Ada "Serba Pantang" di Imlek, Apa Kata Generasi Milenial Tionghoa?

Kompas.com - 27/01/2017, 17:57 WIB
Umat bersembahyang di Vihara Amurva Bhumi, Setiabudi, Jakarta, Minggu (7/2/2016). Sembahyang jelang tahun baru Imlek 2567 itu sebagai ungkapan syukur atas segala rejeki dan keselamatan dari Tuhan yang telah diberikan dan harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTOUmat bersembahyang di Vihara Amurva Bhumi, Setiabudi, Jakarta, Minggu (7/2/2016). Sembahyang jelang tahun baru Imlek 2567 itu sebagai ungkapan syukur atas segala rejeki dan keselamatan dari Tuhan yang telah diberikan dan harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.
|
EditorPalupi Annisa Auliani

Kebiasaan dan harapan

Dari semua deretan cerita tradisi di atas, tersemat segala harapan dan antisipasi untuk memastikan rezeki baik terwujud pada setahun menjelang.

Meski Vincy, Lady, dan Metta merupakan generasi milenial yang kesehariannya selalu berhubungan dengan teknologi terkini, mereka mengaku tetap mengikuti tradisi Imlek tanpa ada paksaan.

“Aku melakukan semua itu karena tradisi. Aku enggak keberatan juga melakukannya. Itu sudah menjadi kebiasaan, karena sudah dilakukan sedari kecil jadi melekat banget,” ujar Vincy.

Selain untuk melestarikan tradisi dan kebudayaan, perayaan Imlek juga kerap menjadi kesempatan bagi keluarga besar Tionghoa untuk berkumpul, sekalipun di antara mereka tak semuanya masih menganut ajaran Budha.

Cerita lebih lugas datang antara lain dari Deliusno, wartawan yang juga keturunan Tionghoa. Banyak hal dalam rangkaian perayaan Imlek tak lagi dia pahami latar belakang dan maksud keberadaannya.

"Kakek saya lahir masih di China daratan. Namun, saya menjalani banyak tradisi Imlek lebih karena terbiasa sejak kecil," aku Deliusno, Kamis (26/1/2017).

Meski begitu, lanjut Deliusno, semua pernak-pernik berupa keharusan dan larangan dalam tradisi tersebut sebenarnya menyimbolkan harapan baik untuk setahun ke depan.

Saat kecil, Deliusno mengaku pernah disuruh orangtuanya membaca komik yang menjelaskan segala tradisi orang Tionghoa. "Wah, susah juga ingat satu per satu. Semua ada maksudnya, kenapa begini kenapa begitu, ada pula kisah legenda di baliknya," tutur dia.

Shierine Wangsa Wibawa, juga wartawan dan keturunan Tionghoa, memberikan contoh soal kisah legenda itu terkait larangan memegang sapu.

Konon, tutur dia, dulu ada lelaki teramat sangat miskin. Suatu hari, dia bertemu dan akhirnya menikah dengan perempuan cantik yang ternyata adalah bidadari dari kahyangan. Setelah pernikahan itu, si lelaki dan keluarganya jadi kaya raya.

Namun, tepat pada suatu tahun baru, lelaki ini mengamuk dan memukul istrinya memakai sapu, sampai si istri kembali ke kahyangan. "Nah, si lelaki balik miskin lagi setelah itu. Kenapa sekarang jadi pantangan pegang sapu, biar ga sial di tahun yang baru," ujar Shierine.

Deliusno dan Shierine tak menampik, banyak hal terkait legenda dan pesan di balik tradisi Imlek sudah terasa samar. Namun, mereka berdua mengaku suasana Imlek setelah ditetapkan sebagai hari libur nasional sangat menyenangkan dan membekas.

"Dulu sebelum itu hanya dirayakan di rumah, seperti diam-diam. Sekarang semua meriah. Bisa berkumpul keluarga, dan segala rupa," ujar Deliusno.

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

1.200 Nasi 'Kotak Oranye' bagi Tenaga Medis di RSUP Persahabatan

1.200 Nasi "Kotak Oranye" bagi Tenaga Medis di RSUP Persahabatan

Megapolitan
Wali Kota Jakbar Usul 183 Warga yang Dikarantina di Masjid Jammi Dipindah ke Wisma Atlet

Wali Kota Jakbar Usul 183 Warga yang Dikarantina di Masjid Jammi Dipindah ke Wisma Atlet

Megapolitan
PNS Pemkot Bekasi Ada yang Positif Covid-19

PNS Pemkot Bekasi Ada yang Positif Covid-19

Megapolitan
Diperpanjang, Pelajar Jakarta Belajar dari Rumah hingga 19 April 2020

Diperpanjang, Pelajar Jakarta Belajar dari Rumah hingga 19 April 2020

Megapolitan
Pemkot Depok Siapkan RS UI hingga Ruang Sekolah untuk Tangani Kasus Covid-19

Pemkot Depok Siapkan RS UI hingga Ruang Sekolah untuk Tangani Kasus Covid-19

Megapolitan
Kasus Covid-19 Terus Meluas, Depok Kaji Opsi Karantina Wilayah

Kasus Covid-19 Terus Meluas, Depok Kaji Opsi Karantina Wilayah

Megapolitan
Depok Dapat 1.000 Alat Rapid Test Covid-19 dari Pemprov Jabar

Depok Dapat 1.000 Alat Rapid Test Covid-19 dari Pemprov Jabar

Megapolitan
Pemkot Depok Berencana Realokasi Anggaran untuk Penanganan Covid-19

Pemkot Depok Berencana Realokasi Anggaran untuk Penanganan Covid-19

Megapolitan
Anies Minta Warga Jakarta Tidak Pulang Kampung untuk Cegah Penyebaran Covid-19

Anies Minta Warga Jakarta Tidak Pulang Kampung untuk Cegah Penyebaran Covid-19

Megapolitan
Gelontorkan Rp 15 Miliar, Pemkot Depok Sebut Stok Masker Tenaga Medis Cukup untuk 3 Bulan

Gelontorkan Rp 15 Miliar, Pemkot Depok Sebut Stok Masker Tenaga Medis Cukup untuk 3 Bulan

Megapolitan
UPDATE Covid-19 di Depok 28 Maret: Tambahan 8 Kasus Positif dan 1 Meninggal

UPDATE Covid-19 di Depok 28 Maret: Tambahan 8 Kasus Positif dan 1 Meninggal

Megapolitan
Pemprov DKI Perpanjang Masa Tanggap Darurat Covid-19 sampai 19 April 2020

Pemprov DKI Perpanjang Masa Tanggap Darurat Covid-19 sampai 19 April 2020

Megapolitan
61 Tenaga Medis di Jakarta Terinfeksi Covid-19, Dirawat di 26 RS

61 Tenaga Medis di Jakarta Terinfeksi Covid-19, Dirawat di 26 RS

Megapolitan
Dr Tirta Ceritakan Menyedihkannya Kondisi Dokter yang Berjuang Lawan Covid-19

Dr Tirta Ceritakan Menyedihkannya Kondisi Dokter yang Berjuang Lawan Covid-19

Megapolitan
Data Kasus Covid-19 di 18 Kecamatan di Kabupaten Bekasi, Paling Banyak di Tambun Selatan

Data Kasus Covid-19 di 18 Kecamatan di Kabupaten Bekasi, Paling Banyak di Tambun Selatan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X