Ahli: Jika Gunakan Kata "Merujuk", Ahok Jadikan Al Maidah Sumber Kebohongan - Kompas.com

Ahli: Jika Gunakan Kata "Merujuk", Ahok Jadikan Al Maidah Sumber Kebohongan

Kurnia Sari Aziza
Kompas.com - 21/03/2017, 12:12 WIB
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Suasana sidang dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Selasa (21/3/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Rahayu Surtiati, ahli bahasa dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, mengatakan terdakwa kasus dugaan penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, tidak menjadikan surat Al Maidah sebagai sumber kebohongan.

Rahayu menyatakan hal ini sekaligus untuk menjawab pertanyaan salah seorang tim penasehat hukum Ahok, mengenai banyaknya tafsiran yang menyebut Ahok menjadikan surat Al Maidah sebagai sumber kebohongan.

"Saya tidak sependapat, karena ada kata 'pakai' yang bisa diartikan menggunakan," kata Rahayu, dalam persidangan kasus dugaan penodaan agama, di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (21/3/2017).

Rahayu berpandangan, karena Ahok menggunakan kata "pakai", berarti surat Al Maidah sebagai sarana dan keterangan alat. Menurut Rahayu, tidak ada obyek dalam pernyataan Ahok yang diduga menodai agama saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu.

Rahayu mengatakan, hal ini berbeda jika Ahok menggunakan kata 'merujuk'. Dengan demikian, Ahok menjadikan Al Maidah sebagai sumber kebohongan.

"Seandainya pembicara menggunakan kata merujuk, berarti surat Al Maidah menjadi sumber (kebohongan)," kata Rahayu.

Kemudian, seorang anggota tim penasehat hukum Ahok mempertanyakan mengenai inti pidato Ahok saat di Kepulauan Seribu. Rahayu mengaku sudah menonton video Ahok secara utuh saat diperiksa oleh penyidik Bareskrim Mabes Polri.

"Intinya sebenarnya seperti yang dikatakan dalam analisis saya, yaitu program perikanan, pelaksanaan progran perikanan," kata Rahayu. (Baca: Ahli: Ucapan Ahok soal Al Maidah Berdasarkan Pengalaman Pribadi)

Selain Rahayu, ada dua saksi ahli yang dihadirkan tim penasehat hukum Ahok. Yakni KH Ahmad Ishomuddin, ahli agama Islam yang juga menjabat sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) DKI Jakarta, serta dosen dari Fakultas Syari'ah IAIN Raden Intan, Lampung.

Kemudian C. Djisman Samosir yang akan menjadi saksi ahli hukum pidana. Dia merupakan dosen dari Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Hingga pukul 11.35 WIB, persidangan masih berlangsung dengan mendengarkan keterangan dari Rahayu.

Kompas TV Seseorang yang mengaku sebagai pendamping pimpinan FPI Rizieq Shihab, protes kepada pihak kepolisian yang berjaga di Auditorium Kementerian Pertanian, yang menjadi lokasi sidang kasus penodaan agama yang tengah berlangsung. Polisi tidak memperbolehkan siapa pun masuk ke dalam ruangan sidang karena kuota 30 orang dari kubu kuasa hukum dan 30 orang dari kubu jaksa penuntut umum, sudah terpenuhi.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKurnia Sari Aziza
EditorFidel Ali
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM