Pemerintah Diminta Lakukan 4 Cara Ini agar Banjir Bekasi Tak Berulang

Kompas.com - 14/01/2020, 18:31 WIB
Sejumlah guru dan murid SDN 05 beraktivitas saat banjir di daerah Pondok Ungu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (6/1/2020). Hari pertama sekolah terjadi banjir sejak pukul 05.00 pagi akibat luapan kali. ANTARA FOTO/FAKHRI HERMANSYAHSejumlah guru dan murid SDN 05 beraktivitas saat banjir di daerah Pondok Ungu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (6/1/2020). Hari pertama sekolah terjadi banjir sejak pukul 05.00 pagi akibat luapan kali.


BEKASI, KOMPAS.com - Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) melayangkan empat rekomendasi kepada pemerintah untuk mencegah bencana banjir 2020 yang melanda 73 persen wilayah Kota Bekasi agar tak terulang lagi.

Sebagai informasi, Sungai Cileungsi dan Cikeas merupakan induk Kali Bekasi. Pada Banjir Tahun Baru, Rabu (1/1/2020) lalu, luapan dua sungai ini membuat debit Kali Bekasi jauh di atas debit rata-rata hariannya.

Akibatnya, 26 perumahan di sekitar tiga aliran sungai itu jadi wilayah yang cukup parah terdampak banjir.

"Pertama, normalisasi sungai. Sungai semakin dangkal akibat tingginya sedimentasi. Normalisasi ini terakhir dilakukan tahun 1973," ujar Puarman, Ketua KP2C dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (14/1/2020).

Baca juga: Banjir Bekasi, Tim Damkar Temukan 60 Ular dan Seekor Buaya

"Kedua, tanggul di sejumlah perumahan terdampak banjir terindikasi rapuh sehingga perlu dilakukan pembangunan tanggul permanen," ia menambahkan.

Memang, hasil pemetaan Pemerintah Kota Bekasi, setidaknya 89 titik tanggul di aliran Kali Bekasi jebol dihantam derasnya arus sungai.

Rekomendasi ketiga, Puarman mengatakan, KP2C juga menyarankan agar pemerintah membangun pintu air di sekitar pertemuan Sungai Cileungsi dan Cikeas yang membentuk Kali Bekasi di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi.

Pembangunan pintu air ini penting agar kiriman banjir dari hulu di Kabupaten Bogor sempat dikendalikan terlebih dahulu sebelum menerjang Kota Bekasi.

"Keempat, perlu pembangunan waduk di hulu Sungai Cileungsi," sebut Puarman.

"Melimpahnya air hujan dari hulu sungai menjadi sebab utama banjir di kawasan hilir. Miliaran rupiah terkuras sia-sia akibat bencana itu. Untuk itu, waduk di hulu Sungai Cileungsi perlu dibangun sebagai penampung air hujan dari hulu," ia menjelaskan.

Baca juga: Relokasi Warga Pondok Gede Permai Bekasi Tunggu Instruksi Pemerintah Pusat

Pada banjir tahun 2020, KP2C mencatat ketinggian muka air di pos pemantau hulu Sungai Cileungsi mencapai 560 sentimeter, jauh di atas rata-rata harian yang tak sampai 100 sentimeter.

Meluapnya Sungai Cileungsi jadi sebab utama luapan Kali Bekasi, sebab sungai ini punya luas aliran sungai sekitar 26 ribu hektar, berbanding 11 ribu hektar Sungai Cikeas.

Puarman mengakhiri, empat rekomendasi KP2C untuk pencegahan banjir tadi sudah dirilis sejak 2 tahun lalu. Akan tetapi, hingga sebelum Banjir Tahun Baru 2020 melanda, belum ada tanda-tanda rekomendasi tersebut diseriusi pemerintah seluruhnya.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

1.200 Nasi 'Kotak Oranye' bagi Tenaga Medis di RSUP Persahabatan

1.200 Nasi "Kotak Oranye" bagi Tenaga Medis di RSUP Persahabatan

Megapolitan
Wali Kota Jakbar Usul 183 Warga yang Dikarantina di Masjid Jammi Dipindah ke Wisma Atlet

Wali Kota Jakbar Usul 183 Warga yang Dikarantina di Masjid Jammi Dipindah ke Wisma Atlet

Megapolitan
PNS Pemkot Bekasi Ada yang Positif Covid-19

PNS Pemkot Bekasi Ada yang Positif Covid-19

Megapolitan
Diperpanjang, Pelajar Jakarta Belajar dari Rumah hingga 19 April 2020

Diperpanjang, Pelajar Jakarta Belajar dari Rumah hingga 19 April 2020

Megapolitan
Pemkot Depok Siapkan RS UI hingga Ruang Sekolah untuk Tangani Kasus Covid-19

Pemkot Depok Siapkan RS UI hingga Ruang Sekolah untuk Tangani Kasus Covid-19

Megapolitan
Kasus Covid-19 Terus Meluas, Depok Kaji Opsi Karantina Wilayah

Kasus Covid-19 Terus Meluas, Depok Kaji Opsi Karantina Wilayah

Megapolitan
Depok Dapat 1.000 Alat Rapid Test Covid-19 dari Pemprov Jabar

Depok Dapat 1.000 Alat Rapid Test Covid-19 dari Pemprov Jabar

Megapolitan
Pemkot Depok Berencana Realokasi Anggaran untuk Penanganan Covid-19

Pemkot Depok Berencana Realokasi Anggaran untuk Penanganan Covid-19

Megapolitan
Anies Minta Warga Jakarta Tidak Pulang Kampung untuk Cegah Penyebaran Covid-19

Anies Minta Warga Jakarta Tidak Pulang Kampung untuk Cegah Penyebaran Covid-19

Megapolitan
Gelontorkan Rp 15 Miliar, Pemkot Depok Sebut Stok Masker Tenaga Medis Cukup untuk 3 Bulan

Gelontorkan Rp 15 Miliar, Pemkot Depok Sebut Stok Masker Tenaga Medis Cukup untuk 3 Bulan

Megapolitan
UPDATE Covid-19 di Depok 28 Maret: Tambahan 8 Kasus Positif dan 1 Meninggal

UPDATE Covid-19 di Depok 28 Maret: Tambahan 8 Kasus Positif dan 1 Meninggal

Megapolitan
Pemprov DKI Perpanjang Masa Tanggap Darurat Covid-19 sampai 19 April 2020

Pemprov DKI Perpanjang Masa Tanggap Darurat Covid-19 sampai 19 April 2020

Megapolitan
61 Tenaga Medis di Jakarta Terinfeksi Covid-19, Dirawat di 26 RS

61 Tenaga Medis di Jakarta Terinfeksi Covid-19, Dirawat di 26 RS

Megapolitan
Dr Tirta Ceritakan Menyedihkannya Kondisi Dokter yang Berjuang Lawan Covid-19

Dr Tirta Ceritakan Menyedihkannya Kondisi Dokter yang Berjuang Lawan Covid-19

Megapolitan
Data Kasus Covid-19 di 18 Kecamatan di Kabupaten Bekasi, Paling Banyak di Tambun Selatan

Data Kasus Covid-19 di 18 Kecamatan di Kabupaten Bekasi, Paling Banyak di Tambun Selatan

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X