Normalisasi Sungai Ciliwung Terhambat Pembebasan Lahan

Kompas.com - 15/11/2019, 13:29 WIB
Sungai Ciliwung yang berdampingan langsung dengab wilayah RT 06, RW 011, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (9/10/2019). KOMPAS.COM/DEAN PAHREVISungai Ciliwung yang berdampingan langsung dengab wilayah RT 06, RW 011, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (9/10/2019).
Penulis Dean Pahrevi
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Bambang Hidayah mengatakan, masalah pembebasan lahan menjadi hambatan menormalisasi Sungai Ciliwung.

Dari 2013 hingga 2017, baru 45 persen atau 16,38 kilometer Sungai Ciliwung yang sudah dinormalisasi.

Rencananya, total 33,69 kilometer Sungai Ciliwung di DKI Jakarta yang bakal dinormalisasi.

Pada 2018 dan 2019, normalisasi Sungai Ciliwung terpaksa terhenti karena masalah pembebasan lahan.

Baca juga: Normalisasi Sungai Ciliwung Baru 45 Persen

"Pembebasan lahan, masalah kita ini hambatannya pembebasan lahan dan itu dari Pemprov DKI Jakarta," kata Bambang di Kantor BBWSCC, Jakarta Timur, Jumat (15/11/2019).

Menurut Bambang, masyarakat DKI Jakarta yang tinggal di bantaran kali sangat sulit dan alot dalan negosiasi terkait pembebasan lahan.

Padahal, normalisasi Sungai Ciliwung sangat penting guna mengatasi permasalahan banjir di Jakarta.

"Warga Bukit Duri itu ada yang gugat minta ganti lahan Rp 25 juta per meter, bangunannya Rp 3 juta per meter. Jadi masalah kita memang pembebasan lahan. Padahal konsep normalisasi sungai itu kan membuat kapasitas sungai bisa menampung debit banjir dan mengalirkannya ke laut. Bahkan lahan yang sudah bebas pun kita kadang suka sulit merelokasi warga di bantaran," ujar Bambang.

Baca juga: DKI Tak Bebaskan Tanah Tahun Ini, Normalisasi Ciliwung Tak Bisa Dikerjakan pada 2021

Bambang menjelaskan, pada 2020, normalisasi Sungai Ciliwung akan kembali dilanjutkan. Kali ini lokasinya berada di wilayah Pejaten Timur.

"Hambatannya pembebasan lahan, tahun depan kita ada kegiatan normalisasi di Pejaten Timur itu 1,5 kilometer. Lahannya sudah bebas, sudah dibebaskan Pemprov DKI tahun 2018, kita kerjakan 2020," ujar Bambang.

Lantaran baru 45 persen aliran Sungai Ciliwung wilayah DKI Jakarta yang telah dinormalisasi, memasuki musim hujan tahun 2019, sebanyak 28 kelurahan berpotensi terendam banjir.

Sebelumnya, menurut data BBWSCC, ada sembilan aliran sungai yang dapat menyebabkan banjir di 129 kelurahan di wilayah DKI Jakarta.

Berikut Jumlah Daerah Potensi Rawan Banjir di DKI Jakarta :

1. Aliran Kali Angke : 6 Kelurahan

2. Aliran Kali Pesanggrahan : 21 Kelurahan

3. Aliran Kali Krukut : 12 Kelurahan

4. Aliran Kali Ciliwung : 28 Kelurahan

5. Aliran Kanal Banjir Barat : 10 Kelurahan

6. Aliran Kali Ciliwung Lama : 9 Kelurahan

7. Aliran Kali Sunter : 23 Kelurahan

8. Aliran Kali Cipinang : 12 Kelurahan

9. Aliran Kali Cengkareng Drain : 8 Kelurahan

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemkot Tangsel Berkeberatan dengan Wacana Pencabutan Subsidi Gas 3 Kg

Pemkot Tangsel Berkeberatan dengan Wacana Pencabutan Subsidi Gas 3 Kg

Megapolitan
Wakil Wali Kota Tangsel Harap Gaji Pegawai Honorer yang Jadi PPPK Ditanggung APBN

Wakil Wali Kota Tangsel Harap Gaji Pegawai Honorer yang Jadi PPPK Ditanggung APBN

Megapolitan
Simpan Sabu di Setang Motor, Pria Ini Diciduk Tim Rajawali di Jatinegara

Simpan Sabu di Setang Motor, Pria Ini Diciduk Tim Rajawali di Jatinegara

Megapolitan
Dirampok di Tengah Tol Tangerang-Merak, Sopir Truk Mengejar hingga Tabrak Mobil Pelaku

Dirampok di Tengah Tol Tangerang-Merak, Sopir Truk Mengejar hingga Tabrak Mobil Pelaku

Megapolitan
Santri yang Hanyut di Bogor Akhirnya Ditemukan di Sungai Cisadane Kota Tangerang

Santri yang Hanyut di Bogor Akhirnya Ditemukan di Sungai Cisadane Kota Tangerang

Megapolitan
Pilwalkot Depok, Bisakah PKS Maju Sendiri Tanpa Gerindra Cs?

Pilwalkot Depok, Bisakah PKS Maju Sendiri Tanpa Gerindra Cs?

Megapolitan
Mengupas Cerita di Balik Tradisi Membeli Ikan Bandeng Jelang Imlek

Mengupas Cerita di Balik Tradisi Membeli Ikan Bandeng Jelang Imlek

Megapolitan
 Suara Solidaritas Sosial dari Bintaro Design District

Suara Solidaritas Sosial dari Bintaro Design District

Megapolitan
Untuk Perbaikan Gizi, Petugas Damkar Tangsel Dapat Uang Lauk Pauk

Untuk Perbaikan Gizi, Petugas Damkar Tangsel Dapat Uang Lauk Pauk

Megapolitan
Puluhan Kafe Remang-remang di Lokalisasi Gang Royal Tak Berizin

Puluhan Kafe Remang-remang di Lokalisasi Gang Royal Tak Berizin

Megapolitan
Kafe Remang-remang di Lokalisasi Ilegal Royal Bisa Raup Rp 40 Juta Sehari

Kafe Remang-remang di Lokalisasi Ilegal Royal Bisa Raup Rp 40 Juta Sehari

Megapolitan
Menangkan Ahmad Riza Patria Jadi Wagub DKI, Gerindra Segera Lobi Fraksi-fraksi di DPRD

Menangkan Ahmad Riza Patria Jadi Wagub DKI, Gerindra Segera Lobi Fraksi-fraksi di DPRD

Megapolitan
Lokalisasi Gang Royal di Rawa Bebek Diperkirakan Sudah Berusia Setengah Abad

Lokalisasi Gang Royal di Rawa Bebek Diperkirakan Sudah Berusia Setengah Abad

Megapolitan
[BERITA FOTO] Menengok Persiapan Imlek di Hok Lay Kiong, Klenteng Terbesar di Kota Bekasi

[BERITA FOTO] Menengok Persiapan Imlek di Hok Lay Kiong, Klenteng Terbesar di Kota Bekasi

Megapolitan
Jelang Imlek, Kue Keranjang Paling Diburu di Jalan Suryakencana Bogor

Jelang Imlek, Kue Keranjang Paling Diburu di Jalan Suryakencana Bogor

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X