Kompas.com - 17/03/2017, 11:26 WIB
Calon wakil gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno saat memenuhi panggilan penyidik Polsek Metro Tanah Abang, Jumat (16/3/2017). Kompas.com/Akhdi Martin PratamaCalon wakil gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno saat memenuhi panggilan penyidik Polsek Metro Tanah Abang, Jumat (16/3/2017).
|
EditorFidel Ali

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Metro Tanah Abang Kompol Mustakim menjelaskan duduk perkara dalam kasus yang melibatkan calon wakil gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Dia menegaskan dalam perkara ini Sandiaga bukanlah pihak terlapor. Mustakim mengatakan, kasus ini melibatkan dua anggota komunitas "Jakarta Berlari" yang dipimpin oleh Sandiaga.

Kedua anggota Jakarta Berlari itu terlibat percekcokan mulut di kawasan Gelora Bung Karno Senayan pada 31 Oktober 2013. Merasa nama baiknya dicemarkan Dini Indrawati melaporkan anggota Jakarta Berlari lainnya bernama Eli ke Polsek Metro Tanah Abang pada 7 November 2013 lalu.

"Jadi gini. Dulu itu kan komunitas lari. Ada perseteruan gitu loh. Cewek sama cewek. 'Ngapain jangan gila lo'. Hanya kata-kata itu saja. Jangan gila lo. Laporannya pencemaran nama baik. Padahal dia kan enggak gila, dikatain gila," ujar Mustakim di Polsek Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (17/3/2017).

Mustakim menjelaskan, kejadian tersebut melibatkan lima sampai enam orang anggota Jakarta Berlari. Pihaknya memeriksa Sandiaga untuk mengetahui apakah dirinya berada di lokasi saat kejadian atau tidak. (Baca: Sandiaga Sebut Panggilan dari Polisi Bisa Dipolitisasi)

Namun, saat tadi diperiksa, Sandiaga mengaku tidak berada di lokasi dan tidak mengetahui kejadian tersebut.

"Dia (pelapor) menirukan salah satu omongan daripada salah satu saksi juga, mengatakan bahwa jangan pada gila lo, kan gitu. Artinya yang komunitas lari, sama sama lari. Jangan gila lo sama dia. Ditirukan lagi, jangan gila lo sama ini. Maksudnya jangan gila lo sama suami orang, gitu," ucap Mustakim.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia menampik bahwa kasus percekcokan mulut tersebut terjadi karena pihak yang bertikai memperebutkan Sandiaga. "Enggak ada (rebutan Sandiaga)," kata Mustakim.

Kompas TV Polda Metro Jaya Belum Periksa Sandiaga Uno
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Isi Inmendagri, PPKM Level 2 di Jakarta sampai 13 Desember

Isi Inmendagri, PPKM Level 2 di Jakarta sampai 13 Desember

Megapolitan
Mulai Hari Ini Jakarta Kembali Berstatus PPKM Level 2

Mulai Hari Ini Jakarta Kembali Berstatus PPKM Level 2

Megapolitan
Babak Baru Formula E di Jakarta: Politikus Jadi Panitia, KPK Diminta Ikut Awasi

Babak Baru Formula E di Jakarta: Politikus Jadi Panitia, KPK Diminta Ikut Awasi

Megapolitan
Sopir Mercy yang Lawan Arah di Tol JORR Idap Demensia, Bilang Hendak Kerja padahal Sudah Pensiun

Sopir Mercy yang Lawan Arah di Tol JORR Idap Demensia, Bilang Hendak Kerja padahal Sudah Pensiun

Megapolitan
Marak Kasus Pelecehan Seksual, Masih Layakkah Depok Sandang Status Kota Layak Anak?

Marak Kasus Pelecehan Seksual, Masih Layakkah Depok Sandang Status Kota Layak Anak?

Megapolitan
UPDATE 29 November: Tambah 41 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta

UPDATE 29 November: Tambah 41 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta

Megapolitan
Cerita Dua Korban Mafia Tanah, Empat Tahun Menanti Kasusnya Terungkap, Berharap Aset Kembali

Cerita Dua Korban Mafia Tanah, Empat Tahun Menanti Kasusnya Terungkap, Berharap Aset Kembali

Megapolitan
Ketika Anies Kembali Bergabung dalam Demo Buruh, Ikut Kritik UMP DKI dan Terpaksa Teken SK

Ketika Anies Kembali Bergabung dalam Demo Buruh, Ikut Kritik UMP DKI dan Terpaksa Teken SK

Megapolitan
Reuni 212 Batal di Jakarta, Wagub DKI: Keputusan yang Sangat Bijak

Reuni 212 Batal di Jakarta, Wagub DKI: Keputusan yang Sangat Bijak

Megapolitan
Prakiraan Cuaca BMKG: Sebagian Jakarta Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca BMKG: Sebagian Jakarta Hujan Ringan

Megapolitan
Polisi Tunggu Hasil Analisa Sampel Bangunan SMA 96 Jakarta yang Roboh

Polisi Tunggu Hasil Analisa Sampel Bangunan SMA 96 Jakarta yang Roboh

Megapolitan
Rumah Lawan Covid-19 Tangsel Bersiap Hadapi Gelombang Ketiga

Rumah Lawan Covid-19 Tangsel Bersiap Hadapi Gelombang Ketiga

Megapolitan
Bandar Narkoba yang Tabrak Polisi Ditangkap di Kendal

Bandar Narkoba yang Tabrak Polisi Ditangkap di Kendal

Megapolitan
Mobil Putar Arah Bikin Macet di Jalan Palmerah Utara, Sudinhub Jakbar Akan Tutup dengan Barrier

Mobil Putar Arah Bikin Macet di Jalan Palmerah Utara, Sudinhub Jakbar Akan Tutup dengan Barrier

Megapolitan
Klarifikasi Jakpro soal Penentuan Lokasi Sirkuit Formula E Jakarta

Klarifikasi Jakpro soal Penentuan Lokasi Sirkuit Formula E Jakarta

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.