2 Kali Jadi Klaster Covid-19, Pesantren di Depok Diminta Lebih Ketat Terapkan Protokol Kesehatan

Kompas.com - 16/11/2020, 19:07 WIB
Ilustrasi Covid-19 Shutterstock/PetovargaIlustrasi Covid-19

DEPOK, KOMPAS.com - Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok akan membahas lebih lanjut soal manajemen pondok pesantren di wilayah tersebut sehubungan dengan pandemi Covid-19.

Hingga kini, sudah dua pondok pesantren di Depok menjadi klaster Covid-19. Pertama, Pondok Pesantren Al Hikam di Kukusan, Beji, pada Agustus silam.

Kedua, Pondok Pesantren Baitul Hikmah di Curug, Bojongsari, baru-baru ini, dengan temuan lebih dari 150 kasus positif Covid-19.

"Ini sedang kami evaluasi dengan kejadian saat ini (klaster Ponpes Baitul Hikmah). Kami merencanakan rapat kordinasi manajemen pesantren," kata juru bicara satgas, Dadang Wihana, kepada wartawan pada Senin (16/11/2020).

"Ini sebagai pengalaman sebuah kasus karena pesantren di Depok cukup banyak yang menyelenggarakan proses belajar-mengajar," lanjutnya.

Baca juga: Ratusan Penghuni Positif Covid-19, Satgas Depok: Pesantren di Bojongsari Kami Lockdown

Dadang mengatakan, aktivitas belajar-mengajar di pondok pesantren memang diperbolehkan berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri (SKB 4 Menteri).

Namun, ia berharap, segala rincian protokol kesehatan dalam SKB 4 Menteri itu betul-betul diterapkan.

Selain itu, ia juga menyinggung beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam aktivitas pondok pesantren guna menekan peluang penularan Covid-19.

"Ustaz atau pengajar dari luar itu melakukan pengajaran daring saja, tidak tatap muka langsung, karena khawatir menjadi carrier dan akan menularkan kepada santri-santri yang ada di dalam," ungkap Dadang.

Baca juga: Hasil Swab Lanjutan di Pesantren Baitul Hikmah Depok, 106 Penghuni Positif Covid-19

"Kemungkinan terjadi penularan itu bersumber dari carrier yang berawal dari luar dengan kultur, kalau di beberapa pesantren mohon maaf etika itu sangat kental, misalnya cium tangan. Jadi bukan kami melarang, tapi dalam kondisi Covid-19, hal-hal itu, kontak langsung, dihindari," jelasnya.

Kedua, yakni menggalakkan pemakaian masker. Pondok pesantren mesti tersosialisasi dengan pemahaman bahwa masker menjadi kewajiban sekaligus kebutuhan pada saat ini.

"Jadi jangan lengah, karena disinyalir ada banyak santri yang tidak menggunakan masker sehingga penularan cepat terjadi," kata Dadang.

"Ini bukan hanya untuk yang terjadi saat ini, melainkan kepada pesantren-pesantren yang menyelenggarakan pendidikan saat ini, protokol kesehatan wajib diikuti sesuai SKB 4 Menteri. Di situ sudah rinci apa yang harus dilakukan," tuturnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasatpol PP DKI: Kafe Brotherhood Berkamuflase Saat Beroperasi Melebihi Jam Operasional

Kasatpol PP DKI: Kafe Brotherhood Berkamuflase Saat Beroperasi Melebihi Jam Operasional

Megapolitan
Satpol PP DKI Tutup Sementara Kafe Brotherhood karena Langgar PSBB

Satpol PP DKI Tutup Sementara Kafe Brotherhood karena Langgar PSBB

Megapolitan
HeliCity, Layanan Taksi Helikopter Terbang Menuju Bandara Soekarno-Hatta atau Sebaliknya

HeliCity, Layanan Taksi Helikopter Terbang Menuju Bandara Soekarno-Hatta atau Sebaliknya

Megapolitan
2 Bantuan Biaya Kuliah Sedang Dibuka bagi Warga Jakarta, Ini Beda KIP dan KJMU

2 Bantuan Biaya Kuliah Sedang Dibuka bagi Warga Jakarta, Ini Beda KIP dan KJMU

Megapolitan
Pemprov DKI Buka Pendaftaran KJMU 2021, Ini Syarat dan Cara Daftar demi Bantuan Kuliah Rp 9 Juta

Pemprov DKI Buka Pendaftaran KJMU 2021, Ini Syarat dan Cara Daftar demi Bantuan Kuliah Rp 9 Juta

Megapolitan
Penjambretan Marak di Tangsel, Korbannya Bocah hingga Lansia

Penjambretan Marak di Tangsel, Korbannya Bocah hingga Lansia

Megapolitan
Terjaring Razia Protokol Kesehatan, Millen Cyrus Positif Konsumsi Benzo

Terjaring Razia Protokol Kesehatan, Millen Cyrus Positif Konsumsi Benzo

Megapolitan
[POPULER JABODETABEK] Tunanetra Tabrak Truk di Trotoar | PSI Disebut Cari Panggung

[POPULER JABODETABEK] Tunanetra Tabrak Truk di Trotoar | PSI Disebut Cari Panggung

Megapolitan
Tiga Hari Vaksinasi Covid-19 untuk Wartawan...

Tiga Hari Vaksinasi Covid-19 untuk Wartawan...

Megapolitan
Mayat Mengambang di Kali Pesanggrahan Tanpa Identitas, Diperkirakan Berusia 45-50 Tahun

Mayat Mengambang di Kali Pesanggrahan Tanpa Identitas, Diperkirakan Berusia 45-50 Tahun

Megapolitan
Polda Metro Klaim Kampung Tangguh di Paseban Mampu Tekan Penyebaran Covid-19

Polda Metro Klaim Kampung Tangguh di Paseban Mampu Tekan Penyebaran Covid-19

Megapolitan
Ibu 60 Tahun yang Kalung Emasnya Dijambret Alami Luka di Leher

Ibu 60 Tahun yang Kalung Emasnya Dijambret Alami Luka di Leher

Megapolitan
Jakarta Catat 1.737 Kasus Baru Covid-19, Positivity Rate Hampir 14 Persen

Jakarta Catat 1.737 Kasus Baru Covid-19, Positivity Rate Hampir 14 Persen

Megapolitan
UPDATE 27 Februari: Depok Catat 233 Kasus Baru Covid-19, 4 Pasien Meninggal

UPDATE 27 Februari: Depok Catat 233 Kasus Baru Covid-19, 4 Pasien Meninggal

Megapolitan
Viral Video Kalung Emas Ibu 60 Tahun Dijambret di Tangsel

Viral Video Kalung Emas Ibu 60 Tahun Dijambret di Tangsel

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X