Mekanisme Pemanfaatan Kembali Delman Tunggu Hasil Rapat SKPD

Kompas.com - 21/11/2017, 18:45 WIB
Sejumlah pengunjung memanfaatkan musim libur akhir tahun 2015 dengan menaikki delman sambil berkeliling Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada Kamis (24/12/2015) Dian Ardiahanni/Kompas.comSejumlah pengunjung memanfaatkan musim libur akhir tahun 2015 dengan menaikki delman sambil berkeliling Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada Kamis (24/12/2015)
|
EditorEgidius Patnistik

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) Monumen Nasional (Monas) Munjirin mengatakan, pihaknya masih belum menetapkan mekanisme pemanfaatan kembali delman di kawasan Monumen Nasional (Monas).

Munjirin menyebutkan, mekanisme serta aturan untuk kembali memanfaatkan delman sebagai daya tarik wisata di Monas akan dirapatkan bersama jajaran satuan kerja perangkat daerah (SKPD) DKI lainnya.

"Kami nunggu informasi dari provinsi katanya mau dirapatkan dan sebagainya. Nunggu kebijakan dan akan dirapatkan untuk memecahkan masalah ini," kata Munjirin saat ditemui Kompas.com di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (21/11/2017).

Baca juga : Delman Jadi Daya Tarik Wisata, Rencana Sandiaga yang Tuai Penolakan

Rapat tersebut, kata Munjirin juga akan membahas secara teknis berapa banyak delman yang akan dimanfaatkan, lokasi mangkal, hingga pengawasan kesehatan kuda di kawasan tersebut.

"Nanti kami akan bicarakan lebih lanjut bareng-bareng dengan SKPD lain. Nanti juga dibahas apakah pakai jalur luar atau dalam kota. Kita kihat saja, kita tunggu sampai hasil rapat," ujar Munjirin.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno ingin menghadirkan kembali wisata delman di Jakarta. Sandiaga ingin menata delman sehingga menjadi salah satu daya tarik wisata di Jakarta. Karena itu, dia berencana mengizinkan kembali delman beroperasi di kawasan Monas.

Baca juga : JAAN: Jakarta Tak Ramah Delman, Ada Kuda yang Tertabrak

"Kami ingin (delman) ditata dengan baik sebagai salah satu daya tarik wisata. Kalau di New York atau kota-kota besar, di Kansas City juga saya pernah lihat, justru delman ini dipercantik dan dijadikan sarana sebagai kemudahan para turis," kata Sandiaga di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (20/11/2017).

Rencana Sandi itu berbanding terbalik dengan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta semasa kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Kala itu, Ahok melarang delman beroperasi di Monas lantaran ditemukan banyak kuda yang menderita penyakit. Apabila dibiarkan, hal itu bisa membahayakan warga.

"Dari 30 ekor (kuda) lebih, 28 ekor (kuda) mengandung penyakit yang bisa mematikan manusia. Ya, takut dong saya karena ada virus," kata Ahok, medio Maret 2016.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5.532 Meter Jalan Rusak di Kota Tangerang Diperbaiki, Wali Kota: Semoga Menambah Kenyamanan

5.532 Meter Jalan Rusak di Kota Tangerang Diperbaiki, Wali Kota: Semoga Menambah Kenyamanan

Megapolitan
Cari Penjambret Kalung Emas 16 Gram di Pondok Cabe, Polisi: Motor Pelaku Tanpa Plat Nomor, Tak Ada Rekaman CCTV Lain

Cari Penjambret Kalung Emas 16 Gram di Pondok Cabe, Polisi: Motor Pelaku Tanpa Plat Nomor, Tak Ada Rekaman CCTV Lain

Megapolitan
Angka Positif Covid-19 di Kota Tangerang Turun, Wali Kota dan Dinkes Sama-sama Sebut karena PPKM Mikro

Angka Positif Covid-19 di Kota Tangerang Turun, Wali Kota dan Dinkes Sama-sama Sebut karena PPKM Mikro

Megapolitan
Video Aksinya Viral, Penjambret Handphone 4 Remaja Sudah Ditangkap Polisi

Video Aksinya Viral, Penjambret Handphone 4 Remaja Sudah Ditangkap Polisi

Megapolitan
Belajar dari Lokasi Penembakan di Cengkareng, Wagub DKI Ajak Warga Aktif Laporkan Pelanggaran Jam Operasional

Belajar dari Lokasi Penembakan di Cengkareng, Wagub DKI Ajak Warga Aktif Laporkan Pelanggaran Jam Operasional

Megapolitan
Kasatpol PP DKI: Kafe Brotherhood Berkamuflase Saat Beroperasi Melebihi Jam Operasional

Kasatpol PP DKI: Kafe Brotherhood Berkamuflase Saat Beroperasi Melebihi Jam Operasional

Megapolitan
Satpol PP DKI Tutup Sementara Kafe Brotherhood karena Langgar PSBB

Satpol PP DKI Tutup Sementara Kafe Brotherhood karena Langgar PSBB

Megapolitan
HeliCity, Layanan Taksi Helikopter Terbang Menuju Bandara Soekarno-Hatta atau Sebaliknya

HeliCity, Layanan Taksi Helikopter Terbang Menuju Bandara Soekarno-Hatta atau Sebaliknya

Megapolitan
2 Bantuan Biaya Kuliah Sedang Dibuka bagi Warga Jakarta, Ini Beda KIP dan KJMU

2 Bantuan Biaya Kuliah Sedang Dibuka bagi Warga Jakarta, Ini Beda KIP dan KJMU

Megapolitan
Pemprov DKI Buka Pendaftaran KJMU 2021, Ini Syarat dan Cara Daftar demi Bantuan Kuliah Rp 9 Juta

Pemprov DKI Buka Pendaftaran KJMU 2021, Ini Syarat dan Cara Daftar demi Bantuan Kuliah Rp 9 Juta

Megapolitan
Penjambretan Marak di Tangsel, Korbannya Bocah hingga Lansia

Penjambretan Marak di Tangsel, Korbannya Bocah hingga Lansia

Megapolitan
Terjaring Razia Protokol Kesehatan, Millen Cyrus Positif Konsumsi Benzo

Terjaring Razia Protokol Kesehatan, Millen Cyrus Positif Konsumsi Benzo

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Tunanetra Tabrak Truk di Trotoar | PSI Disebut Cari Panggung

[POPULER JABODETABEK] Tunanetra Tabrak Truk di Trotoar | PSI Disebut Cari Panggung

Megapolitan
Tiga Hari Vaksinasi Covid-19 untuk Wartawan...

Tiga Hari Vaksinasi Covid-19 untuk Wartawan...

Megapolitan
Mayat Mengambang di Kali Pesanggrahan Tanpa Identitas, Diperkirakan Berusia 45-50 Tahun

Mayat Mengambang di Kali Pesanggrahan Tanpa Identitas, Diperkirakan Berusia 45-50 Tahun

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X