Perjalanan Ahok, dari Pulau Timah ke Ibu Kota

Kompas.com - 23/02/2014, 06:09 WIB
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di rumahnya, Gantong, Belitung Timur, Minggu (15/9/2013). KOMPAS.com/KURNIA SARI AZIZAWakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di rumahnya, Gantong, Belitung Timur, Minggu (15/9/2013).
|
EditorErvan Hardoko


JAKARTA, KOMPAS.com
— "Suatu saat, anak saya ini akan jadi bupati," kata Indra Tjahaja Purnama, seorang pria keturunan Tionghoa di Desa Manggar, di pelosok Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Indra mengatakannya di hadapan sejumlah pejabat di daerah tersebut kira-kira 40 tahun lalu. Pada masa itu, cita-cita Indra tersebut seperti pungguk merindukan bulan. Sesuatu yang sulit dicapai pada masa itu karena dia merupakan warga negara minoritas.

Ketika itu, putra Indra bernama Basuki baru berusia lima tahun. Bocah kecil yang akrab disapa Ahok itu kemudian menempuh pendidikan SMA dan perguruan tinggi di Jakarta. Setelah lulus kuliah, Ahok kembali ke Manggar untuk menjadi pebisnis.

Di tengah perjalanan, Ahok memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Awalnya dia bergabung dengan sebuah partai politik sebelum menjadi wakil rakyat di DPRD Kabupaten Belitung Timur. Cita-cita Indra pun terwujud ketika Ahok terpilih menjadi Bupati Belitung Timur pada tahun 2005.

Laju karier Basuki Tjahaja Purnama seolah tidak terbendung. Meskipun sempat gagal ketika bertarung pada Pemilihan Gubernur Bangka Belitung, akhirnya Ahok menjadi wakil rakyat Belitung Timur di tingkat nasional. Ia terpilih sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Golkar. Tak lama kemudian, Ahok hijrah dari Gedung Parlemen RI dan mendampingi Joko Widodo (Jokowi) untuk memimpin DKI Jakarta.

"Ternyata harapan bapak saya ketika ngomong sama letkol-letkol itu jadi kenyataan. Abang saya benar jadi bupati," kata Basuri Tjahaja Purnama, adik Ahok, dalam perbincangan santai dengan Kompas.com, pertengahan Februari 2014.

Basuri yang kerap dipanggil Yuyu menceritakan, pelantikan Ahok menjadi bupati kala itu cukup menghebohkan. Selain karena pemilihan kepala daerah Kabupaten Belitung Timur adalah pemilihan langsung kepala daerah kedua di Indonesia, Ahok adalah bupati pertama dari etnis Tionghoa. Etnis ini berjumlah 30 persen dari populasi di "Pulau Timah" tersebut.

Saat memimpin Belitung Timur, Ahok membuat sejumlah gebrakan. Salah satunya, dia memusatkan kantor Pemerintah Kabupaten Belitung Timur. Dengan demikian, gedung rumah sakit umum daerah, kantor bupati, DPRD, dan instansi pemerintah berada dalam satu kawasan.

Selain itu, Ahok juga membangun jalan hotmix di perkampungan sehingga penyaluran logistik berjalan lancar. Yang paling diingat, Ahok adalah inisiator berobat gratis bagi warga.

"Abang saya itu orangnya keras, tegas, persis ayah saya. Dia itu berani mempertahankan hal yang dianggap benar," kata Yuyu.

Baru 19 bulan menjabat sebagai bupati, Ahok tidak puas. Dia menganggap kewenangannya sebagai bupati sangat terbatas, terutama dalam menerapkan kebijakan umum. Ia pun mengundurkan diri dari bupati dan mencalonkan diri jadi Gubernur Bangka Belitung.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi Sebut Pelajar yang Terlibat Demo UU Cipta Kerja di Jakarta Hari Ini Berkurang

Polisi Sebut Pelajar yang Terlibat Demo UU Cipta Kerja di Jakarta Hari Ini Berkurang

Megapolitan
Banyak Pedemo, Dua Pintu Stasiun MRT Bundaran HI Ditutup

Banyak Pedemo, Dua Pintu Stasiun MRT Bundaran HI Ditutup

Megapolitan
Kantor Imigrasi Tangerang Pindahkan Unit Layanan Paspor Wilayah Tangsel ke WTC Serpong

Kantor Imigrasi Tangerang Pindahkan Unit Layanan Paspor Wilayah Tangsel ke WTC Serpong

Megapolitan
Wagub DKI: Vaksin Covid-19 Diutamakan untuk Tenaga Kesehatan

Wagub DKI: Vaksin Covid-19 Diutamakan untuk Tenaga Kesehatan

Megapolitan
33 Pelajar Diamankan Saat Demo di Sekitar Istana, Kapolda Duga Kelompok Anarko

33 Pelajar Diamankan Saat Demo di Sekitar Istana, Kapolda Duga Kelompok Anarko

Megapolitan
Demonstran Tolak UU Cipta Kerja Tak Diizinkan Mendekat ke Istana

Demonstran Tolak UU Cipta Kerja Tak Diizinkan Mendekat ke Istana

Megapolitan
Kapolda Mengaku Bakal Mediasi Pedemo UU Cipta Kerja dengan KSP

Kapolda Mengaku Bakal Mediasi Pedemo UU Cipta Kerja dengan KSP

Megapolitan
PSBB ke-12 Selama Sebulan, Bagaimana Dampaknya pada Kasus Covid-19 di Kota Tangerang?

PSBB ke-12 Selama Sebulan, Bagaimana Dampaknya pada Kasus Covid-19 di Kota Tangerang?

Megapolitan
Massa Buruh dan Mahasiswa Demo Tolak UU Cipta Kerja di Patung Kuda

Massa Buruh dan Mahasiswa Demo Tolak UU Cipta Kerja di Patung Kuda

Megapolitan
BEM SI Ultimatum Presiden Jokowi untuk Terbitkan Perppu dalam 8x24 Jam

BEM SI Ultimatum Presiden Jokowi untuk Terbitkan Perppu dalam 8x24 Jam

Megapolitan
Cegah Demo Disusupi Kelompok Anarko, Pengamanan di Kawasan Mampang Diperketat

Cegah Demo Disusupi Kelompok Anarko, Pengamanan di Kawasan Mampang Diperketat

Megapolitan
Proyek Rumah DP Rp 0 di 4 Lokasi di Jakarta Tetap Berjalan Selama Pandemi Covid-19

Proyek Rumah DP Rp 0 di 4 Lokasi di Jakarta Tetap Berjalan Selama Pandemi Covid-19

Megapolitan
Unjuk Rasa Mahasiswa di Istana Bogor Diwarnai Aksi Bakar Ban

Unjuk Rasa Mahasiswa di Istana Bogor Diwarnai Aksi Bakar Ban

Megapolitan
Pemprov DKI Akan Bongkar Rumah di Bantaran Sungai, Apakah Sesuai dengan Janji Anies Saat Kampanye?

Pemprov DKI Akan Bongkar Rumah di Bantaran Sungai, Apakah Sesuai dengan Janji Anies Saat Kampanye?

Megapolitan
Mahasiswa Unjuk Rasa di Istana Bogor Jelang Kedatangan PM Jepang

Mahasiswa Unjuk Rasa di Istana Bogor Jelang Kedatangan PM Jepang

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X