Kompas.com - 10/07/2013, 13:52 WIB
Suasana pasar kuliner musiman yang menjajakan aneka makanan di kawasan Pasar Benhil, Jakarta, Minggu (7/8/2011). Pasar kuliner musiman setiap bulan Ramadhan tersebut ramai diserbu pembeli yang membutuhkan makanan untuk berbuka puasa. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Suasana pasar kuliner musiman yang menjajakan aneka makanan di kawasan Pasar Benhil, Jakarta, Minggu (7/8/2011). Pasar kuliner musiman setiap bulan Ramadhan tersebut ramai diserbu pembeli yang membutuhkan makanan untuk berbuka puasa.
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Munculnya pasar kaget dan menjamurnya pedagang kaki lima di Jakarta saat Ramadhan acap kali menggunakan jalan umum atau bahu jalan sebagai tempat menjajakan dagangan. Kondisi ini berpampak kemacetan arus lalu lintas karena sebagian jalan digunakan untuk jualan.

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, pihaknya perlu upaya penertiban dari Pemerintah Provinisi DKI Jakarta, yakni dengan memasukkan para pedagang ke dalam pasar.

"Kita harapkan peran serta dari kita semua dan tentunya Pemda (Pemprov DKI) perlu pembenahan yang mendasar, baik sifatnya yang memasukkan mereka ke pasar," kata Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Rabu (10/7/2013).

Rikwanto mengatakan, kewenangan mengenai itu ada di Pemda DKI Jakarta atau PD Pasar Jaya untuk mengatasi pedagang yang berjualan menggunakan bahu jalan. Sebab, perkembangan lalu lintas di Jakarta saat ini sudah sangat luar biasa dibandingkan dulu.

"Mungkin waktu buka pasar lalu ada pedagang kaki lima, itu waktu itu dianggap suatu perkembangan perekonomian. Situasi lalu lintas juga belum begitu menghambat. Sekarang lalu lintas di Jakarta sudah luar biasa perkembangannya," ujar Rikwanto.

Pasar kaget saat Ramadhan yang memanfaatkan bahu jalan antara lain terletak di Pasar Benhil dan Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Agar pedagang tidak berjualan hingga ke jalan, Rikwanto berharap Pemprov DKI menyediakan tempat khusus untuk mereka.

"Kalau mereka tumbuh di halaman masjid atau tempat tertentu, bukan masalah. Kalau mengambil jalan umum, ini yang jadi masalah. Seyogianya, pedagang kagetan ini bisa ditempatkan di halaman mal karena memang cukup luas, dan ini harus diorganisir agar bisa menampung agar ke depan tidak tumbuh begitu saja," ujar Rikwanto.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 25 Oktober: Tidak Ada Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang

UPDATE 25 Oktober: Tidak Ada Kasus Baru Covid-19 di Kota Tangerang

Megapolitan
Polisi Buru Kawanan Begal yang Tewaskan Pemuda di Cimanggis Depok

Polisi Buru Kawanan Begal yang Tewaskan Pemuda di Cimanggis Depok

Megapolitan
Ketika Pengendara di Jalan Fatmawati Sempat Kena Tilang meski Ganjil Genap Baru Sosialisasi

Ketika Pengendara di Jalan Fatmawati Sempat Kena Tilang meski Ganjil Genap Baru Sosialisasi

Megapolitan
WN Nigeria Tersangka Kasus Penipuan Modus Jual Black Dollar Mengaku Sudah 3 Tahun di Indonesia

WN Nigeria Tersangka Kasus Penipuan Modus Jual Black Dollar Mengaku Sudah 3 Tahun di Indonesia

Megapolitan
Saat Transjakarta dan LRT Jabodebek Alami Kecelakaan pada Hari yang Sama...

Saat Transjakarta dan LRT Jabodebek Alami Kecelakaan pada Hari yang Sama...

Megapolitan
UPDATE 25 Oktober: Tambah 3 Kasus Baru Covid-19 di Depok

UPDATE 25 Oktober: Tambah 3 Kasus Baru Covid-19 di Depok

Megapolitan
Penyegelan Ulang Masjid Ahmadiyah Depok Disertai Ujaran Kebencian Massa, Polisi Diminta Turun Tangan

Penyegelan Ulang Masjid Ahmadiyah Depok Disertai Ujaran Kebencian Massa, Polisi Diminta Turun Tangan

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG: Bogor, Bekasi, dan Depok Hujan hingga Malam

Prakiraan Cuaca BMKG: Bogor, Bekasi, dan Depok Hujan hingga Malam

Megapolitan
Polisi Gencar Gerebek Kantor Pinjol Ilegal, Para Debt Collector Kini Kerja di Kosan

Polisi Gencar Gerebek Kantor Pinjol Ilegal, Para Debt Collector Kini Kerja di Kosan

Megapolitan
Masih Sosialisasi, Polisi Mulai Tilang Pelanggar Ganjil Genap Mulai Kamis

Masih Sosialisasi, Polisi Mulai Tilang Pelanggar Ganjil Genap Mulai Kamis

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] LRT Jabodebek Tabrakan di Jakarta Timur | Dugaan Penyebab Kecelakaan 2 Transjakarta di Cawang

[POPULER JABODETABEK] LRT Jabodebek Tabrakan di Jakarta Timur | Dugaan Penyebab Kecelakaan 2 Transjakarta di Cawang

Megapolitan
Tukang Kebun Cabuli Anak Majikan Usia 6 Tahun di Kembangan

Tukang Kebun Cabuli Anak Majikan Usia 6 Tahun di Kembangan

Megapolitan
Pemkot Tangsel Klaim Belum Ada Kasus Covid-19 Selama Sekolah Tatap Muka

Pemkot Tangsel Klaim Belum Ada Kasus Covid-19 Selama Sekolah Tatap Muka

Megapolitan
UPDATE 25 Oktober: Tambah 6 Kasus Covid-19 di Tangsel, 98 Pasien Masih Dirawat

UPDATE 25 Oktober: Tambah 6 Kasus Covid-19 di Tangsel, 98 Pasien Masih Dirawat

Megapolitan
Penipuan Modus Jual Black Dollar, WN Nigeria Diduga Terlibat Jaringan Internasional

Penipuan Modus Jual Black Dollar, WN Nigeria Diduga Terlibat Jaringan Internasional

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.