Ahok Heran Warga Pilih "Gubuk Derita" ketimbang Rusun

Kompas.com - 10/06/2015, 11:30 WIB
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (tengah) bersama anak-anak dan ibu-ibu, di Rusunawa Tambora, Jakarta Barat, Selasa (24/2/2015). Kompas.com/Kurnia Sari AzizaGubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (tengah) bersama anak-anak dan ibu-ibu, di Rusunawa Tambora, Jakarta Barat, Selasa (24/2/2015).
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com
 — Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku heran dengan sikap sebagian warga permukiman kumuh yang enggan direlokasi ke rusunawa. Padahal, rusunawa yang disiapkan memiliki fasilitas penunjang yang nyaman dan layak huni.

Ahok, sapaan Basuki, menduga warga permukiman kumuh yang enggan direlokasi adalah orang-orang yang telah terprovokasi oleh ulah orang yang ia sebut sebagai "pengembang kelas PKL".

Menurut Ahok, pengembang kelas PKL adalah orang-orang yang selama ini mengambil untung dari kegiatan menyewakan petak-petak hunian di tanah milik pemerintah kepada warga miskin.

"Kalau kata bahasa Pak Jokowi, itu ada pengembang kelas PKL. Dia punya bangunan, terus dia jual, dia sewain. Ini yang suka ribut," kata Ahok di pembangunan depo MRT dan rusunawa di sekitar Stasiun Kampung Bandan, Rabu (10/6/2015).

Ahok mengatakan, pengembang kelas PKL memiliki banyak dana yang memungkinkan mereka bisa meraih dukungan saat pemerintah akan melakukan penertiban. Ahok menduga dukungan yang datang sering kali berasal dari oknum-oknum anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM) ataupun politisi.

"Dia ada duit, ada pemasukan, dan itu cukup lumayan. Bisa buat bayar oknum LSM. Terus ada juga parpol yang berpikir orang-orang ini lumayan ini suaranya bisa jadi DPRD nih gue nih," ujar Ahok.

Menurut Ahok, tindakan pengembang kelas PKL yang memprovokasi warga miskin agar tidak pindah ke rusunawa layak huni merupakan tindakan yang merugikan warga miskin itu sendiri. Padahal, warga miskin yang tinggal di permukiman kumuh hidup dalam ketidaknyamanan. Salah satunya adalah dibayangi ancaman kebakaran.

"Pemerintah itu kan kayak orangtua, tidak akan menyusahkan anaknya. Cuma ini kan kadang-kadang disuruh pindah enggak mau. Lebih suka di 'gubuk derita', padahal rawan kebakaran. Kalau kebakaran, pemadam susah masuk," ujar dia.

Selain itu, lanjut Ahok, keberadaan permukiman kumuh juga merusak pemandangan kota. Hal itu akan mendapat penilaian jelek dari orang asing yang berkunjung.

"Orang bule datang, itu kok masih banyak yang tinggal di gubuk derita. Yang ini di 'surga', yang itu di gubuk derita. Kan malu kita," kata Ahok.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi: Ada Saksi yang Sempat Bicara dengan Penembak Pengusaha di Kelapa Gading

Polisi: Ada Saksi yang Sempat Bicara dengan Penembak Pengusaha di Kelapa Gading

Megapolitan
Bocah 5 Tahun Terjepit di Antara Tiang dan Dinding Saat Main Petak Umpet

Bocah 5 Tahun Terjepit di Antara Tiang dan Dinding Saat Main Petak Umpet

Megapolitan
Urai Kepadatan di Tol Jakarta-Cikampek, Contraflow Diberlakukan di Km 47

Urai Kepadatan di Tol Jakarta-Cikampek, Contraflow Diberlakukan di Km 47

Megapolitan
Ini Sketsa Wajah 2 Pelaku Penembakan Pengusaha di Kelapa Gading

Ini Sketsa Wajah 2 Pelaku Penembakan Pengusaha di Kelapa Gading

Megapolitan
Mengenang Peristiwa Pembakaran Bekasi dari Tugu Perjuangan...

Mengenang Peristiwa Pembakaran Bekasi dari Tugu Perjuangan...

Megapolitan
Polisi Buat Sketsa Pembunuh Pengusaha di Kelapa Gading

Polisi Buat Sketsa Pembunuh Pengusaha di Kelapa Gading

Megapolitan
Tujuh Sumur Tua di Kranggan Resmi Dijadikan Cagar Budaya

Tujuh Sumur Tua di Kranggan Resmi Dijadikan Cagar Budaya

Megapolitan
UPDATE: Tambah 21, Kasus Covid-19 di Bekasi Capai 703

UPDATE: Tambah 21, Kasus Covid-19 di Bekasi Capai 703

Megapolitan
Pemkot Depok Pastikan Tempat Tidur Bagi Pasien Covid-19 Masih Tersedia

Pemkot Depok Pastikan Tempat Tidur Bagi Pasien Covid-19 Masih Tersedia

Megapolitan
Giant Margo City Belum Ditetapkan Jadi Klaster Covid-19, Ini Sebabnya

Giant Margo City Belum Ditetapkan Jadi Klaster Covid-19, Ini Sebabnya

Megapolitan
Pegawai Positif Covid-19, Giant Extra Margo City Ditutup Sementara

Pegawai Positif Covid-19, Giant Extra Margo City Ditutup Sementara

Megapolitan
Kerinduan Idris Si Manusia Patung, Kenang Ramainya HUT RI di Kota Tua Sebelum Pandemi...

Kerinduan Idris Si Manusia Patung, Kenang Ramainya HUT RI di Kota Tua Sebelum Pandemi...

Megapolitan
Simak, Ini Prakiraan Cuaca BMKG di Jabodetabek 15 Agustus 2020

Simak, Ini Prakiraan Cuaca BMKG di Jabodetabek 15 Agustus 2020

Megapolitan
UPDATE 14 Agutstus: Bertambah 11, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini Ada 678

UPDATE 14 Agutstus: Bertambah 11, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini Ada 678

Megapolitan
Selain Bom Molotov, Polisi Sita Bendera Anarko dari Gerombolan yang Ingin Susupi Demo di DPR

Selain Bom Molotov, Polisi Sita Bendera Anarko dari Gerombolan yang Ingin Susupi Demo di DPR

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X