Ini

Libur Lebaran H+3, 60.700 Pengunjung Padati Ancol Siang Ini

Megapolitan
KRL Commuter Line Anjlok di Depan WTC Mangga Dua, Penyebab Belum Diketahui

KRL Commuter Line Anjlok di Depan WTC Mangga Dua, Penyebab Belum Diketahui

Megapolitan
Antisipasi Arus Balik, Terminal Kampung Rambutan Siapkan Angkutan Malam

Antisipasi Arus Balik, Terminal Kampung Rambutan Siapkan Angkutan Malam

Megapolitan
Arus Balik Lebaran, 3.966 Penumpang Tiba di Terminal Kampung Rambutan pada Jumat

Arus Balik Lebaran, 3.966 Penumpang Tiba di Terminal Kampung Rambutan pada Jumat

Megapolitan
Puncak Arus Balik Mudik di Terminal Kampung Rambutan Diprediksi 14 April 2024

Puncak Arus Balik Mudik di Terminal Kampung Rambutan Diprediksi 14 April 2024

Megapolitan
RS Polri Berikan Pendampingan Psikologi terhadap Keluarga Korban Kecelakaan Gran Max di Tol Cikampek

RS Polri Berikan Pendampingan Psikologi terhadap Keluarga Korban Kecelakaan Gran Max di Tol Cikampek

Megapolitan
Rute Mikrotrans JAK89 Tanjung Priok-Taman Kota Intan

Rute Mikrotrans JAK89 Tanjung Priok-Taman Kota Intan

Megapolitan
Kronologi Pria yang Diduga Tewas Terkunci dalam Freezer Mobil Pengangkut Es Krim di Jakpus

Kronologi Pria yang Diduga Tewas Terkunci dalam Freezer Mobil Pengangkut Es Krim di Jakpus

Megapolitan
Paus Fransiskus Akan Berkunjung ke Tanah Air pada 3-6 September, Indonesia Jadi Negara Pertama

Paus Fransiskus Akan Berkunjung ke Tanah Air pada 3-6 September, Indonesia Jadi Negara Pertama

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com